Mengingat Kembali Rasa Gurih Nasi Liwet Solo

Pagi itu, suasana emperan pertokoan yang berada tak jauh dari Pasar Gede Harjonagoro terlihat lengang. Lalu lalang kendaraan pun tak seramai pagi kemarin. Maklum, ini hari minggu. Banyak pertokoan yang memilih menutup tempat usahanya, rehat sejenak dari berburu pundi-pundi rupiah.

Hanya sesekali terlihat mobil bak terbuka lewat dan sisanya banyak orang-orang yang memakai pakaian olahraga, sepeda gunung yang wira-wiri tak jauh dari jalan di sekitar Pasar Gede.

Saya dan Halim (bloger Solo) pun memilih jalan santai sambil berbincang-bincang tentang Kota Solo dan kulinernya yang wajib dicoba saat berkunjung ke sini.

Baca cerita sebelumnya tentang sambutan di Solo pada tulisan ini: Sambutan Dari Solo

Selain terkenal dengan Sate Kere-nya, kota ini juga dikenal dengan gurih dan sedapnya sajian Nasi Liwet. Tak heran, jika bertandang ke kota ini, pelancong akan disuguhi banyak sekali warung-warung yang menjual nasi liwet dengan nama masing-masing.

Baca juga cerita tentang Sate Kere di Solo pada tulisan ini: Mencicipi Sate Sapi Mbak Tug, Seporsi Nggak Cukup!

Namun kali ini, saya mendapatkan rekomendasi dari empunya Solo ini untuk mencicipi nasi liwet yang lain daripada yang lain. Bukan yang sering menjadi rujukan pelancong maupun dari review positif para local guide google. Kali ini saya diajak makan nasi liwet yang berjualan ngemper di trotoar Pasar Gede.

Terlihat seorang ibu dengan rambut keriting yang dikuncir, bibir yang terlihat merah merona dan kaos bergaris merah putih terlihat tengah asyik menata barang dagangan.

Ibu Sri sedang meracik nasi liwet l sumber foto: dokumentasi pribadi

Ada dua buah baskom atau panci blirik yang tertata rapi  di atas meja kecil. Sementara itu di kanan dan kirinya terdapat tempat kerupuk, wadah kecil yang berisi ceker dan daging ayam kampung serta gelas air mineral.

Tak jauh dari pangkuan si Ibu tadi, terlihat wadah kecil yang berisi areh (santan kelapa dan putih telur yang dimasak) dan juga telur dadar berwarna kuning yang dicacah kasar.

Setelah saya mendekat, panci-panci tadi ternyata berisi sayur sambel goreng labu siam (jipang atau jeper). Sayur ini memiliki warna kuah merah pekat dengan beberapa cabe rawit berukuran besar terlihat mengambang.

Di sebelahnya berisi panci yang dilapisi daun pisang dan dijadikan sebagai tempat nasi pera yang sudah diliwet. Semerbak aroma daun salam, sereh, dan santan langsung menyeruak ke lubang hidung. Kemudian di sisi lainnya dijadikan tempat menaruh telur-telur pindang yang berwarna kecoklatan dan membuat siapa saja tergoda untuk segera mencicipinya.

Sebelum benar-benar mencicipi, saya terlebih dahulu menyaksikan dengan saksama bagaimana dengan luwesnya si Ibu menyiapkan kertas minyak yang dilapisi daun pisang untuk kemudian dibentuk seperti pincuk.

berfoto sebelum menyantapnya l sumber foto: Halim Santoso

Dilanjutkan dengan mengambil nasi liwet yang pera dengan sendok yang terbuat dari batok kelapa. Kemudian ditambahkan potongan telur pindang berwarna coklat dengan kuning telur yang cerah.

Tak berapa lama diberi suwiran daging ayam kampung yang terlihat berserat dan nikmat. Hingga kemudia diguyur kuah merah pekat yang berisi sayur sambel goreng labu siam yang telah dipotong memanjang.

Itu belum selesai, dengan cekatannya, si Ibu menambahkan kuning telur yang telah dicacah ke atas nasi liwet tadi dan ditutup dengan beberapa sendok areh berwarna putih yang mempercantik tampilan sajian ini.

