Pengalaman Mengikuti Bimtek Kepenulisan Sejarah di Semarang

Beberapa kali, saya menjadi orang yang terlalu optimis akan segala sesuatu. Mungkin ini perasaan yang baik saat selalu berpikir positif dalam menjalani hidup, namun saya melupakan sesuatu yang penting.

Bahwa dalam hidup, sering kali kita menemui berbagai kegagalan, pencapaian yang tidak sesuai harapan dan banyak hal lainnya. Lebih mengerucut lagi mengenai kegagalan demi kegagalan dalam mengikuti kompetisi menulis melalui media blog.

Pun saat salah seorang teman bloger mengajak saya mengikuti kompetisi menulis. Kali ini lebih spesifik tentang sejarah. Tiba-tiba mikir kalau itu benar-benar bukan hal yang mudah bagi saya.

Kemudian saya teringat jika ditelisik lebih lanjut, saya tertarik dengan bangunan-bangunan tua bersejarah. Hingga pada suatu waktu, saya memberanikan diri ikut komunitas pecinta sejarah yang mengadakan acara jelajah sejarah selama tiga hari.

Memang saya hanya ikut di hari pertama saja namun dari pengalaman tadi, membuat saya semakin penasaran dengan hal yang berhubungan dengan sejarah. Padahal jika mau mundur ke belakang, blog yang saya tekuni ini berupa cerita perjalanan atau istilah kerennya “travel blogger”.

Mengirim Tulisan Sejarah

Oke terlalu panjang intronya. Jadi saya memberanikan diri menerima penawaran teman tadi dan  mendaftarlah dengan berbekal tulisan sejarah seadanya yang pernah saya tulis juga di blog. Ya, semua syarat administrasi sudah dipenuhi kemudian saya berusaha tak berharap dan melupakannya saja. Belajar dari pengalaman.

Seminggu, dua minggu berlalu. Saya benar-benar sudah lupa. Hingga suatu siang, ada pesan masuk dari teman untuk mencoba mengecek apakah ada nama saya di daftar peserta yang terpilih? Saya pun menurut dan iseng mengecek hingga akhirnya menemukan nama saya masuk dari 100 orang yang dipilih.

Ah ini bukan hal yang membanggakan mungkin bagi yang membaca cerita ini. Jadi selama seminggu ke depan, saya akan mengikuti bimbingan teknis mengenai penulisan sejarah di Semarang, berat banget kesannya.

Perjalanan Banjarnegara-Solo

Berangkat dari Banjarnegara, sore hari, saya memilih memesan mobil travel yang akan menjemput di dekat Terminal Mrican-Banjarnegara.

Pukul lima sore, saya bergegas mengendarai motor menuju terminal ditemani langit yang mendung dan juga berangin. Syukurlah hanya rintik-rintik hujan yang turun tidak terlalu lebat.

Perkiraan saya, mobil travel akan datang selepas maghrib namun ternyata benar-benar datang saat lewat pukul Sembilan malam. Bokong rasanya panas menunggu lama mobil yang sedari tadi ditunggu.

Oh ya..saya tidak langsung menuju Semarang namun berbelok arah menuju kota Solo terlebih dahulu. Saya tiba di kota ini sekitar pukul satu malam. Tempat menginap saya kali ini tak jauh dari Pasar Gedhe Hardjonegoro. Ya saya menginap di rumah salah seorang bloger dari kota ini bernama Halim Santoso.

Perjalanan Solo-Semarang

Selepas azan subuh, saya sudah bergegas pergi meninggalkan penginapan ini dan bergeser menuju Stasiun Balapan Solo. Ini kali pertama saya berkereta dari Solo menuju Semarang.

perjalanan kereta Solo-Semarang, dok: halim santoso

Walaupun sudah pagi buta, ternyata kami masih harus buru-buru antre tiket dan mengejar kereta yang berangkat paling pagi. Tujuannya sebenarnya agar kami bisa mengeksplor Kota Tua Semarang sebelum nanti siangnya harus check-in dan registrasi di Semesta Hotel, lokasi acara bimtek selama lima hari ke depan.

Sekitar pukul sembilan pagi, kami akhirnya sampai juga di Stasiun Tawang-Semarang yang lokasinya tak jauh dari Polder di Kota Tua ini.

Cerita lengkap mengenai eksplor Kota Tua akan saya ceritakan di tulisan lain.

