Semarang Old City Tour Part 2

Ini adalah lanjutan cerita tentang jalan-jalan di Kota Lama Semarang.

Jadi setelah hampir beberapa jam jalan kaki sambil membawa gembolan di punggung dan tangan, kami pun beristirahat di taman tak jauh dari Gereja Blenduk.

Tak terasa botol air minum yang saya bawa tinggal menyisakan beberapa tetes air saja. Memang cuaca Kota Semarang itu aduhai sekali. Membuat peluh terus mengucur hingga membasahi kaos.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan dengan menyusuri trotoar jalan raya. Sesekali tercium aroma sedap dari celahnya, ya aroma bau khas got.

Sungguh rasanya pundak mau patah ditambah lagi saat diajak jalan kaki, tubuh ini rasanya sempoyongan mau semaput.

Sebenarnya si Halim sudah menawarkan untuk beristirahat sejenak atau malah diakhiri saja dan langsung cusss menuju ke hotel. Tapi saya memang sok kuat dan gengsi kalau mau menyerah saja.

Akhirnya, perjalanan ini diakhiri di daerah Gedangan Semarang.

Eitsss tunggu dulu, maksudnya ini adalah tujuan kami berikutnya setelah tadi singgah di Kawasan Kota Lama Semarang.

Gedung sekretariat Paroki di Gedangan

Nah menariknya di daerah Gedangan ini banyak sekali sekolah Katolik, Gereja, Kepastoran, Biara Susteran dan masih banyak lagi perumahan-perumahan yang menghuni gedung tua yang masih terawat.

Komplek gedung tua di daerah ini mempunyai ciri khas dengan fasad bangunan yang rata-rata dengan finishing batu bata merah yang sengaja tidak diplester.

Karena berada di jalan yang sama, kami bisa saja mampir ke semua bangunan yang ada namun karena keterbatasan waktu, hanya bisa singgah di Komplek Kepastoran dan Gereja Gedangan.

Kalau pernah nonton Film Soegija, kalian pasti familiar dengan komplek bersejarah di tempat ini.Ya ini adalah lokasi syuting film tadi ketika adegan tentara Jepang menduduki Kota Semarang.

Berada di tempat ini benar-benar membuat sejuk. Selain bangunan tua yang terawat, banyak sekali pepohonan rimbun yang membuat asri dan sejuk.

Kontras dengan kondisi Kota Semarang pada umumnya. Pun dengan bangku-bangku yang tersedia. Cocok untuk melepas lelah.

Tak lengkap rasanya kalau tidak singgah ke Gereja Santo Yusuf atau Yosef atau orang lebih mengenalnya sebagai Gereja Gedangan. Dari luar saja tampak menonjol dan memikat hati siapa saja pecinta bangungan tua. Warna merah bata menjadi ciri khas yang paling kentara.

Gereja ini dirancang oleh arsitek Belanda bernama W.I. van Bakel.  Pembangunannya dimulai pada tahun 1870 hingga 1875.

Alasan di balik pembangunan gereja ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk Katolik Semarang. Untuk biayanya sendiri, menghabiskan kurang lebih 110.000 gulden.

Gereja tumbuh secara ekstensif selama lima puluh tahun dan pada awalnya didominasi oleh etnis Eropa dan orang-orang campuran, namun sejak kemerdekaan gereja mayoritas memiliki jemaat pribumi.

Karena populasi Katolik bertumbuh, ukuran Paroki mengecil karena Paroki-Paroki yang baru didirikan.

Kompleks gereja ini terdiri dari gedung gereja, pastoran, dan sebuah biara.

Gereja Santo Yusuf pun penuh hiasan, termasuk sembilan belas kaca patri jendela (termasuk tiga didedikasikan untuk Santo pelindung gereja, Yusuf), ukiran-ukiran yang menampilkan empat belas salib, dan sebuah altar yang diimpor dari Jerman.

Menara tunggal di gereja tersebut adalah rumah bagi dua lonceng yang dibuat oleh Petit & Fritsen.

Gereja Santo Yusuf Gedangan l sumber foto: Halim Santoso

Bersyukurnya karena kami diperbolehkan melihat bagaimana isi di dalam gereja ini. Tentu saja dengan terlebih dahulu meminta izin yang saat itu ditemui adalah petugas kebersihan gereja yang terlihat tengah membersihkan rumah ibadah ini.

