Semarang Old City Tour Part 1

Mungkin ini masa-masa dimana saya sungguh butuh banyak energi untuk memulai kembali kebiasaan menulis terutama di blog ini.

Ada saat ketika saya bisa menulis satu postingan dalam sekali waktu. Pun ketika sedang bepergian pada pagi harinya dan harus memposting tulisan malamnya. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan tapi pasti semuanya mulai berubah. Sama seperti kemampuan otot orang yang makin berumur tentu saja mengalami perlambatan.

Begitu banyak faktor ketika saya menulis yang bisa mempengaruhi mood dan sebagainya. Tentu saya tidak ingin menyia-nyiakan apa yang telah saya dapatkan dari menekuni menulis di blog ini. Ada banyak hadiah-hadiah istimewa yang datang silih berganti ketika kata demi kata yang terangkai dibaca orang.

Kini saya akan merangkai kembali kisah yang terputus tepat setahun yang lalu, bulan maret 2018. Sebuah perjalanan penuh makna selama lebih dari lima hari di Semarang dan Solo.

Semuanya berawal dari keisengan mengikuti bimbingan teknis kepenulisan sejarah. Tulisan selengkapnya ada di postingan yang ini.

Masih dengan teman bloger dari Solo yaitu Halim Santoso.

Cerita bermula di Stasiun Tawang Semarang.

sampai di stasiun tawang semarang l foto: halim santoso

Kereta Kalijaga yang kami tumpangi sejak subuh dari Stasiun Balapan Solo kini telah berhenti di stasiun akhir Stasiun Tawang Semarang.

istirahat sambil menikmati antiknya stasiun l foto: halim santoso

interior di dalam stasiun tawang semarang l foto: halim santoso

tampak depan stasiun tawang semarang

Saya langsung terpesona dengan atmosfer gedung tua nan antik stasiun ini. Perlu beberapa saat untuk sekadar melihat-lihat sudut gedung ini sambil memperhatikan detail-detailnya.

Oh ya, stasiun ini berada tak jauh dari Polder Tawang yang kalau dilihat ada di seberang jalan halaman.

polder tawang-semarang

Tentengan tas lumayan berat dan juga gembolan di tangan cukup membuat langkah saya tergopoh-gopoh. Padahal tujuan kami benar-benar ingin menyusuri sudut-sudut kota tua Semarang dengan cara berjalan kaki, karena itu adalah salah satu cara terbaik tanpa melewatkan detail bangunan.

Di Polder Tawang ini saya menemukan beberapa orang sedang bermalas-malasan di pinggiran kolam.

pabrik rokok di kawasan kota tua semarang

Saya pun lanjut jalan kaki melewati lokasi ini dan disambut sebuah gedung tua bercat putih yang dijadikan pabrik rokok.

Pagi itu suasana masih lumayan lengang.

Yang saya suka dengan kawasan kota tua di Semarang ini adalah jalanan paving yang rapi serta tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Walaupun belakangan saya tahu jika di depan Gereja Blenduk pun merupakan jalanan yang ramai. Yahhhh padahal harapannya kawasan ini bebas kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat.

spot foto dengan latar belakang jendela tua l foto: halim santoso

jalanan paving di kawasan kota tua l foto: halim santoso

lengkungan pintu-pintu yang antik l foto: halim santoso

cat warna-warni di kawasan kota tua l foto: halim santoso

spot foto yang cantik l foto: halim santoso

Tak banyak informasi yang saya dapat mengenai tempat-tempat yang saya lewati. Karena saat itu murni hanya ingin jalan-jalan saja menikmati atmosfer kota tua Semarang.

Secara umum, gedung-gedung tua di kota ini lumayan terawat dengan baik. Beberapa bahkan dijadikan sebagai museum, kawasan komersil dan juga restoran.

Sebagai penikmat bangunan tua, rasanya inilah tempat bermain saya. Beberapa sudut bangunan tua pun menjadi spot yang sangat cocok untuk diabadikan.

Namun sebelum lanjut lebih jauh, kami harus mengisi perut terlebih dahulu. Maklum sejak subuh tadi perut belum terisi apapun. Alhamdulillahnya, di kawasan kota tua ini terdapat sebuah rumah makan Padang. Tanpa pikir panjang kami pun bergegas masuk.

Seporsi nasi putih yang disiram kuah rendang, sayur daun singkong rebus yang disiram sambal hijau serta kremesan ayam goreng menjadi sajian nikmat di kawasan kota tua ini.

