Mengunjungi Rumah Tua Bersejarah di Banjarnegara

Berawal dari kegemaran akan bangunan tua, saya dipertemukan dengan orang-orang yang juga punya ketertarikan yang sama.

Kali ini beruntungnya karena penjelajahan bangunan bersejarah berada di kota sendiri yaitu Banjarnegara.

Tak kurang dari 20 peserta yang rata-rata masih mengenyam bangku sekolah menengah atas terlihat antusias. Sisanya termasuk saya merupakan peserta umum yang sudah tidak muda lagi namun punya ketertarikan yang tak bisa dianggap sepele.

Setelah sebelumnya melakukan registrasi untuk pendaftaran jelajah rumah tua Banjarnegara, saya pun kemudian digabung dalam sebuah grup Whatsapp untuk memudahkan komunikasi.

Hari minggu menjadi waktu yang cocok untuk acara jelajah. Seluruh peserta diarahkan untuk berkumpul di belakang Rumah Dinas Wakil Bupati Banjarnegara, lebih tepatnya di lapangan tenis.

Ya kali ini acara jelajah diprakarsai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Yayasan Sahabat Muda Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Cagar Budaya Banjarnegara.

Pukul delapan pagi kami berkumpul di lokasi yang sudah ditentukan dengan sebelumnya acara perkenalan dan agenda jelajah hingga sore.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah gedung/rumah di kawasan KODIM Banjarnegara kemudian dilanjutkan ke bekas terminal lama kota yang kini menjadi kantor Dinas Pekerjaan Umum dan juga Gedung Pegadaian Banjarnegara.

kantor di komplek KODIM Banjarnegara

Masing-masing gedung yang kami kunjungi merupakan rumah tua di era sebelum kemerdekaan RI. Beberapa bangunan terlihat masih utuh sementara sisanya hanya menyisakan bangunan tembok lama yang masih dipertahankan dalam satu kawasan bangunan.

rumah tua di komplek terminal lama, kini menjadi kantor DPU

Jalan-jalan berikutnya dilanjutkan menyusuri jalan raya menuju Alun-alun Banjarnegara. Di lokasi ini terdapat sebuah prasasti yang berada di belakang patung Dawet Ayu Banjarnegara. Isi dari prasasti ini kurang lebih sebagi bentuk penghargaan yang tinggi dan tanda terima kasih yang sedalam-dalamnya dari  Pejuang Divisi II Gunungjati dan Brigade II dalam usahanya memperjuangkan kemerdekaan di Banjarnegara.

Rumah Tokoh PSII

Kunjungan berikutnya bergeser menuju sebuah rumah tua yang berada di sebelah utara Alun-alun Banjarnegara. Lebih tepatnya berada di samping SMPN 1 Banjarnegara.

rumah bersejarah aktivis PSII

Rumah tua tadi merupakan bekas kediaman Oten Pardikin Parto Adi Wijoyo. Siapakah beliau? Beliau adalah salah satu tokoh/aktivis Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di Banjarnegara.

foto tokoh PSII banjarnegara dan istri

Yang membuat bangunan ini bersejarah karena beberapa kali rumah ini dijadikan tempat singgah tokoh PSII yaitu H.O.S Tjokroaminoto ketika berkunjung ke kota Dawet Ayu Banjarnegara.

Rumah ini memiliki tampilan yang khas dengan atap limas serta cat yang berwarna dominan hijau. Bagian depannya terdapat beranda rumah yang memiliki jendela dengan pembatas berupa kawat yang dibuat sedemikian rupa. Kalau pembaca sekalian sering melihat Film-film Benyamin, khusunya yang berjudul “Ratu Amplop” dan “Benyamin Raja Lenong” kurang lebih seperti itulah ciri khas rumah ini.

foto diri tokoh PSII Banjarnegara

Saat itu kami disambut oleh salah seorang keturunan atau pewaris rumah ini. Beliau menjelaskan detail sejarah rumah ini kepada peserta yang  berkunjung.

ahli waris rumah bersejarah

Rumah ini memiliki beranda, ruang tengah, dua buah kamar tidur, dapur serta kamar mandi yang terpisah. Kondisinya 75% masih baik hanya saja terlihat beberapa pintu kayu dan tembok yang rusak dan pemilik rumah tidak bisa memperbaikinya sesuka hati.

