Mengenal Lebih Dekat Cirebon Melalui Seni Musik Tarling

Kereta Api Kelas Bisnis Fajar Utama jurusan Stasiun Pasar Senen-Jogjakarta yang saya tumpangi kini telah mendekati Stasiun Cirebon.

“Kereta Api Fajar Utama sebentar lagi akan memasuki Stasiun Cirebon” terdengan suara perempuan yang khas melalui speaker sumbang kereta api tadi. Sontak membuat kaget saya yang sedari tadi terlelap tidur sejak berangkat dari Stasiun Senen.

Tak berapa lama setelah pengumuman tadi, kereta pun berhenti selama kurang lebih lima menit di stasiun ini.

Ada kejadian unik saat sepasang penumpang yang duduk di sebelah saya harus rela berpindah gerbong. Ternyata eh ternyata mereka salah masuk gerbong dan terpaksa terusir oleh penumpang dari Stasiun Cirebon yang baru saja masuk ke dalam gerbong ini.

Saya dalam hati ingin tertawa tapi setelah dilihat-lihat lagi Boarding Pass yang saya pegang ternyata tak jauh beda dengan nasib sepasang penumpang tadi. Saya pun sebenarnya salah masuk gerbong. Gubrakkk.

Stasiun Cirebon ini merupakan salah satu stasiun besar dan cukup penuh sejarah setahu saya. Ini merupakan kunjungan kali pertama di stasiun ini walaupun tidak sempat menginjakan kaki langsung ke luar stasiun karena tujuan perjalanan saya sebenarnya ke Stasiun Purwokerto.

Perasaan was-was karena sewaktu-waktu saya bisa terusir dari kursi dan dari gerbong ini pun menghinggap, tapi mujurnya tidak ada penumpang lain yang kebetulan menempati nomor duduk yang saya duduki hingga Stasiun Purwokerto. Mungkin inilah pengalaman terunik saya dengan Kota Udang ini pada perjumpaan pertama walaupun hanya sekilas saja di sini.

***

Tarling, Awal Mula

Cirebon, siapa yang tidak kenal dengan kota yang punya banyak julukan ini. Kota Udang, Kota Nasi Jamblang, Kota Tari Golek, Kota Wali dan mungkin masih banyak lagi julukan-julukan lainnya. Siapa yang tak tahu Sunan Gunungjati, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Gua Sunyaragi.

Barangkali orang-orang akan mudah paham jika ditanya tentang Cirebon dengan pilihan jawaban tadi. Namun ada satu hal yang mungkin orang belum tahu tentang kota ini. Cirebon juga dikenal sebagai cikal bakal lahirnya musik Tarling..ya Tarling yang kini dikenal di seantero PANTURA (pantai utara jawa) hingga mungkin ke seluruh Indonesia.

Tarling berasal dari dua kata yaitu “Gitar” dan “Suling” kedua instrumen musik inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya seni musik Tarling hingga saat ini.

Menilik lebih lanjut, musik ini lahir sekitar tahun 1931. Saat itu jenis musik tarling klasik lah yang populer dan menjadi cikal bakal musik tarling dengan variasi yang beragam hingga saat ini.

Musik Tarling sendiri banyak yang menyebutnya dengan sebutan melodi jiwa. Karena musik ini telah menggambarkan kehidupan masyarakat Cirebon sehari-hari lewat alunan musik, lirik lagu yang dinyanyikan oleh seniman tarling klasik.

Metamorfosis Musik Tarling Pertama

Untuk mengenal lebih lanjut mengenai sejarah lahirnya musik tarling, masih ada seorang yang merupakan warga asli Cirebon yang bisa ditemui. Dino Syahrudin, salah satu seniman Cirebon. Beliau bercerita mengenai awal mula terciptanya jenis musik ini yang secara tidak disengaja. Saat itu tentara Belanda meminta kepada salah seorang ahli gamelan , Sugro, untuk memperbaiki salah satu gitar yang rusak. Sugro pun kemudian menerima permintaan tentara Belanda tersebut untuk memperbaiki gitar yang rusak tadi.

