Sejarah Kenikmatan Nasi Padang

“Sejak kapan kamu jadi penikmat kuliner Nasi Padang, Hend?” tanya Ibu heran ketika melihat 2 bungkus Nasi Padang teronggok di atas meja makan selepas saya pulang dari Kota Banjarnegara.

“Entah mengapa beberapa hari ini, aku lagi ngidam banget dengan Nasi Padang, Bu, apalagi belinya yang dibungkus, beuuhhh benar-benar bikin ngiler dan nggak sabaran ingin memakannya”

Benar saja, saat dibuka bungkusnya, aroma bumbu rempah khas menyeruak memenuhi seisi ruang makan yang tidak terlalu lebar ini. Butiran nasi pulen yang terlihat basah dan berwarna kekuningan karena siraman kuah rendang, daun singkong rebus yang tercampur sambal ijo dan tak lupa sepotong rendang dan perkedel kentang seakan sudah menggoda untuk segera dinikmati.

nasi padang, source: id.wikipedia.org

nasi padang, source: id.wikipedia.org

Kalau boleh kilas balik beberapa tahun yang lalu, saya termasuk orang yang kurang suka dengan cita rasa kuliner Minang lebih khusus dengan Nasi Padangnya. Sebagai seorang yang dibesarkan oleh adat dan kebiasaan masyarakat Jawa yang dominan masakannya bercitarasa manis, saat itu terasa aneh saja saat mencicipi rasa Nasi Padang yang kuat dengan aroma rempah dan sedikit asin namun benar-benar tidak manis sama sekali. Namun siapa sangka, hal yang awalnya kamu tidak sukai, suatu saat bisa menjadi hal yang justru engkau kangeni.

hidangan nasi padang, source: commons.wikimedia.org

hidangan nasi padang, source: commons.wikimedia.org

Semuanya berawal dari kebiasaan Kakak yang setiap pulang kerja selalu membawa beberapa bungkus Nasi Padang untuk adik-adiknya. Dari kebiasaan tadi secara tidak langsung membuat saya menjadi mengenal apa itu Nasi Padang dan lama-kelamaan mulai jatuh hati padanya.

Siapa yang tidak mengenal Nasi Padang? Hampir dipastikan banyak orang yang mengenal cita rasa aroma rempah dan berbagai macam sajian berkuah santan serta kenikmatan sepotong Daging Rendang yang sudah sangat melegenda. Bahkan beberapa waktu yang lalu, salah satu situs jaringan berita asal Amerika mentasbihkan, Rendang Indonesia sebagai salah satu makanan favorit nomor 1 di dunia.

Sekilas Mengenal Suku Minangkabau dan Tradisi Merantaunya

Sebelum mengenal lebih dekat proses pembuatan Rendang serta Nasi Padang, mari kita lebih mengenal terlebih dahulu orang-orang dari Suku Minangkabau.

rumah adat Minangkabau, source: pixabay.com

Masyarakat Minangkabau yang berada di Pulau Sumatera sejak dahulu kala dikenal sebagai seorang yang pandai berdagang dan terkenal dengan budaya merantaunya.

Perempuan Minang, source: pixabay.com

Dalam sistem kekerabatan, suku Minangkabau memiliki perbedaan dengan kebanyakan suku-suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia. Pada umumnya sistem kekerabatan suku-suku bangsa di Indonesia adalah patrilinial, yaitu sistem keturunan dan kekerabatan menurut garis keturunan ayah. Sebaliknya, suku minang menganut sistem yang berbeda, mereka menganut sistem kekerabatan matrilinial yaitu sebuah sistem keturunan dan kekerabatan menurut garis keturunan ibu.

Dalam sistem matrilinial kaum perempuan memiliki hak-hak yang lebih istimewa dibandingkan dengan kaum laki-laki. Sistem ini membuat kaum perempuan lebih kaya secara materi daripada kaum laki-laki karena warisan yang dimiliki oleh sebuah keluarga akan diwariskan kepada anak perempuan.

