Dieng Lagi? Mengapa Tidak?

Judul tulisan di atas sepertinya menunjukan reaksi atas seseorang saat diajak ke Dataran Tinggi Dieng. Reaksi yang bisa saja berbeda saat di awal-awal namun setelah berkesempatan merasakan kembali pengalaman di sana, bisa saja justru sebaliknya, mengapa tidak?

Saya bahkan mendapatkan respon-respon yang positif, penasaran dari orang-orang yang sama sekali belum pernah menginjakan kaki di tanah dewa ini. Sebut saja salah seorang teman yang tinggal di Jakarta, ia berujar jika rasanya belum sah kalau sudah traveling ke sana ke mari namun belum pernah sekalipun mencoba mengeksplor Dieng.

Ada pernyataan yang mengatakan, jika sudah sekali ke Dieng, suatu saat nanti pasti akan kembali, dan kembali lagi ke sana. Yups, sepertinya itu menjadi kenyataan saat saya sendiri yang mengalaminya secara langsung.

Kemarin, 16-18 November 2018, saya mendapatkan kesempatan kembali untuk mengeksplor Dieng secara khusus dan pariwisata Banjarnegara secara umum.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara lah yang mengajak saya melalui kepanjangan tangan Blogger Serayu. Rasanya suatu kehormatan bisa menjadi bagian dalam Famtrip Banjarnegara 2018 bersama blogger Semarang, Wonosobo, Purbalingga, Banjarnegara dan rekan-rekan media cetak maupun elektronik.

Langsung saja, berikut keseruan-keseruan saat berada di Dataran Tinggi Dieng.

Sensasi Berkendara ke Dieng Melalui Jalur Banjarnegara Kota-Karangkobar-Dieng

Kalau biasanya para wisatawan yang hendak menuju Dieng sering memilih melewati jalur Wonosobo Kota-Dieng, cobalah sesekali yang berbeda. Ya..cobalah untuk melewati jalur Banjarnegara-Karangkobar-Dieng karena akan menjadi suatu pengalaman yang berbeda tentunya. Pemandangan sepanjang perjalanan ditemani  hijaunya pepohonan begitu pula dengan tanjakannya yang berkelok-kelok, menyegarkan mata.

Kapan lagi bisa seseruan mencoba bertahan dari goncangan jalan yang berliku dan naik turun. Hmmm kalau yang sudah pernah merasakan  serunya permainan di wahana taman bermain yang menggunakan kereta naik turun, nah kurang lebih seperti itu rasanya hehehe.

Rileks Berendam di D’Qiano Hot Spring and Waterpark Saat Malam Hari

Yupss sesusai namanya pengunjung bisa menikmati mata air panas alami. Sumber mata air panas bumi tadi tak jauh dari Kawah Sileri yang ditampung dalam bak khusus dan dialirkan ke kolam-kolam.

Hmmm kenapa? Takut saat mendengar kawah ini? Wajar saja karena beberapa waktu yang lalu kawah ini “beraktivitas lebih” dari biasanya. Namun tenang, sekarang sudah aman untuk dikunjungi selain jaraknya yang sudah dalam batas radius aman saat kawah terjadi erupsi.

Selain bisa bermain air hangat sepuasnya, pengunjung juga bisa menginap di Cottage-cottage yang tersedia tak jauh dari waterpark. Harganya pun terjangkau mulai dari rate Rp500,000 hingga Rp800,000. Dengan setiap kamar terdiri dari dua lantai bawah dan atas lengkap dengan fasilitasnya.

Untuk tiket masuk ke D’Qiano Hotspring & Waterpark dibanderol dengan harga Rp30,000 per orangnya. Kapan lagi bisa bermain air dengan ketinggian lebih dari 1700mdpl.

Hmmm cobalah sesekali merasakan sensasi berendam air hangat saat malam hari. Saya jamin rasanya sangat menyenangkan. Sensasi udara dingin di luar dan hangat di dalam kolam menciptakan sensasi yang menenangkan dan relaks, cocok untuk melepas lelah dan capek.

Sayang sekali karena terlalu asyik bermain air jadi lupa kalau belum mengambil foto saat keseruan teman-teman di D’Qiano saat malah harinya, hehehe.

Menyimak Cerita-Cerita di Komplek Candi Arjuna

Ini sih wajib sekali untuk didatangi. Salah satu lokasi yang vital saat momen-momen tertentu. Sebut saja saat Dieng Culture Festival, hari raya bagi umat Hindu dll.

