Apakah Saya Mengidap Gangguan OCD?

Apakah kamu sering merasa apa yang ada di atas meja kerjamu berantakan, tidak simetris, tak teratur dan merasa gatal untuk membetulkannya?. Bingkai foto yang menceng. Posisi laptop yang tidak segaris lurus di meja dll.

Selamat, kamu tidak sendirian. Saya juga punya kecenderungan demikian. Saya sadar betul jika ini mungkin terlihat aneh. Namun saya masih dalam tahap yang bisa ditoleransi. Tidak seobsesif sekali sehingga akhirnya harus merasa tersiksa dengan kebiasaan ini.

Saya sadar betul jika ini merupakan salah satu tanda “gangguan” dalam berperilaku. Semoga saja ini tidaklah menjadi lebih parah dan menyiksa.

***

Apakah kalian pernah menonton film Amerika berjudul “Split”? ini adalah film yang disutradarai oleh M Night Shyamalan dan diperankan oleh actor James McAvoy yang memerankan tokoh Kevin Wendell Crumb. Seseorang yang memiliki dua puluh empat kepribadian dan beberapa di antaranya memiliki sifat yang negatif dan cenderung merusak.

Film ini menceritakan tentang salah satu kepribadian Kevin yang dominan bernama “the beast”. Ia merupakan tokoh antagonis dari kisah David Dunn dalam film Unbreakable yang dirilis tahun 2000 silam.

Split menjadi sequel dari film unbreakable yang khusus menceritakan tokoh antagonis utama dimana tersirat dalam sampul komik dari Mr. Price semasa kecil pada adegan film ubreakable dimana tokoh David Dunn sebagai superhero akan melawan sosok manusia kucing (jaguar).

Dan semalam, saya menontonnya hingga tuntas. Penonton seperti diajak untuk memahami beberapa karakter seperti Patricia, Dennis dll dalam wujud satu tubuh bernama Kevin Wendell Crumb.

Kisahnya bermula dari tiga orang gadis yang tiba-tiba diculik oleh seseorang yang tak dikenal di dalam mobil dan disekap di ruang bawah tanah sebuah kebun binatang.

Dan yang menjadi menarik adalah sosok seorang Dokter Jiwa/Psikolog/Psikiater menyebutnya yang menangani si Kevin tadi sebagai pasiennya.

Oke, untuk lebih lanjutnya mungkin lebih baik nonton sendiri hingga usai.

Yang ingin saya bagi pengalamannya adalah setiap individu bisa saja mempunyai sifat yang berbeda-beda dalam dirinya dan itu bisa muncul secara bergantian. Satu kepribadian bisa saja lebih dominan dibanding yang lain dan juga sebaliknya. Dan ini bisa disembuhkan dengan melakukan terapi tentunya.

***

Lalu kenapa saya menulis seperti ini? Jujur saja, saya sedang bosan menulis sesuai genre blog tentang traveling. Masih banyak cerita perjalanan yang belum ditulis dan sungguh sedang malas-malasnya untuk diceritakan di blog. Mungkin tulisan ini bisa dijadikan selingan dikala kebosanan melanda seorang bloger.

Jadi saya sendiri punya kecenderungan memiliki gangguan OCD (obsessive-compulsive disorder). Yang salah satunya adalah kecenderungan untuk melakukan segala sesuatu secara teratur dan terorganisir.

Memang itu sangat berbeda dengan apa yang saya ceritakan dalam film di atas karena gangguan kepribadian, biasa disebut dengan istilah DID (Dissociative identity disorder). Cuma dalam beberapa adegan terlihat sang tokoh utama mempunyai kecenderungan gangguan OCD juga.

Oh ya, ini bukan OCD nya om Deddy Corbuzier yang pola diet itu. Namanya mirip tapi artinya berbanding terbalik.

Dari banyaknya gejala OCD tadi yang pernah saya baca, salah satunya adalah kecenderungan untuk selalu terorganisir.

Saya memiliki kebiasaan ketika hendak pergi kemanapun pasti jauh-jauh hari sebelumnya gelisah memikirkan apa-apa yang harus disiapkan, dilakukan walaupun pas hari H nya itu masih jauh.

Terkadang kecemasan itu membuat saya gelisah seperti saat hendak berangkat naik gunung beberapa tahun yang lalu ke Gunung Sindoro. Kalau ini sih mungkin wajar ya?

Baca cerita tentang pendakian Gunung Sindoro di tulisan ini.

Bagaimana tidak. Seorang yang belum pernah sama sekali naik gunung, harus siap-siap diri berlelah ria berjalan kaki hingga sampai di tempat tujuan. Namun saya menganggapnya masih dalam tahap wajar, sama seperti ketika seseorang sedang demam panggung sebelum tampil.

Oke balik lagi, salah satu tanda OCD tadi adalah segala sesuatu yang harus terorganisir. Sebenarnya masih ada tanda lainnya namun saya fokus ke yang ini saja. Maksudnya apa? Maksudnya adalah sebagai berikut:

Terorganisir

Segala sesuatu harus diletakkan, ditata, dan dirapikan sesuai angka, warna, atau simetris. Jika semuanya berantakan, penderita OCD akan langsung merasa cemas dan tidak tenang.

