Tag Archives: Jateng Gayeng

Mencintai Kembali Kota Kelahiran, Banjarnegara

Sang fajar pembawa harapan itu kini kembali lagi membawa kabar gembira bagi seluruh umat manusia di bumi. Begitu pula kabar gembira saat fajar mulai menampakan dirinya itu menghinggapi sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh kebun dan juga rimbunnya tanaman bambu yang suara gesekan daunnya saat terkena hembusan angin seakan mengingatkan penghuni rumah untuk terus terjaga.

Pada sebuah desa kecil di ujung kabupaten Banjarnegara, tanggal 18 juni pagi, di dusun Krajan lahirlah sesosok bayi laki-laki mungil yang masih merah diiringi suara tangisan yang memekakan telinga namun disambut tangis haru bahagia oleh segenap anggota keluarga. Hanya ada dua rumah yang saling berdekatan saat itu, sisanya berjarak lumayan jauh dari tempat tinggal keluarga ini. Ya itulah saya sendiri, Hendi Setiyanto-sosok bayi laki-laki mungil yang menambah jumlah anggota keluarga bapak dan ibu. Terlahir sebagai anak laki-laki ke dua dengan jarak enam tahun dari kakak laki-laki pertama.

Tak ada yang lebih membahagiakan selain kehadiran sesosok anak manusia yang sudah dinanti-nanti selama sembilan bulan di dalam kandungan seorang ibu. Sebagai anak laki-laki, saya pun tumbuh dan berkembang seperti anak laki-laki kebanyakan. Bermain air, lumpur, menangkap ikan di aliran sungai-sungai kecil (kalen), berburu burung, merumput untuk kelinci, hingga menggembalakan kambing Gibas (sejenis domba) ke tengah-tengah lapangan. Sungguh masa-masa kecil yang pada jaman sekarang ini mungkin akan sulit ditemui. Continue reading

Goa Lawa di Kaki Gunung Slamet

Jalan penghubung dua kabupaten yang saling bertetangga ini sudah setengah perjalanan kami lewati. Sudah tidak terhitung berapa banyak ranjau-ranjau darat yang kami lewati hingga selamat sampai setengah perjalanan. Namun selincah-lincahnya tupai meloncat, suatu waktu pasti pernah terjatuh, begitu pun dengan motor yang kami kendarai yang tiba-tiba oleng karena ban motor bagian belakang tiba-tiba meletus. Syukurlah, kami masih diberi keselametan seperti sosok Gunung Slamet yang jaraknya kian mendekat dari posisi kami saat ini.

Setelah urusan ban pecah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota Purbalingga-Perwira yang jaraknya kian mendekat. Perbaikan jalan hampir kami temui di sepanjang jalan yang kami lewati. Kami harus ekstra sabar dan legowo untuk satu persatu antri melewati jalan yang hanya dibuka satu lajur ini. Continue reading