Panggil Saja, Pak Yono Jam!

Sebuah lorong sempit, pengap, dan penuh dengan sampah yang berceceran menjadi pemandangan yang jamak ditemui saat ke pasar tradisional. Jalan setapak yang dipenuhi lalu lintas manusia silih berganti menjadi lalu lalang orang-orang menuju arah masing-masing.

Kali ini saya bukan hendak berbelanja sayur mayur maupun kebutuhan sehari-hari melainkan ingin mencari tukang reparasi jam tangan. Sebuah pekerjaan yang lumayan jarang ditemui untuk saat ini tapi mereka masih terus eksis walaupun jumlahnya langka.

Gegap gempita merayakan pergantian tahun seakan tak terasa di kampung kami. Semua berjalan seperti biasanya. Pun dengan orang-orang yang tetap ramai memarkirkan kendaraan mereka yang memenuhi separuh jalan raya. Satu yang pasti, pasar di kampung kami tak pernah sepi oleh pengunjung.

Sebenarnya di Pasar Manis-Punggelan-Banjarnegara ini terdapat dua hingga tiga orang tukang reparasi jam tangan. Yang satu berada tak jauh dari pintu masuk sebelah timur pasar, dekat pasar hewan. Yang satu berada di ujung pintu masuk sebelah barat pasar dan yang terakhir berada di pinggir jalan raya menuju pasar, bersebelahan dengan penjual dawet ayu.

Awalnya saya langsung menuju ke tukang reparasi yang berada di pintu masuk sebelah timur namun saat itu harus antre sehingga mencoba ke tempat lain. Setelah berjalan kaki melewati jalanan sempit akhirnya sampai juga di tukang reparasi yang lapaknya menyempil di antara lapak-lapak penjual tembakau yang ramai oleh pembeli.

Bapak Yono Jam, belakangan saya tahu untuk panggilan akrab si bapak yang satu ini. Sebuah meja kecil yang dibuat sedemikian rupa dengan permukaan yang dibuat rangka empat sisi. Sebuah kursi kayu tua dan juga printilan-printilan alat mekanik berukuran kecil yang tertata rapi dalam wadah. Beberapa jam tangan tua terlihat tergantung di paku yang ditancapkan ke dalam meja yang sudah dibuat sedemikian rupa tadi.

Sekilas, terlihat memprihatinkan pekerjaan ini namun kenyataannya berkata lain. Semuanya dimulai dengan sapaan hangat si Bapak. “Monggo, mas” Silakan mas.

Perawakannya kecil, kulitnya terlihat sudah keriput namun terlihat beliau ini begitu energik. Setidaknya dilihat dari gesturenya saat berhadapan dengan pelanggannya.

Namanya Bapak Yono. Beliau ini berumur sekira 55 tahun. Sudah menekuni pekerjaan sebagai tukang reparasi jam ini sejak tahun 1977. Ia berasal dari Desa Bedagas, Purbalingga. Boleh dibilang dari kabupaten tetangga. Setiap hari pasaran manis (legi) serta hari pasaran lain seperti pon akan berdagang dari satu pasar ke pasar yang lain.

“Nuwun sewu, pak, kulo bade gantos batu jam” (permisi pak, saya mau mengganti batu jam)

“Nggih monggo” (ya silakan)

Tangannya dengan lincah langsung meraih jam tangan yang saya sodorkan.

Sambil fokus bekerja kami pun terlibat percakapan lumayan panjang mulai dari awal mula menekuni pekerjaan ini, keluarga hingga teman-temannya. Berikut kurang lebih isi percakapan kami:

“Sudah sejak kapan,pak menjadi tukang reparasi jam?”

“Saya sudah mulai pekerjaan ini sejak tahun 1977”

“Wah, lama juga ya pak?”

“Iya, semenjak dulu daerah ini masih sepi. Jalanan masih berupa jalan tanah dan setiap hari pasaran harus menginap di warung terdekat karena tidak berani pulang saat sore hari”.

“Dulu, pasar ini masih berupa semak belukar. Masih banyak pohon di sekitar pasar dan luasnya tidak seperti sekarang ini. Dulu saya berjualan di pintu masuk pasar namun sekarang sudah pindah ke tempat ini”.

Sesekali si bapak ini melemparkan senyum yang khas setiap selesai bercerita, begitu seterusnya berulang-ulang.

“Mas-nya masih sekolah atau sudah lulus?”

“Sudah lulus, pak”.

“Anak saya juga ada yang masih sekolah, ada yang sudah bekerja dan ada juga yang masih kuliah”.