Sistem matrilinial adalah salah satu faktor yang mendorong orang minang, khususnya yang berjenis kelamin laki-laki pergi merantau. Merantau telah menjadi kebiasaan dan budaya bagi putra Minang. Maka tak heran jika hampir di setiap kota di Indonesia, Malaysia, Singapura hingga Brunei Darusalam dapat dijumpai orang-orang Minang yang sebagian besar mempunyai usaha di dunia kuliner. Jadi tak heran jika kuliner Minang lebih khusus Nasi Padang seakan sudah menjadi sajian yang sangat familiar bagi masyarakat di Nusantara.

Dalam sepiring Nasi Padang, kita bisa menjumpai berbagai macam sajian lauk pauk yang lengkap mulai dari nasi, sayur daung singkong rebus dengan cabai hijaunya, rendang sapi dan juga sajian lainnya yang jumlahnya tak terhitung banyaknya.

Selain nasi Padang masyarakat Minang juga dikenal dengan sajian Nasi Kapau yang terkenal dengan Gulai Tambusu-nya (gulai usus sapi yang diisi adonan telur kocok dengan bumbu-bumbu) yang berasal dari Nagari Kapau atau nama kampung di Sumatera Barat. Jangan pula lupa dengan Itiak lado mudo, Dendeng batokok serta olahan yogurt ala Minang yaitu Dadiah yang terbuat dari susu kerbau yang  dimasukan ke dalam bambu  untuk kemudian didiamkan beberapa hari hingga terfermentasi secara alami dan biasanya dijadikan hidangan bernama Ampiang Dadiah.

Sejarah Panjang Rendang

Sebagai salah satu warisan sejarah Kerajaan Melayu dan Sriwijaya, masyarakat Minang dikenal dengan warisan budayanya yang terkenal dalam dunia kuliner. Padang sudah lama dikenal sebagai bangsa pedagang sejak abad ke 18. Masyarakat Minang mempunyai jejak sejarah dan tradisi turun temurun yang begitu kaya termasuk dalam jejak kulinernya.

Rendang adalah masakan khas Minang yang dimasak dengan menggunakan santan dan perlu proses yang lama dalam memasaknya. Dalam buku The history of Sumatera karya William Marsden, ada 2 tumbuhan utama di Sumatera yaitu padi dan kelapa. Padi menjadi sumber utama bahan pangan yang diolah menjadi nasi sedangkan kelapa diolah menjadi santan yang banyak dipergunakan dalam berbagai macam sajian masyarakat Minang.

rempah-rempah, source: pixabay.com

Sementara itu, keberadaan rempah-rempah dalam penggunaan sajian masakan Minang sangat dipengaruhi oleh budaya kuliner dari India. Tak heran hingga kini kita mengenal masyarakat Minang terkenal akan sajian masakan yang kaya santan serta rempah-rempahnya yang begitu khas.

Santan diolah dengan berbagai macam sayuran dan daging yang pada waktu itu dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Minang dengan tradisi merantaunya. Tujuannya adalah untuk membuat awet sajian masakan yang dibuat. Dengan proses memasak yang dilakukan secara perlahan dan dengan api kecil membuat nutrisi, gizi dan vitamin yang dikandungnya tidak langsung berubah.

Dalam sajian rendang, terdapat berbagai macam filosofi yang melatarbelakangi kebudayaan Minang. Daging sapi menjadi simbol ninik mamak sebagai pemuka adat, cabai sebagai alim ulama yang tegas menegakan syariat Islam, bumbu sebagai cermin masyarakat umum dan kelapa menyimbolkan sebagai cerdik pandai atau kaum intelektual, tak heran jika masakan ini secara tidak langsung menunjukan status sosial karena dilihat dari kerumitan bahan serta proses pembuatannya.

Ternyata dari sebuah sajian bernama Rendang, saya belajar bahwa ada begitu banyak filosofi serta makna yang terkandung di dalamnya dan secara tidak langsung menunjukan sisi Minangnya.

***

Pernah kepikiran di dalam hati, kapan ya bisa menginjakan kaki langsung di Tanah Minang dan bisa mencicipi berbagai macam sajian yang selama ini sudah sangat familiar di tempatnya berasal, pasti akan sangat berbeda dan berkesan.

Selain bisa berwisata kuliner sepuasnya di sana, saya pun bisa mengunjungi langsung rumah-rumah gadang yang begitu khas, jembatan kelok sembilan yang begitu terkenal serta keindahan ciptaan Tuhan berupa pemandangan Ngarai Sianok yang sangat ikonik.