penyerahan buku tentang PSII ke ahli waris rumah

Rumah  ini meskipun belum dijadikan sebagai bangunan cagar budaya namun pemiliknya merasa belum berani untuk memperbaiki beberapa bagian bangunan yang rusak karena takut menghilangkan keaslian dari rumah ini. Apalagi status rumah ini yang masih abu-abu karena belum dijadikan sebagai rumah/bangunan cagar budaya oleh pemerintah daerah setempat.

foto bersama peserta napak tilas sejarah dan cagar budaya

Sesi ini diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta dengan pemilik ahli waris rumah ini serta pemberian kenang-kenangan berupa buku tentang sejarah PSII di Banjarnegara.

Menilik Rumah Selir Soemitro Kolopaking

Suasana terik matahari di atas langit Banjarnegara masih terus mengiringi perjalanan kami siang itu. Tujuan berikutnya adalah sebuah rumah milik salah seorang selir R.A.A Poerbonegoro Soemitro Kolopaking.

rumah selir yang kini menjadi kafe

Siapa sangka, sebuah kafe dan galeri unik bernama Amrina yang berada tak jauh dari pertigaan lampu merah Gayam-Banjarnegara ini adalah sebuah gedung bersejarah.

Tampak dari depan terlihat instagramable dengan lampu-lampu dan meja kursi khas kafe. Namun jika masuk ke dalam maka bangunan aslinya terlihat.

Ini adalah sebuah rumah tua peninggalan salah satu selir dari Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking, yaitu Layem. Tak ada cerita lebih lanjut riwayat dari sang selir yang bisa dikorek sejarahnya.

Lalu siapakah RAA Poerbonegoro Soemitro Kolopaking? beliau adalah Bupati Banjarnegara yang memerintah dari tahun 1927 sampai dengan 1945.

Pada tahun 1945, beliau terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Rumah ini mengadopsi gaya rumah Hindia-Belanda dengan ruang tamu yang berada di depan rumah milik rumah adat Betawi. Dua buah kamar kanan-kiri di tengah bangunan dengan lorong di tengahnya dan juga langit-langit yang tinggi.

Namun yang unik adalah penggunaan kayu pada hampir seluruh bangunannya. Di dalamnya terdapat ranjang kamar tidur dari kayu berukuran lumayan besar.

Kini pada bagian belakangnya diberi bangunan tambahan yang modern namun tetap terlihat artistik karena sekarang dijadikan galeri.

Berkunjung ke kediaman H.M Soedjirno

Siapakah beliau? Beliau adalah Bupati Kabupaten Banjarnegara ke 7 yang menjabat pada periode 1960-1967.
Beliau menjadi bupati dalam usia yang tergolong masih muda pada masanya khususnya di Banjarnegara. Begitulah kira-kira informasi yang kami dapatkan dari salah seorang putri beliau yang kini menempati rumah ini.

foto bupati Soedjirno

Potret beliau terpampang di atas pintu menuju ruang keluarga yang terlihat rapi dan sejuk saat kami memasukinya.
Inilah penggagas SPG (sekolah Pendidikan Guru) di Banjarnegara (SMAN 1 Bawang), SMEAN  (Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri) Banjarnegara (SMKN 1 Bawang) dan SMAN 1 Banjarnegara. Bangga karena saya pernah bersekolah di SMEAN (dulu).

Halaman rumah ini lumayan luas dengan rimbunan pepohonan yang menaunginya. Sekilas kontras dengan suasanan kota Banjarnegara yang lumayan panas.

berfoto bersama

Dari tampak depan bangunan ini khas dengan bebatuan yang dipasang sedemikian rupa membentuk nilai seni yang menarik. Cukup lama kami mendengarkan cerita-cerita dari putri beliau dan juga berkeliling ke seisi rumah hingga ke dapur yang kesemuanya masih asli dan juga terawat dengan baik.

Di dalam ruang keluarga juga terpampang foto-foto ketika beliau masih menjabat sebagai bupati dalam masa kepemimpinan Orde Baru, Soeharto. Ada banyak cerita tentang intrik serta tekanan-tekanan penguasa pusat pada masanya ketika pemimpin daerah tertentu sedikit “membangkang” dari aturan pusat.