Saat saya menuliskannya, air liur rasanya hendak menetes, tergoda untuk mencicipinya kembali.

seporsi nasi liwet solo l foto: Halim Santoso

Saat suapan pertama, rasa gurih dari areh yang terbuat dari santan kelapa ditambah putih telur langsung menyeruak memenuhi lidah. Ada sensasi rasa yang unik, tidak asin dan tidak manis, rasanya seperti memakan sari santan yang kental.

Saat menyendok nasinya, langsung terasa pulen dan pera nya ditambah wangi rempah. Sajian ini tidaklah terlalu manis seperti yang dibayangkan orang-orang ketika mencicipi sajian masakan Solo.

Rasa sayur sambel goreng labu siamnya pun gurih, lembut dan ternyata tidak sepedas yang saya bayangkan sebelumnya. Dan yang terakhir adalah mencicipi telur yang sedari tadi menggoda karena warnanya. Saya membayangkan bagaimana masirnya telur ini karena lama dimasak dengan gula jawa dan rempah, kenyal dan gurih saat lidah mengecapnya.

Suapan demi suapan tak terasa tinggal menyisakan beberapa butiran nasi liwet. Porsinya memang tidak banyak karena itu sangat cocok untuk dijadikan sajian saat mengawali hari. Hanya satu yang kurang, yaitu tidak adanya tempe mendoan hehehe. Maklum sebagai seorang yang hidup dengan keseharian aneka gorengan di kampung, rasanya ada yang kurang kalau makan tidak ada beberapa potong tempe.

Setelahnya, saya tidak langsung beranjak pergi melainkan dengan seksama terus memperhatikan bagaimana si Ibu ini melayani pembeli yang datang. Tak hanya untuk dimakan langsung di tempat melainkan ada yang membungkusnya untuk dibawa pulang.

Oh ya, untuk seporsi nasi liwet yang dijual Ibu Sri ini, pembeli dapat membayarnya dengan harga Rp9,000 saja.

Ibu Sri, orang lebih mengenal namanya. Setelah saya berbincang lebih lanjut, ternyata beliau ini hanya bertugas menjual barang dagangan milik kerabatnya. Sementara itu, semua yang tersaji di sini dimasak oleh saudaranya.

Pagi-pagi buta, dengan mengendarai becak, beliau membawa barang dagangan yang sebenarnya telah dimasak beberapa jam sebelumnya bahkan sehari sebelumnya untuk bahan tertentu. Hingga kemudian kesemuanya tersaji rapi di emperan pertokoan Pasar Gede.

Salah satu hidangan yang proses memasaknya lumayan lama adalah telur pindang. Agar telur tadi bisa masir dan berwarna coklat tua, selain harus kaya akan bumbu dan gula jawa, lamanya proses memasak di atas tungku kayu bakar pun menjadi penentunya. Tak heran jika sudah tersaji seperti ini, rasanya begitu menggoda untuk segera mencicipnya langsung.

Dari hasil baca-baca ternyata nasi liwet ini sebenarnya bukan berasal dari Solo. Menurut sejarahnya, nasi liwet sudah ada sejak zaman nenek moyang.

Menurut Ahli Gastronomi dan juga peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ibu Murdijati Gardjito. Memasak nasi dengan cara meliwetnya merupakan metode yang sudah umum dilakukan masyarakat kita pada zaman dahulu.

Salah satu bukti tertulis adalah yang terdapat pada Serat Centhini pada tahun 1819. Dan penyebarannya meliputi pulau Jawa dan Sumatera. Yang membedakannya adalah pada sajian lauk pauknya yang antara daerah satu dengan daerah lain berbeda.

Tentu saja yang menjadi begitu dikenal selain nasi liwet sunda adalah nasi liwet solo atau nasi liwet jawa, asal serat centhini ini berada.

Nasi liwet ini dibawa oleh para pedagang yang berasal dari suatu daerah bernama Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Mereka adalah para pedagang dari kalangan rakyat biasa yang menjual barang dagangannya hingga ke Solo dan menjadi dikenal banyak orang dengan sebutan Nasi Liwet Solo.

