Ibu Sumirah dan Batiknya

Berada di ujung barat Banjarnegara, Desa Panerusan Wetan masuk dalam Kecamatan Susukan. Sebuah Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyumas di sebelah barat. Jalur yang saya lewati pun berada pada jalan provinsi. Membentang dari Banyumas-Banjarnegara hingga Semarang.

Saya sebenarnya pernah dua kali berkunjung ke desa yang penuh dengan potensi dan budaya ini. Beberapa waktu yang lalu pernah mengikuti acara tahunan yaitu Nyadran Gede dan Festival Ujungan. Keduanya berada di Desa Gumelem Wetan dan Kulon. Bertetanggaan dengan Desa Panerusan Wetan dan Kulon. Keempatnya sama-sama menjadi sentra batik khas Banjarnegara.

Agak sedikit membingungkan memang, karena orang sudah kadung menyebutnya “Batik Gumelem” walaupun lokasi pembuatannya berada di empat desa tadi.

Baca juga cerita tentang Desa Gumelem di sini.

Kali ini, menjadi kunjungan yang berbeda. Bersama rombongan famtrip Dinas Pariwisata Banjarnegara, kami menuju Sentra Batik Mirah. Salah satu pelopor kembali dari kejayaan batik di  Kecamatan Susukan.

Perjalanan ditempuh dari kota Banjarnegara menuju arah barat hingga mendekati perbatasan Banyumas. Lokasinya mudah ditemukan, karena di pinggir jalan raya sudah terdapat gapura penanda lokasi batik berada.

Tak lama, hingga mikro bis yang kami tumpangi sudah sampai dan menepi di pinggir jalan dengan kanan kirinya berupa persawahan yang terlihat belum masuk musim tanam.

Sebuah plang berlatar warna hijau dengan tulisan “Batik Gumelem “MIRAH” Produk Panerusan Wetan”, menyambut saya dan rombongan.

plang batik mirah

lokasi batik Mirah

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju rumah si ikon batik Banjarnegara ini. Tak banyak rumah-rumah di sekitarnya, suasananya pun lengang dan sepi, cocok sekali untuk mencari ketenangan.

Dua buah rumah yang digabung dengan bagian tengahnya dijadikan ruangan untuk membatik sudah terlihat di depan. Hanya ada beberapa pekerja yang rata-rata mbah-mbah berusia sepuh yang terlihat tengah membatik.

membatik 2

membatik

Lembaran-lembaran kain yang disampirkan pada bambu-bambu yang dibuat sedemikian rupa terlihat apik saat dilihat. Sementara itu di tengah-tengahnya terdapat kompor gas dengan wajan yang terus mengepul karena dipanasi dari bawahnya. Inilah cairan lilin yang akan digunakan untuk menutup pola yang telah dibuat dengan mengoleskannya melalui canting.

Sekilas Sejarah “Batik Gumelem”

Ibu Sumirah atau lebih akrab dipanggil Mirah ini merupakan generasi keempat dari warisan turun temurun pembuatan batik yang lebih dikenal sebagai Batik Gumelem (untuk penyebutan pada umumnya, walaupun sentranya ada di 4 titik yaitu Desa Gumelem Wetan & Kulon serta Panerusan Wetan & Kulon).

Menurut beliau, batik ini sudah ada sejak zaman pasca Perang Diponegoro (1825-1830). Pengaruh utamanya pun dari ciri khas Batik Banyumasan yang memiliki dasar warna gelap. Cukup beralasan karena lokasi daerah ini cukup berdekatan.

Ada hal yang menarik yaitu pada zaman dahulu, justru orang-orang Tionghoa lah yang menjadi juragan batik. Sementara rata-rata penduduknya hanya menjadi buruh membatik yang dilakukan di rumah-rumah.

Dari rumah-rumahlah nantinya batik yang sudah jadi tadi dikumpulkan oleh pengepul dari etnis Tionghoa. Sama seperti daerah lain di Jawa Tengah, peran etnis Tionghoa ini cukup signifikan dalam perkembangan batik.

Motif-Motif “Batik Gumelem”

Ada beberap motif khas yang dihasilkan di “Batik Gumelem” ini yaitu motif Udan Liris, Rujak Senthe (sejenis tanaman suku talas-talasan atau Araecae) dan Sido Luhur.

menjemur batik

motif iwak kali serayu pada kain yang dijemur

Seiring perkembangan zaman dan setiap daerah menonjolkan ciri khas tempat wisata, makanan dan juga sungai maka muncul motif lain seperti: Motif Lereng Lawe, Cendol Wutah, Iwak Kali Serayu, Salak dll.

