Apa Kabar Mustika Keramik Klampok?

Terakhir kali menginjakkan kaki di Mustika Keramik Klampok beberapa tahun yang lalu bersama Faizal Arif Santosa, salah seorang blogger yang saya kenal karena famtrip. Kini saya sudah di sini, di tempat ini kembali. Romansa kembali terulang. Kembali bersama teman-teman baru dari berbagai daerah dan ragam profesi.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara lah yang membawa saya ke sini. Semuanya masih sama, berhenti pada jalanan lebar yang menghubungkan Banjarnegara dengan Purwokerto hingga Semarang. Pun dengan kondisi di kanan kirinya berupa deretan kios-kios yang memajang hasil karya keramik beraneka bentuk dan ukuran. Semuanya masih sama, masih sepi saja.

Cerita mengenai kunjungan ke Mustika Keramik Klampok, sejarah berdirinya hingga bertahan detik ini, sudah saya tulis lengkap di sini.

Menyapa Kembali

Siang itu, rombongan famtrip disambut oleh seorang ibu-ibu berperawakan kecil, berkacamata dan juga mengenakan kerudung. Saya masih ingat betul kalau ini sepertinya bukan si Ibu pemilik galeri dan lokasi kerajinan keramik ini. Benar saja, beliau sedang ada acara di Solo dan kini yang menyambut adalah salah satu pegawainya.

Jangan heran dengan semua pegawai-pegawai di sini yang rata-rata berusia lanjut. Entah karena regenerasi yang terputus atau karena minat anak-anak muda yang tak seantusias dahulu. Pilihan profesi memang beragam dan dunia digital paling diminati saat sekarang ini.

Kalau saat kunjungan pertama, kami harus terlebih dahulu meminta izin untuk melihat-lihat, dan berujung diperbolehkan asal jangan banyak tanya-tanya kepada para pegawai yang fokus bekerja. Kini berbeda, kami disambut dengan begitu hangat. Pun dengan berjejernya sepaket teh poci dari keramik, gelas keramik, dan juga gula batu ditemani beberapa piring tempe mendoan. Kesemuanya sudah tertata cantik di atas meja-meja yang sama juga terbuat dari keramik.

Kami berkunjung di saat yang kurang tepat, saat hari minggu. Hari dimana banyak pegawai yang libur, sibuk dengan kegiatannya bersama keluarga masing-masing. Terlihat hanya ada empat orang, tiga orang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak. Mereka terpencar dan fokus dengan bagiannya masing-masing.

Melihat Proses Pewarnaan Keramik

Ada seorang ibu yang terlihat tengah mengaduk adonan cairan berwarna merah bata dalam bak berukuran lumayan besar. Setelahnya, beliau mencelupkan keramik-keramik yang masih setengah kering secara bergantian sehingga warnanya berubah.

adonan pewarna

proses pencampuran warna

Saat saya tanya, apa isi cairan di bak tadi, si ibu pun menjawab: “isinya berupa campuran bubuk warna, air dan juga bubuk bata merah” inilah proses pewarnaan yang paling sering ditemui untuk produk cangkir dan poci yang khas itu.

Pembuatan Kerajinan Keramik Dengan Teknik Cetak

Bergeser lagi, terlihat seorang bapak sedang menepuk-nepuk adonan tanah liat yang sudah padat ke dalam cetakan model ikan. Inilah proses atau teknik membuat kerajinan keramik dengan cara cetak. Hal pertama yang harus dilakukan adalah, memadatkan adonan tanah liat untuk kemudian diletakan ke dalam cetakan. Berikutnya, pukul-pukul adonan tadi hingga memenuhi seluruh cekungan cetakan.

mendengarkan penjelasan

mendengarkan penjelasan tentang keramik

Proses berikutnya, dengan menggunakan tali yang sudah dibuat sedemikian rupa, dipergunakan untuk memotong sisa tanah liat yang tidak masuk cetakan secara merata. Teringat saat-saat zaman dahulu, masih ada yang menjual sabun batangan dengan cara dipotong menggunakan tali, benar-benar ekonomis untuk kalangan ekonomi ke bawah.

Setelahnya, tanah liat yang sudah masuk dan padat ke dalam cetakan, ditekan menggunakan tanah liat yang sudah padat secara memutar hingga akhirnya ke tengah cetakan untuk kemudian adonan tadi lepas.

Kini, tanah liat yang berbentuk ikan itu telah lepas dan mirip kue-kue khas jepang. Tinggal merapikan serpihan-serpihan tipis di sekelilingnya dengan hati-hati untuk kemudian dijemur di terik matahari hingga kering.

Proses Menghaluskan Permukaan Keramik

Di atas meja panjang, terlihat juga seorang ibu yang sedang memoles-moles mangkuk-mangkuk  dengan tutup milik stupa Candi Borobudur dengan menggunakan kain kering. Sesekali, beliau menambahkan air untuk membuat proses tadi lancar hingga menghasilkan permukaan keramik yang licin dan rata.

proses menghaluskan

menghaluskan poci-poci

Pekerjaan tadi dilakukan dengan seksama dan hati-hati. Hasil kerjanya sudah terlihat dari bertumpuknya keramik-keramik di depannya yang semakin menggunung.

Teknik Putar Dalam Proses Pembuatan Keramik

Kami tinggalkan si ibu tadi dan kini si bapak memeragakan cara membuat guci dan bentuk lainnya yang simetris menggunakan alat putar manual. Kelihatannya mudah namun saat peserta mencobanya hasilnya mencong sana-sini. Perlu perasaan dan jam terbang tinggi hingga menghasilkan komposisi yang sempurna.