Itulah sejarah singkat tentang keberadaan nasi liwet solo. Jika para pembaca sekalian bertandang ke kota ini, bolehlah sekedar mencicipi gurihnya sajian ini di manapun lokasi penjualnya karena lidah orang dengan yang lainnya berbeda. Sehingga untuk menilai mana yang paling enak sangatlah subyektif.

Sungguh suatu pengalaman kuliner yang membuat seluruh panca indera dibuat bekerja dan berirama satu sama lainnya.

16 thoughts on “Mengingat Kembali Rasa Gurih Nasi Liwet Solo

  1. Johanes Anggoro

    Nasi liwet solo kalo di semarang namanya nasi ayam. Persis plek, tp beda penyebutan doang 😀

    Aku dulu makan nasi ayam deket stasiun purwosari digetok mahal. Seporsi 15rb 🙁

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      tapi kalau boleh milih sih, lebih enak nasi uduk hehehehe, ya soalnya kalau pengin nasi liwet kan kudu jauh datenginnya jadi ya milih yang mudah didapat saja

      Reply
  2. Alid Abdul

    Aku juga pernah diajak ko Halim makan di mari. Mungkin lidah jawatimuran beda sama jawatengahan yak. Menurutku nasi liwetnya manis bangeeetttt, jauh dari kesan gurih hehehe.

    Btw aku seneng kamu sesuai KBBI nulismu. Blogger yang baku memang bloger. Aku masih gak bisa nulis bloger tanpa G ganda. Tetapi saksama mok tulis seksama

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      soalnya ini persis di seberang jalan rumahnya dia hahaha.
      kalau aku sih masih suka masakan yang cenderung manis dan nasi liwet yang ini ya masih wajar, kemarin yang rasanya terlalu manis justru tahu kupatnya, menurutku kelewat apalagi ditambah kecap.
      dulu sering dikritik sama dia (halim)jadi ya makin ke sini belajar nulisnya sesuai KBBI walau masih sering kali salah sih

      Reply
  3. fanny f nila

    krn keluarga sumiku org solo asli, aku udh terbiasa akhirnya dgn nasi liwet khas solo :D. di deket rumah mama ada penjual nasi liwet trotoar yg juga enaaak. awalnya jujur aja ga doyan mas. ga pedes samasekali. tp kemudian ,pas dtg lgs ke sana, dan melihat dlm sayur jipangnya ada banyak rawit, uwaaaaah aku lgs happy.

    sejak itu tiap beli nasi liwet aku minta rawit yg banyak. aku ulek pake sendok, ratain ke nasi, baru mantaaaap!! hahahah ttp yaaaa lidah batak ku ga bisa puas kalo ga nemu sambel

    pembantu mama untungnya jg jago masak nasi liwet enak krn dia org solo. dan udh apal ama kesukaanku yg banyak rawitnya 🙂

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wah aku malah baru ngeh kalau suaminya keturunan jawa(solo) kirain sama2 orang sumatera. kalau sekarang sih udah nggak kuat makan rawit, perutnya bergejolak hebat dan lama sembuhnya

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      betul…maklum saja lidah kami memang terbiasa rasa manis walaupun sebenarnya kalau ke daerah Banjarnegara, sudah nggak trlalu manis maklum sudah di ujung barat jateng

      Reply
  4. Masbroh

    Hah, malah mandan kelalen sama nasi liwet. Padahal waktu cilik, seringnya maem pake nasi liwet. Hanya saja beda kali ya rasanya Kang?

    Nasi liwet biyungku cuma pake gesek sih? haha…

    Reply
  5. Matius Teguh Nugroho

    Kalo nggak salah, Nasi Liwet Bu Sri ini jugalah yang kunikmati pas ke Solo. Emang pas banget buat sarapan karena porsinya nggak terlalu gede. Terus lanjut minum tahok panas di sebelahnya, hehe. Di Bandung juga ada nasi liwet, tapi beda banget dengan nasi liwet di Solo. Di Jabar nasi liwetnya gurih, kering, ditambah lauk pauk seperti ayam goreng, tahu tempe, lalapan, dsb.

    Reply

Leave a Reply to Abeng Sagara Cancel reply