Wisata Kuliner Minang Langsung di Daerah Asalnya

Oke langsung saja, mari kita memulai petualangan kuliner Minang setelah mendaratkan kaki di sana, dimulai dari:

Rumah Makan Lamun Ombak-Padang

Saat menginjakan kaki di tanah Minang tentu saja hidangan yang wajib dicoba adalah nasi Padangnya dan salah satu rumah makan yang menyajikannya adalah RM Lamun Ombak. Yang membuat istimewa, RM ini merupakan satu-satunya di kota Padang dan menjadi buruan paran perantau orang Minang untuk melepas rindu akan citarasa kuliner kampung halamannya. Lokasinya pun bisa ditemui setelah lewat Bandara Internasional Minangkabau.

Sate Mak Syukur-Padang Panjang

Sate, mungkin bagi orang kita sudah sangat familiar dengan sajian daging yang ditusuk-tusuk menggunakan bilah bambu dan dibakar menggunakan arang. Namun saat berkunjung ke Padang Panjang jangan lewatkan untuk mencicipi Sate Mak Syukur yang begitu tersohor.

sate mak sukur, source: bisniswisata.co.id

Penyajian sate ini tak berbeda jauh dengan sate pada umumnya yaitu beberapa tusuk sate dengan daging yang sudah kaya akan bumbu dihidangkan dengan potongan lontong dan disiram dengan kuah kuning yang panas dan mengeluarkan kepulan asap serta aroma rempahnya. Rasanya sangat cocok dengan suasana Padang Panjang yang berbukit-bukit dan berhawa sejuk ini.

Nasi Kapau-Bukittinggi

Sampai di Bukittingi yang pertama kali anda harus cari adalah Nasi Kapau. Sekilas memang tampilannya sama dengan nasi padang. Hanya saja, kuliner khas kapau, Bukittinggi ini lebih kaya rempah dan kuat rasa santannya.

hidangan nasi kapau, source: commons.wikimedia.org 

Deretan penjual nasi kapau dapat ditemukan dengan mudah di sekitaran pasar atas dan los lambuang.  Beberapa gerai nasi kapau yang cukup ternama adalah Nasi Kapau Uni Lis dan Nasi Kapau Uni Cah.

Bika Si Mariana-Koto Baru

Adonan tepung beras bercampur kelapa yang dipanggang dengan kayu bakar yang berasal dari kayu manis (Cinnamomum verum) menghasilkan aroma yang begitu khas dan membuat citarasa Bika Si Mariana ini begitu harum.

bika si mariana, source: .wonderfulminangkabau.com

Untuk menikmati bika biasanya ditemani dengan segelas teh tawar, kopi hitam ataupun bisa dipadukan dengan kopi kawa daun. Kopi khas Tanah Datar yang diseduh dari daun kopi kering. Nikmat dan gurih kelapa yang terbakar membuat nikmat apalagi dinikmati hangat-hangat.

Menikmati sebungkus atau sepiring Nasi Padang tak lengkap rasanya kalau tidak mengenal sejarah citarasanya yang melegenda. Semoga suatu saat bisa berkunjung langsung ke Padang, Sumatera Barat, asal citarasa yang mendunia.

9 thoughts on “Sejarah Kenikmatan Nasi Padang

  1. Avant Garde

    di punggelan agak jarang ya? atau harus beli di banjar?
    ibu saya pernah beli nasi padang di pasar, sambelnya gak pedes katanya hehe…

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      ada satu RM padang tapi kurang lengkap dan yang terenak menurutku di kecamatan sebelah, lumayan jauh juga jadi malas wkwk. kudu ke mana gitu dulu terus pulangnya mampir baru beli

      Reply
  2. Ikhwan

    Kalau mau porsi yang lebih banyak jangan makan di tempat, mas. Rumah makan padang punya tradisi buat ngasi porsi lebih banyak buat konsumen yang beli makanan dibungkus. 😀

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya aku juga tahu sejarahnya, lebih seringnya juga sengaja dibungkus, entah mengapa nasi yang sudah terendam kuah lama dan melar itu rasanya malah makin enak hehehe

      Reply

Leave a Reply