Melihat Tungku dan Cerobong Asap Untuk Membakar Keramik

Bergeser pada bagian belakang bangunan yang terlihat jadul ini, pengunjung akan menemukan cerobong besar dari batu bata tempat membakar hasil keramik pada zaman dahulu.

Kini semuanya sudah menggunakan oven dengan pemanas dari tabung gas LPG. Bayangkan saat dahulu menggunakan kayu bakar yang menghasilkan panas serta asap. Belum lagi dengan setiap beberapa jam harus mengatur dan menambah kayu bakar. Zaman sudah berubah.

Menikmati Secangkir Teh dan Tempe Mendoan

Setelah puas mendengarkan proses demi proses pembuatan keramik, rombongan diajak untuk menikmati secangkir teh dengan gula batu ditemani tempe mendoan yang sedari tadi sudah disiapkan.

Panas-panas seperti ini ngeteh langsung dengan perabotan yang dibuat di sini. Kami pun saling bercengkerama  satu sama lainnya.

keramik jadi

salah satu keramik dengan teknik glasier

Beberapa peserta rombongan famtrip terlihat membeli produk. Sudah seharusnya seperti itu, tak sekedar melihat namun juga membelinya, terkecuali saya.

Kunjungan yang singkat memang namun kini saya tahu, jika Mustika Keramik Klampok masih baik-baik saja, semoga terus bertahan di tengah pergerakan zaman yang begitu cepat.

18 thoughts on “Apa Kabar Mustika Keramik Klampok?

    1. Hendi Setiyanto

      hadeehhhh dimulai dari nol lagi ini hahaha, semoga aku kuat meninggalkan yang telah bertahun2 bersama *halah* . kalau benar2 ingin belajar sih mending ke sini jangan bawa gadget biar fokus.

      Reply
  1. Evi

    Belum pernah melihat proses pembuatan keramik. Beruntung dirimu mas, dibawa fam trip ke tempat seperti ini. Ngomong-ngomong si ibu yang mengaduk warna, langsung pakai tangan telanjang begitu ya, gak pakai sarung tangan?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      alhamdulillah bu, ini kunjunga ke dua saya setelah sebelumnya berdua dengan teman. iya pas saat itu saya lihat memang nggak pakai sarung tangan. oh ya bu, kapan2 bisa mampir ke pasar lodra jaya masih di banjarnegara, barangkali mau nostalgia bareng ella fitria dan idah ceris hehehe

      Reply
  2. Fanny F Nila

    Aku juga kalo melihat orang bikin keramik pakai alat yg diputar itu, kliatan gampamg banget yaaaa :p. Padahl aku tau sih, kalo aku yg bikin dijamin asimeris, mencong kesana kemari :p. Tp kepengiiiin bisa coba :D.

    Reply
  3. emakmbolang.com

    Aku pingin banget datang ke tempat gerabah seperti ini, selain melihat aktiftas juga pingin belajar.

    oooo ada baiknya kalau kesini izin dan janjian ya. trus nggak banyak tanya sama yang kerja dan hindari hari minggu.sipppp

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      iya mbak, kudu izin, minimal pas udah di depan galeri, minta izinnya ke ibunya, soalnya bengkelnya ada di belakang rumah. tapi kalau sudah masuk, ramah2 kok orangnya yang di dalam.

      Reply
  4. Selamat Hari Air

    maca kalimat “Semuanya masih sama, masih sepi saja.” jan langsung sedih
    rasane eman-eman banget ya potensi kaya kue malah sepi…

    semoga bisa rame maning lah ya, aamiin

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      pengin nulis sing sebalike tapi nyatane pas ke sana lagi dan lagi memang sepi, hiks. lalu ku lihat satu persatu koleksi yang dipajang dan ada yang mungkin sudah puluhan tahun tak tersentuh. penyebabnya apa aku juga kurang tau

      Reply
  5. Rifqy Faiza Rahman

    Di era pasar bebas seperti sekarang, sudah semestinya pemda setempat melakukan langkah nyata sebagai perlindungan terhadap produk-produk UMKM lokal. Bukan berarti mereka tidak punya keberanian berinovasi, tapi mau bagaimana pun, mereka harus jadi tuan rumah di daerah sendiri, kan?

    Di Kota Malang juga ada kampung keramik Dinoyo. Pabriknya masih ada, tua, dan sudah tidak berfungsi. Produksi kini dikembalikan ke rumah-rumah unit usaha di sekitarnya. Pada akhirnya mereka jalan sendiri-sendiri, tergantung pesanan yang datang.

    Jadi, ya tidak heran ketika pekerja rata-rata sudah tidak terbilang muda. Dalam hal ini, pelaku usaha bersama pemangku kebijakan semestinya bisa duduk bersama. Memberikan jaminan bahwa usaha ini masih prospek untuk jangka panjang, sehingga anak-anak muda tergerak ikut terjun langsung di dalamnya. Yang merantau jauh, pulang ke kampung, membangun desanya.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      nasibnya kurang lebih sama sih. rata2 di sini membuat untuk keperluan pemesanan dalam jumlah besar. sementara untuk mengandalkan penjualan langsung di galeri ya butuh kesabaran ekstra. penginnya sih keramik ini berjaya seperti era 80an, tapi ya perlu kerja keras dari semua pihak.

      Reply
  6. Nia

    Sebenernya banyak kermaik yang bikin aku galfok dan pingin tak bawa pulang…tapi takut pecah di jalan. Kmrn itu cukup sesuai ekspektasi sih, bisa lihat langsung proses pembuatannya, dan nyoba pake alat putarnya juga

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      bener sih, termasuk yang pernak pernik itu memang lucu kalau buat hiasan rumah tapi ya gitu repot bawanya dan kalau aku memang kurang terlalu suka dengan pernak-pernik kayak gitu, riweuh wkwkw

      Reply

Jangan lupa tinggalkan komentar...