“Wah….” (saya tidak menyangka dengan apa yang beliau ceritakan)

“Yang nomor satu sudah bekerja di BRIMOB, yang kedua menjadi seorang Kepala Desa, yang ketiga kuliah hukum di UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman-Banyumas), dan yang terakhir masih duduk di bangku SMP”.

Dalam hati saya makin tertarik untuk mendengarkan cerita beliau lebih lanjut lagi.

“Walaupun biaya per semesternya mahal namun kalau si anak benar-benar niat mau sekolah dan otaknya mampu ya saya siap untuk membiayainya. Tapi sebaliknya, jika tidak serius ya mending jangan kuliah, sayang uangnya karena mahal dan nanti malah berhenti di tengah jalan”.

Beliau pun makin asyik bercerita….

“Alhamdulillah, kini yang sudah pada bekerja kalau sedang punya rejeki lebih sering memberi uang barang sejuta hingga dua juta per bulan (untuk yang menjadi BRIMOB). Sementara yang jadi Kepala Desa kadang tak tentu. Yah berapa sih penghasilannya belum lagi istrinya yang suka hobi belanja, belum lagi jika ada warga yang punya hajat harus menyumbang”.

“Oooo gitu tho pak”.

Kemudian cerita pun makin ngalor ngidul mengenai teman-teman si Bapak yang dikenal karena membuka lapak di pasar ini dan cerita-cerita tentang seluk beluk pemerintahan. Saya sebagai lawan bicaranya hanya menanggapinya sekedarnya jika sudah sedikit menyerempet ke ranah politik.

Sebenarnya masih banyak cerita-cerita yang dilontarkan oleh beliau namun sepertinya kurang menarik karena lebih membicarakan kekurangan orang-orang.

Mulai dari preman pasar yang mengutip upeti setiap hari pasaran (yang ini saya menyaksikan langsung saat itu) dan masih banyak lagi kelakuan-kelakuan para rentenir pasar yang mencekik leher.

Padahal beberapa oknumnya terhitung sudah beberapa kali pergi umroh dan berhaji tapi ya, watak buruk sudah menjadi kebiasaan dan susah dihilangkan begitu saja.

Karena saking asyiknya si bapak ini beberapa kali salah posisi memasang layar LCD jam tangan yang saya bawa. Mulai dari menceng ke kiri dan kemudian menceng ke kanan. Saya pun harus menyuruh membongkar kembali dan memasangkannya hingga dua kali. Yang terakhir benar-benar fatal, posisinya terbalik 360 derajat. Karena saat saya akan pakai posisi jam tangannya menjadi kebalik.

Namun saya kembali meminta dibetulkan dan beliau dengan sabar membongkar kembali mur dan baut yang berukuran kecil.

Akhirnya jam tangan tadi pun pas dengan kondisi semula walau kini sudah bisa diatur kembali pengatur waktu, tanggal dll.

Belakangan saya baru sadar kalau si Bapak ini juga salah posisi saat memasang bagian penutup belakang jam tangan, dan baru saya ketahui pas malah harinya. Hmmm apakah ini pertanda untuk datang kembali ke sana dan meminta foto barang beberapa jepretan? Karena kemarin saya lupa tida membawa gawai sehingga tidak punya foto satu pun.

“Berapa, pak semuanya?”

“Dua pulu ribu, mas”.

Saya pun memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah ke beliau dan mendapatkan kembalian selembar dua puluh ribuan dan sepuluh ribuan.

Tak terasa, hampir setengah jam di sini rasanya begitu cepat. Kami asyik terlibat obrolan ngalor ngidul walau baru pertama kali bertemu.

Saya kini sadar, jika jangan melihat seseorang dari kulit luarnya saja karena kita tidak tahu seperti apa aslinya pun dengan pekerjaan yang dianggap remeh sebelumnya.

“Kapan-kapan main ke rumah, mas. Tanya saja rumah Pak Yono Jam, orang-orang pasti sudah paham semuanya”.

“Nggih, pak, kalau ada kesempatan ya”.

 

*)Karena satu lain hal, saya tidak menyertakan foto beliau di tulisan.

*)Foto ilustrasi: pexels.com (negativespace.co)

2 thoughts on “Panggil Saja, Pak Yono Jam!

    1. Hendi Setiyanto Post author

      saat itu kebetulan nggak bawa hp dan emang ga niat mau nulis ceritanya tapi setelah panjang lebar cerita kok kayaknya menarik kalau ditulis. jadi ya kutulis saja. mau ke sana lagi minta foto tapi kok ya males hahaha

      Reply

Leave a Reply