Perjalanan pun dilanjutkan walau cuaca makin terik, kaki mulai pegal dan pundak yang terasa makin berat. Namun perjalanan harus terus dilanjutkan, toh ini saya yang memutuskan ke tempat ini.

Tentu saja, ikon dari kota tua Semarang adalah (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat) G.P.I.B Immanuel-nya atau orang-orang mengenalnya dengan nama Gereja Blenduk karena atapnya yang bulat alias mblenduk.

foto oleh: Halim Santoso

Sayang sekali, saat itu sebenarnya ingin melihat lebih dekat suasana di dalam gereja namun sepertinya sedang ditutup.

 

gedung kepastoran GPIB Immanuel l foto: halim santoso

Tak jauh dari gereja tadi terdapat rumah kepastoran atau apalah namanya yang menjadi pagar keliling taman yang berada di tengah. Sejenak kami pun beristirahat sambil menengguk air mineral.

Pada jalan lainnya terdapat tenda-tenda yang dijadikan lapak penjualan barang-barang antik. Cukup mengganggu pemandangan menurut saya. Apa boleh buat sih.

Karena terbiasa tinggal di daerah pegunungan (Banjarnegara) rasanya cuaca panas Semarang cukup membuat peluh terus mengalir tak henti. Padahal sudah memakai pakaian yang senyaman mungkin berupa celana pendek, kaos, topi, kaca mata hitam serta sandal jepit.

Beberapa kali saya meminta untuk istirahat setiap jalan beberapa meter, untungnya si Halim dengan sabar mau mengikuti ritme perjalanan saya saat itu. Selain itu, dia juga menjadi tour guide, fotografer yang sangat baik.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, kawasan kota tua ini tak sesempit yang saya bayangkan. Ternyata begitu luas bahkan untuk didatangi satu persatu rasanya bikin kaki makin gempor. Sebenarnya ini merupakan kunjungan selingan sebelum nanti siang harus check-in di hotel karena acaranya dimulai setelahnya.

Bersambung…

21 thoughts on “Semarang Old City Tour Part 1

  1. Johanes Anggoro

    Dan tau gak sih mas, yang nyantai2 di pinggir polder itu sebagian besar adalah tunawisma. Yang tadinya mendiami gedung2 kosong di kota lama.
    Karena semakin hari semakin ramai yg berkunjung ke kota lama, mungkin mereka risih sendiri, dan menepi di pinggiran polder.
    Kalo agak pagi lagi, kamu bisa liat mereka masih pakai selimut 😀

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      oalah, tak kira orang yang habis lari pagi atau apalah soalnya lumayan nyebar di pinggiran gitu. jadi mereka tidur di pinggiran gitu, tanpa atap?

      Reply
  2. GoTravelly.com

    terakhir Ke Semarang, aku juga jalan kaki dari stasiun tawang ke tempat tempat tersebut. jalan santai beneran. banyak banget bangunan tua disana. Sampe kesasar juga.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      memang, cara terbaik menikmati gedung tua ya dengan berjalan kaki. jadi puas ngeliat detail demi detail cuma jangan kesiangan, panas hehehe

      Reply
  3. Avant Garde

    menulis emang bukan kayak makan mas, yang bisa sehari 3x … akupun begitu 🙁 kalo belum mood ya kadang seminggu, bahkan berbulan2 gak nulis

    fotonya seperti ada jarak sama Halim, emang kalian jalannya gak deketan yah? hihi

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya…beda banget pas awal2 ngeblog yang bisa nulis sore harinya setelah paginya jalan2 wkwkwk.
      lha tau sendiri, dia orangnya ga suka tampil di kamera, aku pun manut aja berpose kaya gitu wkwkwk

      Reply
  4. Avant Garde

    hahaha… kalo aku kalo misalnya foto ngadep samping ya kayak triplek hahaha… betul mas, ada blogger yg kalo upload foto harus ada 1 foto yg jadi ciri khas dia, misal foto pake dua jari, foto ngangkang, hehehe

    Reply
  5. Avant Garde

    seumur hidup pake jarik lengkap sama blangkon, keris pas jadi pager bagus nikahan sepupu, pas aku mantenan pengen pake baju jawa tp karena sesuatu hal jadinya baju muslim biasa

    Reply
  6. omnduut

    Kurang lama aku eksplor kawasan Kota Tua ini, soalnya ada beberapa tempat di foto ini yang aku belum lihat. Harus balik lagi nih ke Semarang. Demi… kulineran hahaha

    Reply

Leave a Reply