Jadi selepas puas mengeksplor kota tua, sekitar pukul setengah satu siang, kami sudah berada di Semesta Hotel Semarang diantar menggunakan jasa angkutan online yang ada di kota ini.

Semesta Hotel Semarang

Kesan pertama memasuki hotel ini adalah, antik. Mungkin sesuai dengan tema bimtek selama lima hari ke depan mengenai sejarah.

Dua buah bangunan tua menyambut kami siang itu. Setelah melakukan check-in dan bersih-bersih diri, kami menuju Raflles Ballroom, lokasi registrasi peserta. Ternyata siang itu masih begitu sepi oleh para peserta lainnya. Total peserta yang diundang kurang lebih seratus orang namun yang datang tidak semuanya.

tempat kami menginap di Semesta Hotel

Registrasi selesai dan sepaket materi buku dan alat tulis sudah didapat. Kami pun bergegas ke ruangan utama dan memilih tempat duduk paling depan.

Diajar Dosen-Dosen Sejarah Senior

Ada beberapa dosen sejarah dari berbagai universitas seperti UNDIP, UGM, dan UI yang akan mengajar selama tiga hari ke depan. Wahhh…kapan lagi coba bisa merasakan langsung materi tentang kepenulisan sejarah, dari para ahlinya yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya.

Beliau-beliau ini masing-masing:

  1. Bondan Kanumoyoso – Yang akan menyampaikan materi Metode Sejarah.
  2. Tri Wahyuning M – Metode Sejarah
  3. Singgih Tri Sulistiyono – Sejarah Lokal.
  4. Dhanang Respati Puguh – Penulisan Sejarah.
  5. Endang Susilowati – Pedoman Ejaan Bahasa

Karena ini merupakan acara resmi, para peserta harus mengikuti tata aturan tak tertulis yang berlaku selama beberapa hari ke depan.

acara pembukaan dari KEMENDIKBUD RI dan dosen pengajar

Acara seremonial pun dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 stanza. Ini  merupakan kali pertama saya menyanyikannya. Tenang saja ada teks yang terpampang di layar.

Berikutnya diisi dengan sambutan dari panitia (kemendikbud) dan dilanjutkan ke materi dari para dosen yang sudah terjadwal.

Belajar sejarah terdengar membosankan? Awalnya saya pikir juga begitu. Beberapa jam mendengarkan dosen mengajar namun beberapa dari mereka ada yang sangat menarik dalam penyampaiannya seperti oleh Dr. Bondan dan juga Dr. Tri Wahyuning.

Untuk yang terakhir tadi, rasanya luar biasa. Awalnya terkesan “dosen killer” detail, teliti dan mukanya sekilas judes, tapiiiiii setelah mengenal lebih dekat, justru beliaulah orang yang paling dikerubutin oleh para peserta.

Kalau boleh merangkum, inti dari acara tadi lebih mengarah ke cara penulisan sejarah secara sederhana dan lebih menitikberatkan ke tulisan untuk penelitian.

Dari puluhan peserta, rata-rata adalah dari kalangan akademisi mulai dari guru, dosen, pecinta sejarah, wartawan, mahasiswa dan hanya kami berdua (saya dan Halim) yang dari kalangan bloger.

Untuk urusan fasilitas, pokoknya semuanya dijamin. Perut kenyang, cemilan mengalir terus, minuman tinggal pilih. Rasa-rasanya beberapa hari di sini saya menjadi lebih gemuk.

Walaupun terkesan membosankan karena dari pagi hingga malam jadwalnya mendengarkan materi dari para dosen, ishoma dan lanjut lagi hingga malam sekitar pukul 21.00.Wib bergulir seperti itu hingga mendekati hari akhir penyelenggaraan.

Bimbingan Teknis Kepenulisan Sejarah

Saat-saat yang penting pun dimulai. Setelah beberapa hari mendengarkan materi, kini saatnya praktek langsung membuat kerangka penulisan sejarah dengan metode yang telah ditentukan dan menurut saya lebih menjadi tulisan akademis, halah.

Kami yang awalnya dicampur menjadi satu kini dikelompokan secara acak dan dimasukan ke dalam ruangan-ruangan yang telah ditentukan. Yah akhirnya saya benar-benar harus berbaur dengan berbagai orang yang baru pertama kali kenal dan syukurnya mereka baik-baik.

