Kunang Kunang di Bukit Sikunang

Tiba-tiba sepeda motor saya hentikan, saat di depan sana menemui jalan dua arah. Satu menurun dan yang lainnya menanjak. Sejenak saya menghela nafas dan mencoba mengecek aplikasi google maps di layar gawai.

Bukannya menemukan titik terang, malah sebaliknya. Pusing. Ya, saya adalah tipe orang yang sebenarnya tidak bisa membaca peta.

Pernah kejadian beberapa tahun yang lalu saat tersesat di tengah hutan. Beberapa puluh menit hanya berputar-putar. Sementara hujan dan sore semakin mendekat. Baca cerita [lost in gandong waterfall] pengalaman saat tersesat mencari curug di tulisan ini!!.

Ke mana sebenarnya tujuan saya kali ini? Sebuah bukit yang sebenarnya tidak jauh dari rumah namun saya baru mengetahuinya belum lama ini. Bukit dengan pepohonan pinus.

Sebuah bukit yang berada di Dusun Garung, Desa Petuguran, Kecamatan Punggelan, Banjarnegara. Lokasinya dari bekas Kecamatan Lama, menanjak terus.

Sebagian besar jalan yang saya lalui memang 90% mulus, sementara sisanya rusak lumayan parah saat mendekati lokasi yang di tuju. Saat menemui persimpangan jalan, seringkali saya dibuat bingung, sementara saya sudah mengandalkan insting sedari tadi.

Setelah berkendara selama kurang lebih 30 menit akhirnya sampai juga di lokasi. Suasana langsung berubah hijau. Kanan-kiri jalan penuh dengan pepohonan pinus dan damar. Lumayan kaget juga karena tak jauh dari rumah ada lokasi yang menarik seperti ini.

rimbunnya pohon pinus menjadi ciri khas bukit ini

Kini lokasi bukit ini diberi nama “Bukit Sikunang”. Tentu saja sudah dikelola dengan lumayan baik.

Sebelum benar-benar ke lokasi, sepeda motor saya sudah dicegat oleh segerombolan anak muda. Mereka bukan hendak merampok melainkan meminta uang untuk membayar biaya parkir. Tak hanya sampai di situ saja. Selepas memberikan selembar uang dua ribu rupiah, karcis parkir pun berpindah tangan. Selanjutnya, sepeda motor mereka parkirkan ke tempat yang aman.

dari kejauhan nampak rumah-rumah yang menyembul di tengah hutan

Karena ini adalah hari minggu, pengunjung pasti nantinya bakalan ramai. Untungnya saya ke sini pagi-pagi sekali saat suasana masih lumayan sepi.

Disambut sebuah gapura dari bambu, saya pun masuk dan kali ini dicegat lagi untuk membeli karcis masuk sebesar tujuh ribu rupiah.

Deretan pedagang yang menggunakan tenda-tenda dari terpal terlihat masih menata lapak dagangan mereka masing-masing.

Oh ya kawasan Bukit Sikunang ini masuk dalam daerah operasional PERHUTANI. Menurut pemandu yang berbincang dengan saya, mereka sudah meminta izin untuk mengelola kawasan ini. Mereka-mereka ini adalah para pemuda yang berinisiatif untuk mengelola lokasi wisata ini.

Lalu apa yang bisa dilakukan di bukit ini?

Hal pertama yang langsung saya nikmati adalah suasana sejuk dan semilir angin yang tanpa polusi. Dari sini saya bisa melihat perbukitan hijau yang mengelilingi bukit ini.

Beberapa rumah-rumah warga terlihat menyembul di antara rimbunnya hijau pepohonan di jurang dan bukit seberang. Sisanya beberapa rumah pohon yang dapat digunakan untuk bersantai sambil merenung.

Beberapa spot selfie bisa ditemukan di sini, tak beda jauh dengan tempat wisata kekinian. Selain rumah pohon, terlihat juga beberapa gazebo yang masih dalam proses pengerjaan.

sama seperti wisata bukit-bukit lainnya, disediakan juga spot berfoto seperti ini

Saya pun berjalan bersama salah seorang pengelola lokasi bukit ini  dan berbincang-bincang mengenai awal mulanya dibuka dll.