Proses Demi Proses Membatik

Proses membatik dimulai dengan membuat desain yang langsung dituliskan ke atas kain mori putih polos. Ada juga yang menggunakan print untuk motif dan divariasikan dengan canting untuk beberapa pola warna tertentu.

membuat pola

proses membuat pola

Penggunaan cap juga ditemukan di sini. Dari variasi tadi lah harga batik ditentukan. Pun dengan permintaan pola tertentu sesuai pesanan.

canting

canting

Proses berikutnya yaitu membantik menggunakan canting yang berisi cairan malam atau lilin ke atas pola yang telah dibuat. Beberapa peserta terlihat mencoba menggoreskan cairan tadi ke atas kain namun seringnya mbleber ke mana-mana. Satu yang wajib yaitu saat hendak mengoleskan canting untuk meniup ujungnya agar tetesan lilin bisa keluar dan membuat goresan pertama tidak mblobor.

meniup

proses membatik menggunakan canting

Dilanjutkan dengan proses pencoletan tujuannya agar menghasilkan warna yang berbeda-beda. Sungguh bukan proses yang mudah untuk dihafalkan. Perlu jam terbang tinggi dan kesabaran agar tahap demi tahap dilewati.

mewarnai batik

proses pencoletan atau mewarnai

Berikutnya adalah proses perendaman dengan warna tertentu. Proses ini dilakukan tak jauh dari tungku-tungku kayu yang berisi panci besar dengan nyala api dari kayu bakar yang terus berkobar.

Dilanjutkan dengan proses nglorod atau penghilangan lilin dengan cara direbus ke dalam panci mendidih. Para pekerja menggunakan bilah kayu untuk mencelup, mengangkat kain batik secara berulang untuk kemudian dipindahkan ke dalam bak berisi air dingin. Dilanjutkan dengan memerasnya agar sedikit kering dan diletakan di atas sampiran atau jemuran.

jemuran batik

Setelah kain dijemur dan kering, proses belum selesai karena harus melewati proses pelililan kembali agar hasilnya halus dan rata, kata Ibu Mirah.

Pemasaran “Mirah Batik”

Pantas saja harga yang dibanderol mulai dari Rp150,000 hingga jutaan rupiah. Hasil batiknya ini sudah melanglang buana di seluruh penjuru nusantara.

Seringkali Ibu Mirah membuat batik sesuai pesanan seperti yang diceritakannya, pesanan dari Palembang.

ibu mirah

Ibu Mirah dan kain batiknya yang sedang dijemur

Beruntungnya, anak lelakinya kini sudah turut campur dalam kelanjutan industri batik ini. Proses pemasaran pun merambah secara daring hingga menggunakan aplikasi Instagram dengan nama “Sukarno Batik”.

Setelah melihat proses panjang tadi, peserta famtrip diajak makan siang dengan menu urab, gudeg, ayam goreng, lalapan, sambal dan juga kerupuk dari singkong.

Seusainya, beberapa orang membeli beberapa lembar kain batik untuk dijadikan oleh-oleh.

galeri batik

galeri batik Ibu Mirah

Sejak mulai populer kembali, “Batik Gumelem” ini menjadi pakaian wajib untuk ASN (Aparatur Sipil Negara) dan beberapa karyawan swasta. Untuk melihat koleksinya, pengunjung bisa meluncur ke dalam rumah bagian depan yang dijadikan galeri untuk memajang aneka kain batik maupun pakaian jadi untuk pria.

Sungguh kunjungan yang kaya ilmu dan pengalaman. Siang itu ditutup dengan berfoto bersama Ibu Mirah dan keluarga serta peserta famtrip.

#AyoPlesirMaringBanjarnegara

6 thoughts on “Ibu Sumirah dan Batiknya

  1. Fanny F Nila

    Jd wajar lah yaaa kalo batik tulis itu mahal :). Aku pgn sih coba belajar ngebatik, tp yakin ga bakal bagus hahahaha. Sayang kainnya ama tinta utk ngebatik, jd kebuang :D. Makanya kalo beli batik tulis aku ga bakal ributin harganya, krn tau proses pembuatannya ga gampang

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      iya sih setuju, mending kalau memang ga niat beli ya jangan nawar yang sampai njelimet, kalau minat ya beli kalau nggak ya nggak usah sok2 menawar. sumpah njelimet banget bikinnya, bayangin lah ibaratnya melukis yang berulang2 terus, manual lagi hehehe

      Reply
  2. Nia

    Informasi tentang batik Gumelem cukup lengkap niih…aku malah baru tahu klo penyebutan Batik Gumelem beda dengan nama tempat atau desa yang memproduksi batiknya.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      iya memang sedikit membingungkan, karena ke mirah batik ini termasuk kunjunganku yang pertama. aku taunya batik yang di desa gumelem bukan panerusan wetan eh ternyata ada lagi tapi orang kadung identik dengan penyebutan batik gumelem.

      Reply

Leave a Reply to Hendi Setiyanto Cancel reply