Ya terdapat komplek Candi Arjuna yang terdiri dari Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa dan Sembadra. Tak jauh dari sini juga ada Candi Setyaki, Komplek Dharmasala, Sendang Sedayu dan Maerokoco. Dan yang tak kalah penting adalah Pendopo Soeharto-Whitlam, kedua pemimpin Negara Indonesia-Australia yang pernah singgah di tempat ini.

Oh ya sebenarnya masih banyak reruntuhan candi-candi yang tersebar di seantero Dataran Tinggi Dieng. Semuanya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini, menurut Demang Dieng, Bapak Aryadi Darwanto hehehehe.

Sebenarnya beliau adalah Kepala UPT Wisata Dieng. Orangnya sangat ramah dan gampang akrab. Dari beliaulah kami duduk manis di rerumputan untuk mendengarkan cerita-cerita.

Kawah Sikidang Yang Masih Menjadi Misteri

Rombongan famtrip kali ini melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang. Sesuai namanya kawah ini secara harfiah bisa berarti hewan Kijang yang mempunyai sifat lincah dan berpindah-pindah. Itulah mengapa keberadaan kawah ini selalu berpindah dan akan berhenti saat ada pasangannya yang muncul yang konon katanya berada di area pintu masuk objek wisata kawah ini. Ini sih seperti seseorang yang sedang menanti jodohnya, upsss.

Mendengarkan Cerita Dari Sosok Inspiratif, Alif (Ketua POKDARWIS, Dieng Kulon)

Dieng itu tak sekedar destinasi wisata benda mati namun sebaliknya, ada hal menarik yang bisa digali dari orang-orangnya. Seperti saat sore hari kami berkesempatan untuk bertemu dengan sosok pemuda yang “menggerakan” masyarakat sekitar untuk ikut terlibat menjadi bagian dari jaringan pariwisata.

Wisata yang tak sekedar meminggirkan penduduknya namun justru melibatkannya menjadi bagian penting. Sebuah desa wisata yang bernama Dieng Kulon menjadi bahan kunjungan kami sore itu.

Di sini penduduknya diajak menjadi bagian wisata itu sendiri dengan cara menjadikan rumah-rumah mereka menjadi home stay. Kapan lagi bisa menginap langsung di rumah penduduk sekitar dengan kesehariannya secara lebih dekat.

Rumah-rumah pun ditata dengan cantik, bersih, rapi. Beberapa rumah menjadi galeri seni seperti tempat belajar melukis di media seperti bambu, kayu, botol dll. Hasilnya menjadi nilai tambah dan ekonomis yang tinggi.

Kami pun mencoba langsung melukis di atas media tadi dengan alat dan bahan yang sudah disediakan. Oh ya, dari peran Bapak Alif lah, gelaran Dieng Culture Festival sukses menjadi acara nasional yang menyedot puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya. Memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjadi bagian dari wisata itu sendiri, sungguh cerita yang sangat menginspirasi

Mencoba Memecahkan Mitos di Sumur Jalatunda

Suasana sore yang syahdu, rintik hujan, berkabut dan sedikit dingin menemani rombongan yang berkunjung ke Sumur Jalatunda. Sebuah gerbang mirip candi di Bali menyambut kami. Ah rasanya romantis saat ke sini bersama pasangan, berfoto dengan latar gapura tadi.

gapura

gerbang berupa gapura tak jauh dari sumur jalatunda

Berikutnya cobalah menghitung anak tangga yang berjumlah sekitar 80 an step ini yang saat naik dan turun jumlahnya akan beda. Saya pun mengamati salah seorang blogger Banjarnegara yaitu Gita Safitri yang terlihat antusias menghitung satu demi satu langkah hingga puncak dan kemudian turun kembali dan benar saja jumlahnya berbeda. Saya pun tak tahu alasannya apa.

Bagi kalian yang punya keinginan (syarat dan ketentuan berlaku hehe) semisal ingin menemukan belahan hatimu yang bisa menemanimu hingga tua nanti, cobalah memecahkan mitos dengan melempar batu ke dalam tebing yang berada di ujung sumur. Jika berhasil, semoga saja keinginanmu terkabul, ingat S&K tadi.

Banyak peserta yang mencoba dengan menggunakan pecahan genting tapi banyak yang gagal, yahhhh, hanya seorang yaitu kenek, micro bus kami yang setia mengantar ke sana ke mari, ndilalah berhasil.

Gagal Ke Puncak Bukit Sipandu, Pangonan dan Berakhir Berbincang dengan Penduduk Lokal

Manusia hanya bisa berencana, namun kemalasan bangun pagi yang menggagalkannya hehehe. Karena rata-rata rombongan susah bangun pagi akhirnya kami gagal melihat sunrise bukan sunrice ehhh.

sunrise

menikmati matahari bersinar yang telat di bukit scooter

Ya sudah daripada tidak melakukan apa-apa akhirnya diputuskan untuk menuju Padang Savana Pangonan. Tapi sayang, saya sendiri malah tidak ikutan, setelah asyik sendiri berfoto-foto akhirnya tertinggal rombongan. Berita baiknya saya bisa lebih mengenal penduduk lokal dengan bercengkerama secara langsung.

