pasar lodra jaya

Menilik Rintisan Pasar Wisata Lodra Jaya

Saat sekarang ini, berwisata seakan menjadi sebuah kebutuhan setiap akhir pekannya. Berbagai macam tempat wisata buatan, alam, edukasi, dll selalu dipenuhi oleh para wisatawan. Dengan memanfaatkan generasi milenial yang haus akan eksistensi di sosial media maka pemerintah seakan sedang gencar untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik itu lokal maupun mancanegara. Destinasi-destinasi wisata baru pun bermunculan.

Lebih spesifik lagi, kini banyak bermunculan pasar-pasar tematik tradisional di wilayah Jawa Tengah. Sebut saja Pasar Papringan di Temanggung, Pasar Karetan di Kendal, Pasar Kumandang di Wonosobo. Kesemuanya menyasar generasi milenial dan pemerintah menyebutnya sebagai rintisan destinasi wisata digital. Memanfaatkan sosial media untuk mempopulerkan pasar-pasar tadi.

Baca juga cerita mengenai Pasar Manis di sini.

Banjarnegara, tempat saya tinggal seakan tak mau kalah untuk menciptakan pasar-pasar sejenis. Berada di Desa Winong, Kecamatan Bawang terdapat rintisan pasar wisata bernama Pasar Lodra Jaya. Lokasinya tak jauh dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah-Winong.

logo pasar lodra jaya

Logo Pasar Lodra Jaya l Sumber: IG LodraJaya

Memanfaatkan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Banjarnegara, Dinas Pariwisata, Pokdarwis, Warga dan pemerintahan setempat, maka digagaslah Pasar Lodra Jaya.

gapura desa wisata Winong

Memasuki gapura Desa Wisata Winong

Menempati lahan perkebunan dan lokasi pembuatan batu bata milik Bapak Solatun (warga setempat) lahan kebun dengan tanaman kayu Albasia pun diubah menjadi lokasi pasar. Lokasinya persis di pinggir jalan Desa Winong. Sementara itu di kanan kiri dan jurangnya diapit oleh perkebunan jagung, persawahan serta sungai.

Tebing-tebing tanah pun dibuat sedemikian rupa agar rata dan bisa dilewati pengunjung yang datang. Hari ini (Minggu, 18 November 2018) merupakan acara Grand Launching Pasar Lodra Jaya.

Pasar lodra jaya.jpeg

Suasana pasar dari atas bukit mini

Saya pun penasaran seperti apa rupa dari pasar ini dan sekitar pukul tujuh pagi sudah berangkat menuju ke lokasi ini. Tak perlu waktu lama karena lokasinya mudah ditemukan. Dari Terminal Proyek Mrican, saya berkendara menuju Pertigaan SMKN 2 Bawang menuju arah Mantrianom-TPA Winong.

Pagi itu lumayan ramai, dengan membayar karcis parkir Rp.2000 dan ndilalah yang bertugas memarkir adalah suami dari Idah Ceris, blogger dan pegiat wisata Banjarnegara. Saya pun langsung bablas melewati celah tebing tanah dengan terlebih dahulu disambut gapura replika Candi Arjuna Dieng.

Pengunjung pun akan disambut dengan sebuah gubuk dari bambu dan atap jerami yang digunakan untuk pembelian uang tradisional yang digunakan untuk bertransaksi di pasar ini.

pasar lodra jaya

Suasana Pasar Lodra Jaya

“Ketip” nama mata uang yang dipakai dengan nominal setiap 1 Ketip senilai Rp.2500,-. Mungkin para pembaca sudah familiar dengan konsep pasar seperti ini apalagi yang pernah berkunjung ke pasar-pasar yang saya sebutkan di awal paragraf tadi.

mata uang ketip

“Ketip” mata uang yang digunakan di pasar ini

Ekspektasi saya saat datang tidaklah ingin berlebihan karena takut tak sesuai harapan namun saya sangat menghargai usaha para panitia dan orang-orang di balik layar atas terselenggaranya Pasar Lodra Jaya.

Menurut info, acara Grand Launching pasar pada hari ini (minggu, 18/11/2018) akan dihadiri oleh Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono.

Karena diinisiasi oleh GENPI Banjarnegara, tentu saya kenal dengan orang-orangnya. Sebut saja Idah Ceris, Ella Fitria, Imam dll. Pun sebelum memulai menjelajah, saya berkesempatan untuk ikut jaga di gubuk tempat penjualan uang Ketip. Oh ya, saya bukan bagian dari GENPI manapun, saya hanya blogger independen biasa saja.