Sebenarnya kami bisa saja masuk melaui pintu utama yang berada persis di bawah menara menjulang tinggi dan lokasinya di pinggir jalan. Namun kami memilih masuk melalui pintu samping.

Interior Gereja Santo Yusuf

Barisan kursi kayu dan meja menjadi penyambut kami. Adem rasanya. Di atas pintu masuk sendiri terdapat ruangan berlantai dua yang pada sisi depan mengarah ke altar walaupun jaraknya masih jauh. Tempat ini difungsikan untuk menaruh organ atau alat musik dan bangunannya terbuat dari kayu.

Jendela dan pilar-pilar gereja

Pada kanan kiri di bawah bangunan tadi terdapat patung Santo pelindung gereja yang membuat semakin keramat bangunan gereja ini.

Seperti sudah diceritakan tadi, di tengah-tengah bangunan terdapat pilar yang berbaris rapi kanan kiri untuk menyangga kubah-kubah lengkung. Lampu-lampu gantung antik pun terpasang di langit-langitnya.

Yang membuat unik adalah pada sisi kanan kiri jendela yang ada terdapat cerita Jalan Salib yang mirip seperti diorama dengan wadah dari kayu yang diukir sedemikian rupa.

Dan tentu saja yang menjadi fokus utama adalah altar di depan sana. Altar yang terbuat dari kayu dan berukir ini menjadi khas ketika dilihat.

Altar Gereja Santo Yusuf

Saya pun melihat si Halim yang tengah berdoa barang sebentar tak jauh dari Altar tadi.

Sisanya saya duduk-duduk di bagian kursi belakang sambil menikmati keagungan rumah ibadah.

Memang apapun agamanya, rumah ibadah selalu memberikan kesejukan dan kedamaian bagi siapa saja yang singgah di dalamnya.

Setelah puas di sini, perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Pos Besar Semarang.

Kantor Pos Semarang l sumber foto: Halim Santoso

Kami pun harus berjalan kaki terlebih dahulu menuju ke tempat ini sementara hujan rintik-rintik mengguyur kota Semarang.

Jalanan di depan kantor pos ini lumayan ramai apalagi saat siang hari. Bangunannya sudah tidak bisa diragukan lagi kecantikannya.

Dari depan saja sudah terlihat megah. Namun sayang, saya tidak sempat masuk ke dalamnya. Warna dominan putih dan orange khas bangunan kantor pos menjadi ciri khas yang mudah diingat dari gedung ini.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju kawasan kumuh tak jauh dari Pasar Johar atau kalau tidak salah adalah pasar sementara karena belakangan baru tahu kalau bangunan utamanya terbakar.

Becek kumuh dan tentu saja ramai. Hingga berakhir di ujung jalan untuk kemudian naik mobil yang sedari tadi dipesan menggunakan aplikasi daring.

Ahhhh rasanya lega kaki ini bisa selonjoran dan mandi di hotel. Sampai jumpa lagi Semarang, eh Tugu Muda dan Lawang Sewu!.

 

15 thoughts on “Semarang Old City Tour Part 2

  1. Avant Garde

    kayaknya jarang blogger yg nulis soal Gedangan 🙂 ah, jadi pengen kesana deh, banyak spot yg kupengen, termasuk foto di tembok yg ada pohon beringinnya itu 😉

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah kurang tahu juga. ini aku kalau nggak diajak muter2 sama Si Halim juga nggak mungkin kepikiran nulis tentang gereja gedangan. dan baru ngeh kalau lokasinya juga dijadikan tempat syuting film Soegija.
      eh iya itu cocok buat ngadem dan berteduh

      Reply
  2. Avant Garde

    anggap aja ini tantangan buat naik ke level selanjutnya dlm dunia perbloggingan mas 🙂 entar lama2 mungkin terbiasa dengan settingan yg baru ….

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya nih, dilema ketika migrasi soalnya udah 2 kali, semangat untuk ngeblog itu naik turun apalagi pembaca lawas (teman) sudah jarang bersua. akunya juga sih yang jarang BW

      Reply
  3. Avant Garde

    aku pikir mas udah lama gak nulis, makanya aku cek blog ndayeng, seingatku dulu udah aku follow blog yg dotcom, aku liat blognya kok yg postingan semarang part 1 dan 2 gak masuk di reader aku, rupanya pas aku liat rupanya tombol follownya gak ada, makanya aku follow ulang pake manual (masukin blog ndayeng di daftar reader)

    Reply

Leave a Reply to Ubay Cancel reply