Cukup lama kami mendengarkan cerita sambil menikmati semilir angin yang berhembus alami dari jendela-jendela rumah. Beginilah ciri khas rumah zaman dahulu yang sekilas sudah beradaptasi dengan cuaca tropis Indonesia.

Setelah perjalanan yang cukup menyenangkan akhirnya kami kembali lagi ke lapangan tenis di belakang rumah dinas bupati banjarnegara. Sebelumnya kami beristirahat dan menunaikan kewajiban di Musala kawasan Sekretaris Daerah Banjarnegara.

Setelah sampai di lokasi awal kami berangkat, panitia sudah menyiapkan makan siang yang lumayan telat serta cemilan untuk peserta yang mengikuti kegiatan sedari pagi.

Acara berikutnya adalah sesi bincang-bincang santai dengan Bapak Syamsudin (wabup) mengenai sejarah serta beberapa masukan dari para peserta mengenai perlindungan bangunan cagar budaya di kota dawet ayu ini.

sesi diskusi dengan wakil bupati Banjarnegara

Dan di sesi akhir diumumkan tiga  peserta yang berhasil memenangkan kompetisi foto instagram dengan tema kegiatan pada siang itu di akun mereka masing-masing.

Beruntungnya saya karena menjadi salah satu pemenang dan mendapatkan hadiah berupa kaos dan sertifikat.

Sampai jumpa lagi di acara Jelajah Sejarah berikutnya!!

16 thoughts on “Mengunjungi Rumah Tua Bersejarah di Banjarnegara

  1. Avant Garde

    Ah, menarik sekali mengikuti kegiatan kalian… sepertinya sudah ada sinergi antara pemerintah daerah, penggiat wisata sejarah dan generasi muda banjarnegara buat ‘kepo’ dan rasa melestarikan sejarah, ngomong2… apa komitmen pak wabup buat benda cagar budaya di banjarnegara?

    aku penasaran kenapa namanya pakai kolopaking, jadi ingat penyanyi 80-90an yg bernama kolopaking juga 🙂

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kemarin komitmennnya sih, bakalan menindaklanjuti dengan membahasnya bersama DPRD Kab untuk menetapkan benda/rumah/bangunan cagar budaya yang waji dilindungi dengan terlebih dahulu merencanakan undang2/perda, kita lihat saja gimana TL nya.
      Kolopaking itu nama bupati zaman dahulu dan sekarang dijadikan nama rumah sakit (RSUD Hj.Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking), stadion. hmmm kayaknya si Novia Kolopaking masih ada keturunan banjarnegara kali hehehe

      Reply
  2. Avant Garde

    betul mas, guglng di tirto masih ada keturunan dari mantan bupati banjarnegara, ditarik ke atas lagi masih ada kaitan dengan sunan amangkurat 🙂 yang artinya ada keturunan mataram / majapahit…

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      emang pengaruh mataram kental banget loh di wilayah banyumas raya, bahkan abdi/pengikutnya banyak yang menjadi tokoh terutama kalau sekarang bisa dilihat makam2 kunonya di Kecamatan Susukan, berbatasan dengan Banyumas

      Reply
  3. Gara

    Wah serunya… eksplor sejarah sambil ketemu orang-orang yang dekat dengan kejadian masa lalu. Keindahan arsitektur bangunan kolonial yang megah dan kokoh jadi makin tampak dengan cerita-cerita yang disampaikan. Saya jadi makin penasaran dengan Banjarnegara.

    Saat perjalanan dari Dieng dulu saya hanya lewat di kota ini, singgah di terminal dan sempat lewat di depan bekas Stasiun Banjarnegara yang sekarang kalau tidak salah jadi toko… semoga bisa kembali ke sana dan eksplor lagi. Boleh minta panduankah, Mas? Hehe…

    Reply
  4. Anak Desa

    Saya selalu bangga jika ada anak muda, apalagi anak milenial yang menyukai tempat-tempat bersejarah. Dan saya baru tahu jika banyak tokoh-tokoh pergerakan yang sempat tinggal di Banjarnegara.

    Lanjutkan Kang?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah terima kasih atas apresiasinya, aku pun baru tahu kalau banyak juga anak muda yang suka dengan sejarah, terima kasih sudah mampir ke blog ini, salam

      Reply

Leave a Reply