Sehari Bersama Ali di Rembang-Purbalingga

Berawal dari giveaway di blog ini, saya kemudian kenal dengan salah seorang pemenang yang usut punya usut ternyata tinggal di Banjarnegara.

Dia bernama Ali Azimi, seorang bloger (tumpukankatakata.wordpress.com) yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat dan kini tinggal dan bekerja di Banjarnegara.

Setelah berkomunikasi panjang lebar melaui DM Instagram akhirnya kami pun kopi darat. Tujuan awal sebenarnya hanya untuk mengambil hadiah berupa tas. Namun akhirnya dia saya ajak sekalian jalan-jalan ke Kabupaten Purbalingga yang notabene tidaklah jauh dari rumah.

Karena dia berkunjung ke Kecamatan Punggelan maka wajib hukumnya untuk mencicipi sajian Pecel dan juga ondol (terbuat dari singkong).

Setelahnya, saya pun mengajaknya sekedar jalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor. Kali ini saya membonceng di belakang.

Monumen Kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman

Kunjungan pertama kali adalah Monumen Kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman yang berada di Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.

kunjungan pelajar di monumen pada hari minggu l dok.pribadi

Ada hal menarik selama kami berkendara, karena tak terbiasa dengan jalanan yang naik turun. Si Ali terlihat kesulitan saat mengganti gigi kendaraan bermotornya terutama saat melewati tanjakan yang cukup menantang.

Sepeda motor pun sesekali harus tiba-tiba berhenti untuk sekedar mengganti gigi, hehehehe.

Sebelum memasuki monumen, kami harus membayar tiket dan parkir masing-masing Rp4,500 per orang. Walaupun hari minggu namun petugas dari DINPAR setempat terlihat berjaga. Hanya ada satu-dua pengunjung memang.

Ini merupakan kunjungan ketiga saya, maka kali ini hanya untuk menemani si Ali melihat-lihat isi dari monumen ini.

masjid di komplek monumen l dok.pribadi

Monumen ini sendiri terdiri dari beberapa bangunan antara lain: museum mini yang terlihat kosong karena minim koleksi, sebuah rumah joglo dengan dua buah atap yang dihubungkan oleh ruangan kecil di tengah-tengahnya, masjid dan juga perpustakaan.

Untuk rumah joglo sendiri berisi ranjang, kursi-meja antik, ayunan bayi dari keranjang bambu serta diorama yang menceritakan perjalanan hidup dari sang Jenderal dari lahir hingga wafat.

Untuk perpustakaan sendiri ternyata tutup, hanya buka setiap hari senin-sabtu saja.

Berbincang di Curug Kalikarang atau Makam

Setelah cukup di monumen kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke curug yang berada di daerah Makam, masih di Rembang-Purbalingga.

Langit mendung dan hujan rintik-rintik mulai datang padahal waktu masih menunjukan pukul setengah sebelas siang.

curug kalikarang/makam l dok.pribadi

Untuk ke curug ini, pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp5000,-per orang.

Saat itu suasana masih sepi walaupun pas hari minggu, lagi-lagi karena cuaca yang kurang bersahabat akhir-akhir ini.

Di curug ini pengunjung juga bisa bermain river tubbing atau sekedar menikmati aliran air dari curug yang begitu deras. Maklum saat ini musim penghujan.

Kami tidak bisa naik hingga curug di bagian tengah karena saking deras dan juga licinnya, berbahaya!!

Beberapa fasilitas jembatan yang ada di sisi sungai terlihat sudah tak terawat dan rapuh, sangat berbahaya jika pengunjung nekat menaikinya.

Hujan makin deras dan kami pun memilih berteduh di warung panggung yang banyak tersedia. Tentu saja tak lengkap tanpa adanya sepiring tempe mendoan dan juga segelas teh manis hangat. Diiringi dengan perbincangan tentang sehari-hari.

Gerimis di Curug Nagasari Tanalum

Setelah menunaikan salat zuhur, kami pun melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Tanalum. Masih di Kecamatan Rembang.

curug nagasari l dok.pribadi

curug nagasari, tanalum l dok.pribadi

Tentu saja karena berada di daerah pegunungan, jalanan sudah pasti menanjak. Lagi-lagi sepeda motor yang dikendarai si Ali terlihat kesusahan melewatinya.

curug nagasari, tanalum l dok.pribadi

Tujuan kami sebenarnya hendak menaiki perbukitan pinus dan damar yang terdapat di desa ini. Namun sayang hujan deras menyurutkan niat kami.

Setelah berbincang dengan anak-anak penunggu tiket kami pun memutuskan untuk melihat Curug Nagasari.

Kami harus berjalan kaki menyusuri jalanan bebatuan yang licin. Setelahnya kami harus menaiki anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak. Harus ekstra hati-hati.

curug nagasari, tanalum l dok.pribadi

curug nagasari, tanalum l dok.pribadi

Siang itu sepi namun akhirnya kami menemukan sepasang sejoli yang berada tak jauh dari lokasi curug. Sepertinya mereka terlihat terganggu dengan kehadiran kami.

Curug ini lumayan tinggi, alirannya deras. Jika mendekat cipratan air dan angin membuat baju basah kuyup.

Berfoto-foto di sini pun susah karena berembun dan ngeblur. Mana baju akhirnya basah kuyup.

Tak lama kami di sini.

Hari makin sore dan kami memutuskan pulang.

Video Blog (vlog) lengkapnya di link youtube ini!!

Terima kasih Ali Azimi atas sehari yang penuh kesan, jangan kapok ndayeng bareng ya? Hehehe sampai jumpa lagi.

4 thoughts on “Sehari Bersama Ali di Rembang-Purbalingga

Leave a Reply to Hendi Setiyanto Cancel reply