Memaknai Bertambahnya Bilangan Tahun Dengan Cara Berbagi

Tepat berpuluh tahun yang lalu, sebuah keluarga kecil dengan satu orang anak laki-laki berharap pada Tuhan. Mereka menginginkan kembali sosok mungil hadir di dunia.

Ia sungguh diharap-harap dalam doa dan peluh yang mengiringinya. Kata mereka, janin yang dikandung kali ini sedikit berbeda. Ia sering memberontak ketika diajak beraktivitas. Pun saat mendekati persalinan. Ia sedikit rewel sehingga secara tidak langsung menyusahkan si Ibu.

Syukurlah, setelah semua perjuangan tadi, lahirlah sosok mungil anak laki-laki kedua di keluarga ini. Pekikan tangis yang menggema pada sebuah bilik bambu kamar sederhana, lantai yang terbuat dari tanah serta langit-langit kamar yang penuh dengan comong debu.

Anehnya, saat sang bayi menangis kencang, seluruh anggota keluarga bahagia penuh haru. Ya itulah saya, sosok bayi mungil yang menangis tadi dan katanya rewel saat di kandungan maupun ketika akan mbrojol.

Saya terkadang berpikir, apakah takdir ini memang sudah disematkan kepada tubuh ini? Semoga saja jerih payah kedua orang tua membesarkan dengan penuh kesusahan bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal dari Tuhan.

Saya percaya, hingga sekarang ini, Tuhan pasti punya alasan kenapa saya dilahirkan. Memang saya belum menjadi orang yang berguna hingga detik ini, pun belum bisa memberikan harapan yang selalu didoakan Ibu setiap malam dan setiap sujudnya.

Ada kalanya, saya merasa begitu rendah dalam hidup. Kemudian melihat sekeliling dan tiba-tiba menjadi semakin sedih. Tapi di sisi lain, begitu banyak orang-orang yang menaruh perhatian lebih dengan diri ini. Katanya saya punya potensi besar, kreatif, cerdas dan berbagai pujian lainnya.

Kemudian setiap bulan Juni tiba, hidup seakan diputar ulang. Sebuah peringatan akan kelahiran dan sebuah doa suci dari orang tua pada bayi mungilnya. Anakmu ini memang jauh dari kata anak yang berbakti dan harapan seperti anak-anak yang lain namun yakinlah, saya masih punya sisi baik dalam hidup yang mungkin saja tak dimiliki oleh anak lain.

Bagi saya, semakin bertambahnya usia, sebuah peringatan harus dimaknai lebih. Memang sudah menjadi tradisi bahwa tidak ada perayaan apapun selama puluhan tahun ini setiap bulan Juni namun saya mulai mengapresiasi diri dengan cara yang positif.

Tidak ada cara terbaik ketika ingin mendapatkan sebuah kebaikan selain kita melakukannya dengan cara berbagi. Seperti kali ini, saya dengan gembira menempuh perjalanan menuju kota untuk mendonorkan darah. Sebuah hal sederhana yang bisa saya buat saat ini. Semoga sekantong darah yang saya berikan bisa menyelamatkan nyawa berharga di luar sana, aamiin.

Cukup lengang siang itu di Kantor PMI Banjarnegara. Hanya ada seorang petugas perempuan yang tengah hamil tua yang dengan berjalan terseok-seok menyambut saya.

Ada hal yang menarik saat tangan saya tiba-tiba kesemutan dan menjadi kaku yang tak disangkan membuat kaget si petugas tadi. Dikiranya saya menderita kejang padahal memang kalau terlalu gugup dan dalam posisi yang sama dalam waktu lama, anggota tubuh biasanya mengalami kesemutan.

Selepas mendonorkan darah, seperti biasa, sepaket susu, biskuit dan jus disediakan oleh petugas. Bahagia memang kadang sesederhana itu, plong rasanya seusainya.

Setelahnya, saya melipir ke toko pakan binatang khususnya kucing. Niatnya ingin memberikan kado sederhana untuk si meong kecil yang malang di rumah. Kucing yang tak sengaja terpisah dari indukannya dan kini diadopsi oleh keluarga kami. Bulunya sedikit kusut dengan warna pirang atau kami menyebutnya kembang duren.

Kata Ibu, ia jadi teringat masa kecilnya ketika terpisah dengan orang tua kandungnya dan harus ikut saudaranya jauh di luar kota. Kucing tadi seakan sebagai pengingat kisah hidupnya yang susah.

Tiga bungkus makanan kucing sudah di tangan saatnya dilanjutkan untuk mengisi perut sendiri.

Rumah Makan Padang menjadi pelipur lapar. Sepiring nasi yang disiram kuah, cabe hijau, sayur daun singkong, ayam goreng dan perkedel menjadi sajian wajib ketika mampir ke warung makan ini.

Ya, merayakan bilangan tahun sesederhana tadi. Menyenangkan diri sendiri dengan cara sederhana dan juga membantu orang lain yang memerlukan.

Semoga saja, kebiasaan tadi terus berlanjut sehingga darah di tubuh ini bisa membantu lebih banyak orang di luar sana, aamiin.

6 thoughts on “Memaknai Bertambahnya Bilangan Tahun Dengan Cara Berbagi

  1. Fanny F Nila

    samaa toh kita, lahir di bulan juni :). Akupun lbh seneng kalo ultah itu ga gembor2, ga pesta. aku tipe yg ga terlalu suka keramaian juga.. mnding rayain ama keluarga ato temen deket. dan beliin temen2 di kantor makan siang. udh cukup :D.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah Juni juga ya? iya aku juga begitu, kemarin ntraktir makan siang teman seruangan tapi juga pada ga ngeh juga sih kalau lagi ultah emang ga pernah cerita2 juga. pernah juga cuma ngerayain dengan beli es krim ukuran besar dan dimakan sampai puas hehehe

      Reply
  2. aryantowijaya

    Mas Hendi, selamat ulang tahun ya šŸ™‚
    Ulang tahun kita beda sebulan aja hehehe.

    Semoga kebaikan-kebaikan yang dilakukan boleh bertumbuh dan menyebar :))

    Reply

Leave a Reply