Kenapa dinamakan Pasar Lodra Jaya?

Menurut sumber yang saya tanya, Lodra Jaya adalah nama salah seorang seseupuh Desa Winong yang merupakan mantan prajurit Pangeran Diponegoro.

Lodra Jaya merupakan prajurit Pangeran Diponegoro yang kemudian oleh masyarakat setempat diangkat menjadi lurah. Nama Lodra Jaya kini menjadi tradisi budaya oleh masyarakat setempat, sebagai sebuah penghargaan pada pendiri desa. Hingga dijadikan nama Pasar yang diadakan tiap minggu ini.

Lalu apa saja yang menarik di Pasar Lodra Jaya ini?

  • Tentu yang pertama kali harus dicoba adalah Dawet Ayu Banjarnegara, sebagai minuman khas rasanya sayang kalau dilewatkan atau disajikan kepada para wisatawan.
  • Kemudian ada Cimplung (singkong yang direbus dengan air nira/aren) rasanya manis, empuk dan wajib dicoba.
  • Nasi Jagung, nah mungkin dulunya nasi jagung ini sudah tak asing lagi dalam keseharian masyarakat namun sekarang menjadi barang langka. Saya pun mampir ke penjual nasi ini namun saya membungkusnya. Dengan uang 4 Ketip saya mendapat segenggam nasi jagung putih yang dibungkus daun pisang dan jati. Oh ya di sini penggunaan plastik dilarang.
  • Ada juga aneka Urab, Buntil, Peyek Juwi (ikan asin) petai rebus, Gejos (olahan singkong).
  • Nah yang terakhir, saya membeli 1 Ketip, Gejos yang disiram kuah sambel kacang, rasanya asin, manis gurih namun sayang sudah tidak hangat lagi Gejos-nya. Untuk petai, saya membelinya 2 keris seharga 3 Ketip.
  • Aneka jajanan pasar mulai dari Arem-arem, Risoles, kue-kue basah, jagung bakar, sate ayam dll. Saya tidak sempat mencicipinya satu persatu.
  • Ada pecel, ayam goreng dan aneka gorengan yang seakan familiar dengan keseharian masyarakat Banjarnegara. Rata-rata harganya untuk gorengan 1 Ketip dan pecel sekitar 3 Ketip.
  • Ada juga kopi Banjarnegara di jurang sana, lokasinya cukup susah diakses apalagi ini baru ditata sehari sebelumnya dan apesnya diguyur hujan hingga tanah menjadi gembur. Harus ekstra hati-hati.

Pada tengah-tengah lokasi disediakan kursi dan beberapa meja untuk tempat bersantap sementara di depannya terdapat panggung utama untuk pertunjukan musik.

Tips saat ke sini:

    • Pakai sandal gunung atau jepit karena lokasi berupa tanah yang masih baru diratakan.
    • Pakai kaca mata, topi dan baju simple karena panas dan bikin gerah.
    • Usahakan untuk tidak sarapan terlebih dahulu saat ke sini sehingga bisa puas makan.
    • Bawa uang yang banyak biar bisa icip-icip semuanya.

Yuk yang ingin berwisata yang tak jauh dari rumah, khususnya yang tinggal di Banjarnegara, boleh lah mampir ke Pasar Lodra Jaya yang dibuka setiap hari minggu, pukul 07.00-12.00 Wib.

#AyoPlesirMaringBanjarnegara

37 thoughts on “Menilik Rintisan Pasar Wisata Lodra Jaya

  1. Eri Udiyawati

    Pasar Lodra Jaya ini memang pasar kekinian yang viral di jagad maya. Bahkan karena viral begitu, disebut sebagai pasar digital.

    Yang aku suka dari Pasar Lodra Jaya itu sega jengkolnya, uenaaak tenaaan…

    Reply
  2. Johanes Anggoro

    Ya seperti pasar-pasar kekinian lainnya lah ya hehehe
    Btw aku suka dengan caramu memberi judul Pasar Wisata, bukan pasar digital. Karena pasar-pasar tersebut memang dibuat untuk wisata, bukan jual beli pada umumnya. 😀

    Reply
  3. jelajahlangkah

    Terlepas dari istilah pasar digital atau pasar milenial atau pasar wisata, semoga tidak menjadi pasar yang angot-angotan… Hanya hype sebentar, njuk blas ilang.

