Jangan Terlalu Sensitif!

Momen Ramadan dan Hari Raya Idulfitri seakan menjadi ajang yang tepat untuk menjalin kembali silaturahmi baik antara saudara, teman maupun kawan lama.

Selain bertatap muka langsung, hal yang tak bisa kita hindari adalah mengobrol. Memang untuk orang-orang tertentu dengan alasan yang mungkin hanya mereka saja ketahui akan sangat sulit untuk memulai obrolan. Kita tidak akan bisa menghindar dari pertanyaan-pertanyaan untuk memulai sebuah obrolan.

Apa kabar? Sekarang kerja di mana? Sudah punya berapa anak? Sudah menikah? Bukan…bukan, saya tidak bermaksud untuk ikutan tren yang terus berulang setiap tahunnya ini.

Bukan juga bermaksud untuk menyinggung orang-orang yang punya alasan tertentu dengan ketidaknyamanannya dengan pertanyaan tadi. Saya hanya ingin berbagi, bahwa aku, kamu, kita semuanya akan mengalami masa atau momen seperti tadi. Menghindar, marah? Itu bukan sebuah solusi yang bijak.

Sore ini, selepas berbuka puasa tiba-tiba pintu rumah terdengar ketukan dari luar. Siapa gerangan yang jam segini bertandang untuk bertamu? Setelah saya membuka pintu ternyata itu adalah sosok teman sebangku waktu zaman sekolah dasar dulu.

Antara kaget dan kikuk pun menjadi satu. Tentu saja saya persilakan masuk dan dalam hati pun sudah siap dengan pertanyaan-pertanyaan.

Yang saya takutkan pun terjadi, pertanyaan tentang kabar dan rombongannya. Marah, tersinggung? Awalnya akan memilih untuk itu namun setelah dipikir kembali rasanya tidak bijak. Saya pun menanggapinya dengan senyuman dan gurauan yang garing. Toh ini bukan momen ketika kamu sedang diinterogasi oleh jaksa maupun hakim dalam sebuah pengadilan.

Makin lama mengobrol kami pun akhirnya bisa cair juga dan sudah tidak kikuk. Ya memang terkadang kita itu mudah terpengaruh akan postingan ataupun pengalaman tertentu dari orang-orang akan sesuatu. Padahal belum tentu lho itu menyakitkan banget ataupun membuat tersinggung, tergantung bagaimana kita menanggapinya mau dibawa serius banget, selow ataupun mbudeg sekalian.

Saya termasuk orang yang minderan, tidak pandai bersosialisasi dan bukan menjadi orang yang sukses tapi kemudian pikiran-pikiran tadi ditelaah kembali. Apa iya saya akan terus murung dan menutup diri serta menjadi orang yang sensian? Tentu tidak, walaupun itu bukanlah sebuah perkara yang mudah terutama mengubah sifat tapi boleh dong ingin mengubahnya.

Kembali lagi, semuanya kembali pada kita. Orang-orang akan selalu merasa kepo atau punya rasa ingin tahu tentang orang lain. Memang beberapa hal atau momen itu sangat tidak membuat nyaman sekali tapi ya sudahlah.

Tidak mudah memang mengendalikan diri apalagi ketika kita dihadapkan pada perbandingan. “Saya sudah sekian lamanya kok belum seperti mereka ya?” saya yakin pertanyaan-pertanyaan tadi ada di setiap benak orang ketika bertemu entah dengan kawan lama maupun saudara yang kehidupannya sudah berbeda apalagi kita bercermin dengan diri sendiri.

Sekilas membandingkan boleh tapi tetap kembali lagi kepada diri sendiri. Pikirkan kembali apa yang membuatmu nyaman, bahagia?

Ini adalah sekedar nasehat untuk saya sendiri yang terkadang masih menjadi orang yang terlalu sensitif dalam segala hal dan kemudian berpikir kembali bahwa ini tidak boleh dipelihara lama-lama.

Yakinlah pada setiap lontaran pertanyaan-pertanyaan tadi, ada niat tulus memang ingin tahu kabar, mungkin caranya saja yang terkadang membuat momen menjadi kikuk. Apalagi kebiasaan basa-basi itu memang kadang bikin basi juga.

Ya mau bagaimana lagi, kita makhluk sosial yang mau tidak mau harus bergaul dengan orang dengan latar belakang yang beragam.

Jadi saya menjadi orang yang terlalu sensitif? Semoga saja ke depannya tidak!

11 thoughts on “Jangan Terlalu Sensitif!

  1. Avant Garde

    haha, fb twitter jarang buka, paling buka ig sm wa haha.. aku lebih suka kalo komen di blog, agak lebih tertutup, kalo di ig kan lebih terbuka

    Reply
  2. Ikhwan

    Kunci bahagia salah satunya kayanya emang berhenti membandingkan diri dengan orang lain ya, hehe. Kalau soal pertanyaan-pertanyaan wajib tadi, mungkin bisa jadi memang kitanya yang kadang oversensitive ya. Jangan-jangan yang bertanya ga ada niat menghakimi dan murni pengen tau kabar kita aja. 😀

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      ya bener banget yang poin pertama, seharusnya memang membandingkan diri sendiri dari waktu ke waktu apakah semakin baik atau sebaliknya. Kalau yang point dua sih, memang kadang sekilas sebal dengan pertanyaan tadi tapi setelah kita pikir lagi, barangkali memang banyak yang ingin mendoakan atau benar2 ingin tahu kabar kini. hehehe

      Reply
  3. Fanny F Nila

    aku biasanya emang sebel ama pertanyaan2 pribadi kayak nikah, punya anak, nambah ank, ato kerjaan . tapi aku jg liat dulu siapa yg bertanya. kalo temen lama yg udh lamaaa g ketemu, aku msh bisa ngerti. toh dia pgn tau aja berarti. tp kalo yg nanya sodara ato temen yg sbnrnya kenal aku banget, follow sosmedku , rada sebeeelll. kan hrsnya udh tau, ngapain nanya wkwkwkwkkw.. yg kayak ini nih, aku suka jutek. 😀 kecuali moodku lg bagus, yo wislaaahhh, dijawab sambil becanda

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya memang ada 2 tipe orang yang begitu, kalau teman lama mungkin wajar lah tapi ada juga saudara yang sering ketemu tapi ya sifatnya begitu, suka menggurui dan membanding2kan kesuksesan anaknya dan itu nggak banget sih

      Reply

Leave a Reply