Kepandaian Sugro dalam memperbaiki gitar yang rusak tadi dibarengi dengan kemampuannya berinovasi untuk memasukan nada-nada pada alat musik gamelan ke dalam gitar. Dari keahliannya itulah secara tidak sengaja tercipta sebuah seni musik baru yaitu musik tarling klasik.

“Paduan suara gamelan dengan laras yang bisa masuk ke dalam gitar ditambah dengan penambahan alunan tiupan suling maka tercipta harmoni musik yang baru yaitu tarling khas Cirebon” begitu kira-kira jelasnya. Sejarah singkat lahirnya seni musik tarling klasik generasi pertama atau awal.

Pada zamannya, Sugro dan teman-temannya sering diundang untuk pentas pada pesta-pesta hajatan penduduk sekitar. Saat itu pentas digelar pada alas berupa tikar sederhana yang diterangi lampu petromaks (saat malam hari) dan sering kali mereka pentas tanpa bayaran alias cuma-cuma.

Selain itu, Sugro dan teman-temannya juga melengkapi pertunjukan musik mereka dengan penambahan selingan berupa sajian drama. Drama yang mereka mainkan lebih banyak berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Cirebon. Dari drama yang mereka mainkanlah kemudian muncul lakon-lakon seperti Saida-Saeni yang berakhir tragis, Pegat-Balen, dan Lair-Batin yang begitu melegenda hingga kini.

Jadi dalam petikan gitar-gitar tadi menghasilkan suara laras yang mirip bunyi yang dihasilkan dari suara gamelan yang dipukul. Sugro bersama rekan-rekannya pun mulu menunjukan kreasinya tadi dalam bermain tarling klasik.

Seni Musik Tarling Tradisional l Sumber Foto: Ini

Satu yang khas dari seni musik tarling generasi pertama atau awal ini adalah pada posisi pemain yang berjumlah empat orang. Masing-masing memainkan gitar melodi, gitar pengiring sekaligus bermain bass, sinden dan seorang lagi pemain yang memainkan alat musik tiup tradisional berupa botol berwarna hijau sebagai pemanis lagu.

Suara yang keluar dari mulut si sinden inilah yang menjadi bagian penting dalam sebuah pertunjukan seni musik tarling klasik yang sebagian besar liriknya berkisah tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon.

Metamorfosis Musik Tarling Kedua

Pada perkembangan kedua musik tarling klasik ini atau generasi kedua. Muncul sosok seniman lain bernama Mama Jana. Beliau memberikan penyempurnaan atau variasi baru pada instrumen musik tarling.  Penambahan tersebut berupa melodi kiser atau tembang klasik yang semakin membuat syahdu dan menjiwa karena ada sentuhan unsur tradisional khas Cirebon.

Sosok Mama Jana I Sumber foto: ini

Pada masa inilah musik tarling Cirebon berjaya pada zamannya. Inovasi ini terbilan sebagai inovasi yang luar biasa karena semakin menunjukan kecirikhasan musik tarling klasik Cirebon.

Metamorfosis Musik Tarling Ketiga

Memasuki generasi ketiga, musik tarling mulai sedikit mengalami perubahan karena penambahan masuknya musik organ dan membuat kecirikhasan musik klasik Cirebon sedikit terkikis. Namun bagi generasi seperti saya ini, malah menganggap musik tarling versi sekarang ini yang lebih familiar di telinga. Orang-orang Cirebon menamai jenis musik tarling saat ini dengan sebutan “teng dung cirebon” atau Dangdut Cirebon.

***

Musik Tarling, Kini

Alunan suara khas yang keluar dari mulut Teni Suteni (55) salah satu sinden dari Grup Candra Kirana seakan memecah keheningan pada sebuah kampung.

Teni yang sehari-harinya selain berprofesi sebagai sinden namun juga merangkap sebagai penjual rujak di sekitar Kampung Pesisir Samadikun, Kebonbaru, Cirebon ini masih terus menggeluti profesinya sebagai sinden. Meskipun kini tidak banyak yang menanggap alunan suaranya ini, sang sinden masih terus giat berlatih di salah satu sanggar kelompok tarling Candra Kirana. Sering kali latihannya diadakan di rumah sang pemimpin kelompok yaitu Djana Partanain (76).