Saya pun berbincang-bincang penduduk lokal yang sedang bekerja di ladang kentang sejak pagi buta. Mereka rata-rata sedang membersihkan rumput-rumput liar dan sekaligus memetik beberapa jenis rerumputan liar yang bisa dijadikan sayur untuk keluarga mereka. Benar-benar pengalaman yang berkesan saat berinteraksi secara langsung, ngobrol dan berbagi tawa bersama mereka.

Sisanya, waktu saya habiskan duduk-duduk di Bukit Scooter dengan tulisan “Dieng Banjarnegara” berukuran besar di atas bukit ini. Ternyata asik saja duduk-duduk merenung, menikmati semilir angin, udara bersih dan romansa Dieng dari puncak bukit.

Saya terpesona dengan bunga-bunga liar yang tumbuh warna-warni. Memetiknya satu persatu untuk kemudian dirangkai menjadi seikat bunga indah, yah coba ada yang menerima sepaket keindahan ini saat itu.

Ah, ternyata Dieng itu benar adanya, membuat siapa saja jatuh cinta, menemukan cinta, mengharap, berbagi kebahagiaan dan menghipnotis siapa saja untuk datang lagi, lagi dan lagi.

Terima kasih untuk pengalaman yang kaya, di Tanah Dewa ini. Semoga saja suatu saat bisa kembali lagi ke sini dengan orang terkasih, keluarga, anak -cucu. Aamiin.

Ayo Plesir Maring Banjarnegara!!!!

31 thoughts on “Dieng Lagi? Mengapa Tidak?

  1. Hendi Setiyanto Post author

    Rp30,000 kurang lebihnya, sedikit lebih mahal memang namun sebanding dengan pengalaman yang didapat dan juga suasananya tidaklah seramai taman air pada umumnya.

    Reply
  2. Pingback: Yuk, Berwisata di Sekitar Kota Banjarnegara | NDAYÉNG

  3. Pingback: Yuk, Berwisata di Sekitar Kota Banjarnegara | NDAYENG

  4. emakmbolang.com

    Dieng lagi… kalaupun diajak tiap bulan aku juga mau. tapiiiii pas sepi turis. hahaha

    terakhir aku kesini tahun 2013 klo nggak salah, waktu itu dieng statusnya waspada, dan aku sama teman nekad kesini. Dieng sepi banget. Cuman aku dan ebebrapa bule yang juga nekad. Ya Allah tak terluapkan dan seneng banget. jalan jalan sampai gempor sama nyapain penduduk desa. Sayangnya waktu itu aku nggak dapat Mie engklok yang enak rasanya biasa banget di warung itu.

    Pingin ke Dieng ajakin anak. doain ya….

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      iya coba ke sini pas bukan hari minggu/libur/merah. boleh juga cari alternatif lain semisal ke tempat yang bukan mainstream. melihat penduduk sekitar beraktivitas, melihat pengolahan carica, atau kalau punya banyak waktu nginep di rumah penduduk sekitar, dijamin berkesan. aku sebenarnya kurang suka dengan kawah sikidang, tempatnya kumuh gitu, tp ke depannya katanya bakalan diperbaiki.

      Reply
  5. GoTravelly.com

    Iya, di Dieng rata rata petani kentang ya kak. tapi jarang lihat penduduk bikin makanan khas atau kripik dari kentang. lebih banyak carica untuk oleh oleh dan jamur.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto

      mau gimana lagi, tanaman kentang lah yang lebih menjanjikan. eh iya aku juga belum nemu penduduk yang mengolah kripik kentang, seringnya mengolah carica dan terong belanda.

      Reply
    1. Hendi Setiyanto

      tergantung, kalau pengin sensasi yang paling dingin dan ramai oleh pengunjung karena ada gelaran dieng culture festival ya, datang di bulan agustus. tapi kalau sebaliknya pengin yang sepi ya datang di luar bulan itu dan di luar musim hujan, plus jangan datang saat hari minggu/libur

      Reply
  6. fajarrois

    Waduh, wajib kesini nih kayanya…ada kolam air panasnya lagi..baru tau….setauku di Dieng cuma pemandangan pegunungan, sama gunung Prau yg masih sama-sama Wonosobonya, eh ternyata ada yg lain..hehe 🙂

    Reply

Jangan lupa tinggalkan komentar...