Kami pun diberi waktu beberapa jam dari pagi hingga sore untuk membuat kerangka tulisan untuk kemudian dipresentasikan kepada dosen penilai. Dan berita luar biasanya, kami mendapatkan dosen pembimbing Dr. Tri Wahyuning yang super teliti itu hahahaha.

 

Satu persatu peserta yang sudah siap mengajukan kerangka tulisan dan rata-rata banyak masukan, kritik dan koreksi dari sang dosen dan harus dibetulkan malamnya.

Saya duduk satu meja dengan para mahasiswa muda yang mendapatkan beasiswa. Beberapa ada yang sangat fokus dan lempeng namun beberapa saya menemukan orang yang lebih santai dan dia dari Universtias Diponegoro.

Hal yang mengejutkan lainnya adalah topik yang mereka angkat itu berat-berat. Mulai dari pembantaian PKI Madiun, dukun santet, pembantaian etnis tertentu, sejarah rempah dll.

menunggu giliran diuji yang memakan waktu seharian

Saya memilih tulisan yang pernah saya posting di blog mengenai sejarah jalur kereta api di Banjarnegara namun di ujung waktu akhirnya memilih sejarah tentang tempat saya bekerja hahaha.

Setelah menunggu berjam-jama dari pagi, akhirnya saya mendapatkan giliran menjelang salat isya, bayangkan berapa lama saya harus menunggu. Dan sudah bisa ditebak, banyak sekali koreksi, kritik yang saya dapat namun ajaibnya, sang dosen tadi bisa ketawa-ketiwi, alhamdulilah.

Selepas salat isya, saya kembali ke kamar hotel. Bersih-bersih untuk kemudian melanjutkan kerangka penulisan yang sudah diberi masukan.

Hari berikutnya, sesi terakhir, para peserta masih diberi waktu untuk memperbaiki tulisan dan kemudian mengeprintnya dan juga menyerahkan softcopy kepada panitia.

Upacara Penutupuan, Penghargaan dan Perpisahan

Malamnya, acara penutupan pun digelar. Hingga diumumkan beberapa karya yang mendapatkan nilai tertinggi. Dan yang berhasil adalah karya dari wartawati MetroTV yang mengambil tema sejarah meletusnya gunung di Dieng dan mengeluarkan racun yang membuat nyawa melayang. Selamat…..

berfoto bersama Dosen yang aslinya ramah, Ibu Tri

Saya? Alhamdulillah walaupun tidak mendapatkan apa-apa namun nilainya tidak jelek alias aman hehehe.

sertipikat tanda mengikuti bimtek saat perpisahan

Sesi akhir ditutup dengan acara foto bersama dan salam perpisahan, lumayan sedih rasanya setelah beberapa hari selalu bersama dan kini harus kembali ke tempat masing-masing.

Melipir Ke Lawang Sewu Semarang

Beberapa orang ada yang memilih langsung pulang seusai acara, namun kami memilih menginap hingga hari berikutnya.

Barulah saat selesai acara kami akhirnya bisa berjalan-jalan dan belanja. Kami memilih jalan-jalan ke Lawang Sewu dan Tugu Muda. Oh ya, saat ada waktu luang beberapa jam di awal acara, kami menyempatkan jalan-jalan juga ke kawasan pecinan Semarang bareng pegiat sejarah Magelang.

perpisahan di Lawang Sewu, dok: halim santoso

Pengalaman yang luar biasa, berawal dari ajakan Halim Santoso untuk mencoba mendaftar dan mengirimkan tulisan hingga akhirnya ikutan terpilih dari puluhan peserta. Oh ya sebenarnya si Johanes Anggoro (ruangsore.com) juga terpilih namun jadwalnya bentrok dengan pekerjaannya. Kami yang niatnya ketemuan pun akhirnya gagal, duh maaf ya semoga suatu saat bisa ketemuan langsung.

Sampai jumpa lagi Semarang, Jangan lupa cintai sejarah karena darinyalah kita belajar.

 

 

 

 

2 thoughts on “Pengalaman Mengikuti Bimtek Kepenulisan Sejarah di Semarang

  1. ghozaliq

    Aku entah mengapa nek nulis tentang sejarah itu masih jauh dari kata lumayan, hahaha hawane keingat masa laluuuuu uwuwuwuwuwuw

    Reply

Leave a Reply