Grup Candra Kirana ini sering menampilkan tembang “Kiser Saida-Saeni”, salah satu tembang klasik dalam seni tarling Cirebonan. Jadi Kiser ini semacam tembang namun bercerita tentang sebuah kisah dan ditampilkan dalam bentuk nyanyian yang diiringi kendang, suling. Dengan cengkok vokal yang khas dari pesinden Teni Suteni, tembang klasik ini seakan menyatu dengan sang pemillik vokalnya.

Tak salah memang jika tembang ini sangat cocok dan luwes saat didendangkan oleh Teni, lirik dari lagu ini seakan mewakili perasaan para seniman tarling. Kisahnya lumayan sedih dan sering kali digambarkan mewakili keseharian kaum papa yang bergelut dengan kemiskinan.

Kampung Pesisir Samadikun terletak di tepi laut bagian utara Kota Cirebon. Dulunya kampung ini berupa tanah-tanah timbul di tepi laut. Banyak tambak-tambak udang berderet di tepiannya. Terkadang perkampungan di pesisir laut ini harus rela tergenang rob saat air laut pasang.

Banyak anggota grup tarling Candra Kirana ini yang berprofesi sebagai tukang bangunan , tukang ojek, nelayan maupun pedangang kecil dan sebagian besar tidak menggantungkan seluruh hidupnya hanya mengandalkan penghasilan dari pementasan tarling. Mungkin inilah satu-satunya grup tarling tradisional alias klasik yang masih tetap mempertahankan keeksistensinya di tengah bermunculannya tarling-tarling baru dengan kombinasi alat musik yang begitu beragam.

Siapa yang tak kenal dengan judul lagu berikut: Waru Doyong, Gatutkaca Bli Bisa Mabur, Keloas dll. Kesemua lagu beraliran dangdut tarling ini seakan sudah menjadi ciri khas musik Indonesia selain genre dangdut pada umumnya. Cobalah berkendara menggunakan bis melalui jalur PANTURA dan nikmati suguhan musik tarling sepanjang perjalanan.

Lirik Lagu Gatutkaca Bli Bisa Mabur

Wayang golek, gatot kaca

Gatot kaca bli bisa mabur

Weruh dewe katon neng mata

Main cinta karo batur

Wedang bandrek wedang bajigur

Cabure panggangan roti

Sapa wonge sing bli hancur

Batur dewek menghianati

Saya yang tinggal di Banjarnegara yang masih menggunakan bahasa ngapak seakan sangat mudah mencerna setiap lirik lagu-lagu tarling masa kini. Sebagian besar kosa kata yang dipakai sangatlah mirip dengan kosakata bahasa ngapak yang setiap hari saya gunakan ini.

Sebenarnya wilayah Banyumas Raya ini masih terpengaruh oleh kebudayaan Jawa Tengah dan sebagian lagi Sunda. Coba saja sesekali mendengarkan lengger, kuda lumping. Hentakan tetabuhan yang dipukul begitu dinamis, kuat, ritmenya cepat begitu juga dengan cara memukul kendang yang sepintas sangat mirip dengan kendang jaipong khas Sunda.

Bahasa yang kami gunakan pun sebenarnya kosa kata bahasa panginyongan atau orang dari kelas menengah ke bawah, jarang sekali kami memakai kasta-kasta dalam pemilihan bahasa. Mungkin sekilas terdengar kurang sopan tapi inilah yang kami gunakan sehari-hari tentu berbeda dengan Solo atau Jogjakarta yang masih menggunakan bahasa alus dan berkasta. Memang saya tidak bermaksud mengunggulkan satu budaya dengan budaya lainnya, ini hanya realita keseharian kami saja.

Memang untuk saat ini, mayoritas lirik lagu dalam musik tarling dangdut lebih berkisah tentang dunia percintaan namun jika ditelisik lebih lanjut, apa yang disajikan dalam lirik-lirik tadi sudah menjadi hal yang sering kita alami maupun dengar. Jadi saya merasa biarpun musik tarling kini telah bertransformasi dan sedikit berubah dengan tarling klasik namun esensi kerakyatannya masih begitu kental, khususnya untuk orang-orang seperti saya.