    Tanpa mengecilkan siapa penggagasnya, sebaiknya konsep copy paste pasar model seperti ini sebaiknya dibarengi dengan riset yang panjang. Sehingga tidak hanya seumur jagung usianya. Sayang…

    Ini sudah saya temukan di beberapa pasar digital di belahan luar pulau Jawa.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setuju sekali dengan pendapate mas e. saya sebenarnya bukannya pesimis dengan adanya pasar2 seperti ini. cuma semoga saja bisa bertahan ya….menemukan sesuatu yang benar-benar unik untuk dipertahankan dan menjadi ciri khas.
      setuju sekali untuk tidak sekedar euforia semata. entahlah sepertinya ini sudah didesain secara nasional buktinya hampir daerah ada pasar semacam ini. : )

      Reply
      1. jelajahlangkah

        Kata kuncinya disini menurut saya:
        “menemukan sesuatu yang benar-benar unik untuk dipertahankan dan menjadi ciri khas (daerah tersebut)”

        Jangan hanya copy paste, itu konsep keblinger menurut saya.

        Pasar Papringan bisa sukses dan bertahan sampai saat ini (bahkan saya belum pernah main ke sana… syeeem kan) karena konsep yang matang dari penggagasnya. Disamping itu mereka bisa menggali dan menemukan apa yang jadi ciri khas dari daerah setempat. Mengolahnya dengan pandai.

        Kalau konsepnya hanya niru-niru thok, saya sih pesimis bakal bertahan. Jujur saja

        Reply
        1. Hendi Setiyanto Post author

          ya…memang pasar papringan dengan rimbun bambunnya sudah sangat ikonik bahkan bagi saya yang belum pernah ke sana. apakah karena kesukesan tadi maka beberapa pihak ingin mengcopasnya? entah lah saya kurang paham.

          Reply
          1. jelajahlangkah

            Konsep paling gampang memang copy paste, mas… Mereka pikir bisa langsung aplicable, padahal harus ada riset tentang masyarakat, demografi, budaya dll. Itu yang terlupakan.

            Contoh mudah ya letter sign segede gaban yang ada di tempat-tempat wisata. Menarik? Nggak sama sekali, menurut saya.

            Ini jadi bahan riset dan tulisan saya selanjutnya, belum selesai hehehe

          2. Hendi Setiyanto Post author

            hahaha dan sayangnya itulah wajah mainstream lokasi wisata kita saat ini. menurut saya pribadi tidak menyatu dengan teman alam yang sudah natural adanya

          3. Hendi Setiyanto Post author

            dan banyak memang rekan media, blogger dan pegiat wisata yang memberikan pendapat tak jauh beda tentu dengan argumen yang jelas, menurut saya itu lebih elegan ketimbang cuma nyinyir tanpa kejelasan pendapat.

  4. Desfortin

    Dawet Ayu itu khas Banjarnegara ya Mas? Aku jg suka DA, hee…

    Btw, ini psar termasuk para baru gitu ya Mas Hendi?
    Mantap ya di sana, bnyak pilihan utk tmpat wisata atau plesir.

    Reply
  5. Amir Mahmud (@amir7788)

    Pasar digital, di tempatku juga ada, tapi belum sempat niliki. Btw keren idenya, ada pasar seperti ini, seperti pasar di serial laga angling darma yang kalo beli pake mata uang benggol

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      apa nama pasarnya? wajar karena menpar menargetkan tiap kabupaten punya pasar seperti ini. hahaha iya kayak zaman film layar tancep, terus pas lagi makan ada sekelompok penjahat yang minta tuak langsung dari bambu dan bikin onar.

      Reply
  6. Fanny F Nila

    Isshhhh makin banyak ya pasar yg dibuat wisata gini. Pake uang yg dibuat khusus :D. Menarik sih jadinya. Apalagi makanan dan minuman yg dijual khas dari masing2 daerah. Dari dulu aku penasaran dawet banjarnegara mas 🙂 . Moga2 ada kesempatan bisa main ke banjarnegara lagi 🙂

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      tak heran menjamur di tiap kabupaten, ini programnya kemenpar melalui generasi pesona indonesia untuk membuat destinasi digital di seluruh nusantara begitulah kira2 saat tanya orang di balik layar pasar ini

      Reply
    1. Hendi Setiyanto

      eh aku juga baru mau beli dawetnya tapi keburuan untuk cepat2 pindah lokasi jd ya belum sempat menikmati hidangan yang lain. kebanyakan foto2nya sih.

      Reply

Jangan lupa tinggalkan komentar...