Nah saya walaupun tidak parah namun seringkali reflek ketika melihat sampah berserakan dan tidak diletakan ke dalam tempat sampah maka langsung memungutnya. Oke itu mungkin orang lain yang sadar akan lingkungan juga akan melakukan hal yang sama.

Berikutnya, ketika melihat sapu yang diletakan tidak pada tempatnya maka saya pun reflek mengambilnya dan meletakannya di pojok ruangan.

Apalagi melihat sesuatu yang tidak simetris entah itu saat memasang LCD Proyektor, letak sound speaker komputer, kursi yang tidak dimasukan/dipepetkan ke dalam meja, ditambah lagi setiap hari saya berurusan dengan rak-rak dokumen yang jumlahnya ribuan. Rasanya kalau tidak dimasukan semua dalam sekali waktu, membuat kurang sreg.

Ketika melihat barang-barang seperti sisir, catutan kuku, remot dll rasanya gatal kalau tidak meletakan kembali ke tempat asalnya. Lalu apa yang membuat mengganggu?

Yaitu ketika saat dalam kondisi lelah, terkadang saya merasa capek sendiri karena kebiasaan tadi. Seringkali juga orang-orang di rumah protes karena saya suka merapikan barang-barang yang tergeletak sementara masih dibutuhkan. Bahkan orang-orang rumah menjuluki saya sebagai “Tukang Kekes” alias tukang beberes.

Di tempat kerja pun demikian, seringkali printilan seperti kertas, dokumen dll reflek saya rapikan dan saat masih dibutuhkan membuat rekan kerja bertanya dimana barang-barang tadi.

Namun syukurnya, semua itu masih dalam tahap wajar. Saya masih sering menjadi pribadi yang berantakan ketika rasa malas melanda.

Semoga saja, “kebiasaan” tadi itu tidak menjadi-jadi dan justru mengganggu aktivitas sehari-hari. Demikian selingan cerita di blog dikala sedang bosan menulis cerita tentang perjalanan.

Apakah kalian juga punya pengalaman yang sama atau orang di sekitar? Yuk bagi pengalamannya di kolom komentar.

12 thoughts on “Apakah Saya Mengidap Gangguan OCD?

  1. Astriatrianjani

    Tadi saya sempet mikir OCD nya om dedy lho, ternyata beda ya.
    Kalau gangguannya suka beres-beres gitu agak bermanfaat juga ya, apa-apa jadi rapi tapi kalau belom selesai udah diberesin emang nyebelin sih… Wkwk…
    Semoga nggak makin mengganggu ya

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya bukan yang diet itu.
      kalau masih dalam tahap wajar sih gpp emang jadi bersih tapi kalau terlalu ya akhirnya menyiksa diri sendiri karena capek

      Reply
  2. Masbroh

    Saya gak suka yang berantakan. Anehnya, saya malah males banget kalo berses-beres. Seringnya istri yang melakukan itu. Kaya kue Kang?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      beda hahahaha. kalau ini lebih ke ga suka berantakan, harus simetris jika menaruh/menata barang dll dan rasanya belum puas kalau belum sesuai keinginan

      Reply
      1. abesagara

        asiiik, siki nulis seliane travel *tosss, wkwk. aku ya meh pada karo mas broh. Aku ngga suka sesuatu yang berantakan apalagi imbalance. tapi aku kie males banget nek kon ngresiki apa mberesi, nek ana sing berantakan ya wis pasrah. Berharap kue barang2e pada menata diri sendiri, wkwk

        Reply
  3. Yustrini

    Saya kenal tipe orang yang bawaannya suka segala sesuatu harus tertata rapi dg sempurna. Kadang ngeselin, gmn enggak? Mau pergi aja harus menggeser meja yg miring dikit, ada debu dibersihin dulu, nyapu teras, benerin pot yang agak miring. Lama nungguinnya. Belum kalo main ke rumah, matanya menjelajah ke seluruh ruangan. Bawaannya pengen ngerapiin kali ya. He, he, he. Orang ini masuk kategori OCD ga Mas?

    Reply
  4. bowbono

    kalo kasusku tuh,
    misal nyuci pakaian,pas njemur tu biasane diurutkan berdasarkan warna yg sama, atau model yg sama, atau panjang pakaian yg sama haha
    kalau kaya di swalayan/toko buku ngeliat berantakan gitu jg kadang dirapikan, tapi gk selalu sih, kalo pengen aja.
    Tp cenderung di rumah tu berantakan haha
    Tp bisa gatel klo liat sesuatu di luar berantakan ingin merapikan haha

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      jadi 11-12 lah ya, masih dalam tahap wajar namun emang gatel ngeliat yang urut dan rapi. aku pun kadang kalau mood lagi jelek ya berantakan juga kok

      Reply

Leave a Reply