Saya masih menaruh harapan besar. Seniman-seniman seperti Teti dan kawan-kawannya ini masih bisa terus eksis dan bisa hidup berdampingan dengan perkembangan musik tarling masa kini.

Mau diakui atau tidak sejatinya seni itu akan mengikuti perkembangan zaman, entah masih dominan kekhasan sisi klasiknya maupun sudah kental dengan sisi moderennya. Saya yang hanya berperan sebagai penikmat saja masih punya rasa optimisme jika musik tarling ini akan terus ada walaupun mungkin nantinya akan tersaji dalam tampilan yang berbeda namun sejatinya nilai-nilai klasiknya masih barang tentu ada.

Cirebon, bagi saya tidak sekedar mendapatkan predikat Kota Udang. Kota ini masih punya banyak potensi baik itu budaya, kuliner, ekonomi, kearifan lokal yang masih bisa terus digali dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Bagi saya, suatu kehormatan bisa sedikit mengenal Cirebon justru dari seni musik tarling yang belum tentu anak muda lainnya akan suka karena gengsi. Tapi bagi saya, masalah selera itu tidak bisa dibohongi, cobalah mendengarkan musik tarling dan dijamin bakalan suka entah mau mengakuinya secara terbuka atau hanya sebagai silent listener.

 

19 thoughts on “Mengenal Lebih Dekat Cirebon Melalui Seni Musik Tarling

      1. Avant Garde

        nah, kok komennya kayak ada bau bau sirup marjan wkwkwk …. gak bisa ditolak, seni akan berkembang sesuai keinginan penikmat, bagi kaum tua, mungkin akan lebih menyukai tarling klasik yg penuh petuah, kalau generasi now mungkin sukanya tarling modern yg lebih easy listening… jadi inget luragung, bus jakarta cirebon 🙂

        Reply
  1. Avant Garde

    Kalo punah sama sekali sih kayaknya nggak mas, paling bertransformasi, twitter, kompasiana, blog pribadi itu kan basis awalnya blog, hanya saja beda wadah.. dulu orang ngeblog buat curhat masalah pribadi, banyak yg pake nama anonim, sekarang blog cenderung terbuka.. malah katanya sharing is caring…

    Kalo bosan tinggalin dulu mas, lakuin hobi atau kesibukan lain 🙂

    Reply
      1. Avant Garde

        betul mas, ibarat perjalanan tak berujung yg kita tak tau seperti apa akhirnya, ditengah2 jalan ada persimpangan, ada batu jadi kita terpeleset, terus jatuh… ada banyak pilihan dan kemungkinan… terserah kita mau ambil jalan kemana

        Reply
          1. Avant Garde

            betul mas, kembalikan ke niat awal bikin blog ndayeng buat apa hihihi… ini juga selfreminder buat aku sih mas 🙂 apalagi dunia blogger ini banyak bt drama2nya, baik dr kita sendiri, lingkungan, orang lain ahaha…

  2. Gara

    Hai Mas. Tulisan yang bagus dan lengkap. Tarling ini musik yang tumbuh dari rakyat dan untuk rakyat. Semoga bisa bertahan di tengah gempuran teknologi yang tanpa ampun ini. Saya baru baca nih ada musik tarling di Cirebon, sejauh ini yang lebih terkenal dari Cirebon ya kalau tidak empal gentong atau batik motif megamendung. Musik-musik tradisi seperti ini sudah jarang. Kalah dengan KPop. Padahal dari tulisan ini bisa saya simpulkan bahwa tarling juga sangat kaya akan filsafat kehidupan, yang dicetuskan oleh para pelakunya.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      tau nggak, Gara, tulisan ini sebenarnya dulu pernah kutulis di blog yang lawas untuk keperluan lomba tapi gagal, terus kepikiran kenapa tidak diedit lagi dan diposting ulang. kadang mikir, kok ya bisa nulis tentang beginian, semuanya riset dari internet hehehe

      Reply

Leave a Reply