Tak jauh dari gazebo terdapat sebuah makam entah milik siapa karena tidak terdapat papan petunjuk. Pun saat saya bertanya kepada pemuda tadi, ia tidak tahu. Hanya sebuah pagar yang terbuat dari kaca serta atap yang terlihat masih baru, berdiri di atas pusara makam ini.

pusara makam anonim di puncak bukit sikunang

Beberapa meter dari lokasi makam anonim tadi terdapat sebuah pondasi yang tadinya sebuah tugu. Kata pemandu, tugu ini sudah ada sejak zaman dahulu. Entahlah ini ada sejak zaman Belanda atau tugu yang dibuat oleh PERHUTANI?.

Dari kejauhan, sebuah bukit terlihat dan lokasinya sudah berada di luar Kabupaten Banjarnegara lebih tepatnya Kabupaten Purbalingga. Begitulah kira-kira info yang saya dapat dari pemuda tadi.

Lalu aktivitas yang saya lakukan berikutnya adalah duduk-duduk melamun di atas rumah pohon sambil menikmati hijaunya pemandangan, suara kicau burung kutilang dan semilir angin yang tak henti-hentinya berhembus. Benar-benar ini yang saya butuhkan sekarang, melamun saja dan rasanya damai sekali.

duduk melamun di rumah pohon

Seandainya saya tadi membawa notebook tentu menjadi lokasi yang sangat cocok untuk mencari ilham untuk menulis, setidaknya mendapatkan mood yang baik.

Setelah dirasa pengunjung semakin ramai, saya pun memutuskan untuk mengakhiri kunjungan. Saya merasa sudah terusik. Ditambah lagi banyak ABG yang berisik.

Saat berjalan pulang, tak jauh dari pintu gerbang terdapat pertunjukan musik tradisional thek-thek yang menggunakan angklung dan alat musik bambu lainnya.

hiburan musik thek-thek saat hendak pulang

Lalu di manakah keberadaan kunang-kunang di bukit ini? Pengunjung dapat melihatnya saat malam hari. Lokasi ini pun sudah dijadikan untuk membuat kemah. Menikmati matahari terbit dari sini, lumayan indah. Begitu ucap sang pemuda yang saya temui tadi.

Jadi kalau kalian kebetulan mampir di Punggelan, boleh sesekali ke sini untuk sekedar ingin memanjakan mata dan pikiran dengan suasana alam yang masih alami.

15 thoughts on “Kunang Kunang di Bukit Sikunang

    1. Hendi Setiyanto Post author

      pas tanya2 sih pengunjung yang sudah booking bisa bikin tenda atau nginep di sini tapi ya kudu ramai2 soalnya serem juga karena ada makam di puncak bukit ini.

      Reply
  1. Eko Nurhuda

    Yeah, akhirnya pakai .com juga. Tinggal nambahin sertifikat apalah itu namanya biar lebih secure dengan https. Biar lebih dilirik Google ceritanya.

    Btw, wisata bukit begini biasanya juga bisa buat camping ya, Mas? Di Pemalang sini mulai banyak nih destinasi selfie begini. Cuma sayang, pengelolaan masih ala kabar. Ada yang baru setahun berjalan udah parah banget kondisinya. Padahal sempat viral.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya nih, eh nanti googling deh biar muncul sertifikat google.
      memang sih rata2 sekarang destinasi bukit2an seperti itu, dan mirip2 juga, semoga tetap bertahan dan terjaga sih.

      Reply
  2. Ikhwan

    Kalau nama bukitnya Sikunang, mestinya kalau malam beneran banyak kunang-kunangnya berarti ya. Btw, kalau yang musik thek thek itu kaya gimana, mas? Semacam perkusi gitu kah?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      seharuse sih begitu, tp pas malam apakah benar ada kunang2nya aku kurang paham karena belum melihat sendiri hehehe. thek-thek itu mirip alat musik angklung tapi ini dipukul dan kombinasi juga dengan angklungnya

      Reply
  3. Nia

    Ternyata cukup banyak ya potensi wisata di Banjarnegara. Yg ini menarik jugaa…semoga kapan2 bisa menjajal liat kunang2 di sini…

    Reply

Jangan lupa tinggalkan komentar...