Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok

Sepertinya sudah sering kali saya menulis tentang Kota Pusaka-Purwareja-Klampok di blog NDAYENG. Mulai dari cerita tentang bekas pabrik gula, kuburan peninggalan zaman Belanda, jalur rel kereta api, tentang keramik dan juga tentang gedung-gedung tuanya. Rasa-rasanya tak habis yang bisa diceritakan dari kota kecil di ujung Banjarnegara ini.

Baca cerita tentang Klampok di sini.

Kali ini saya akan berbagi cerita masih tentang Purwareja-Klampok namun saat ke sana ramai-ramai bersama tiga orang teman. Minggu pagi yang cukup cerah menjadi awal perjalanan kami (saya, Ela, Wedwi dan juga Halim).

Lumayan telat memang, sekitar pukul sepuluh lebih kami mulai berangkat. Dengan berboncengan masing-masing dua orang kami berkendara melalui jalur Punggelan-Kejobong-Klampok.

Tembok Belakang Bekas Pabrik Gula Klampok

Sesampainya di Klampok, tujuan kami yang pertama adalah melihat lebih dekat tembok-tembok sisa berdirinya gula pabrik klampok (suikerfabriek klampok). Kini lokasi tembok ini dikelilingi oleh perumahan warga yang lumayan padat.

Bekas pabrik gula klampok ini, kini hanya meninggalkan bekas berupa tembok batu bata merah tebal yang dibiarkan begitu saja tanpa dilapisi plester. Akan tetapi saat kami melihat lebih dekat, kondisinya masih begitu kokoh, maklum insinyur-insinyur Belanda pada zaman dahulu dikenal dengan perencanaan bangunan yang matang sehingga kokoh hingga sekarang.

tembok tua klampok

berfoto bersama di belakang tembok tua l foto: halim santoso

Sebenarnya tembok ini terbentang sepanjang 270 meter pada bagian belakangnya, namun hanya tinggal kurang lebih 140 meter saja yang tersisa. Sementara sisanya kini sudah berpindah tangan menjadi lahan milik YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesejahteraan Umum).

Dulunya sebelum dimiliki oleh YAKKUM, tanah ini sempat dijadikan sebagai lokasi Pabrik Rokok Atom dan juga Pengolahan kayu milik pengusahan Tionghoa bernama Go Bian Ik (sumber banjoemas.com).

Setelah mengalami kebangkrutan, pabrik gula klampok pada tahun 1937 bekas lahannya dijual kepada saudagar Tionghoa bernama Lie Hok TJan, Lie Hok Lie dan Ahmad Salyo Sujarwoto.

Lahan milik Lie Hok Lie kemudian disewakan kepada KUP (kursus usaha pertanian) pada tahun 1935 atau kini orang sekitar lebih mengenalnya sebagai BLK (balai latihan kerja) Pertanian dan keterampilan lain.

Kerkhof Klampok

Setelah kami puas berfoto-foto dan duduk untuk beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju kuburan belanda (kerkhof) yang lokasinya tak jauh dari tembok bekas pabrik gula tadi. Kami menggunakan kendaraan bermotor di tengah panas terik matahari menuju belakang permukiman warga.

Tak jauh dari sana terdapat rimbunan tanaman bambu yang membuat teduh dan di sekitarnya terdapat sawah serta *belik tempat pemandian umum dari mata air alami. Nah di atas *belik tadi lah terdapat beberapa makam tak bernama yang jumlahnya lebih dari tiga buah.

Kondisi makam tadi tentu tak terurus dan dipenuhi dengan semak belukar. Kuburan belanda tadi khas dengan material semen yang dicor sedemikan rupa mirip tugu dan masih bisa dilihat dengan kasat mata. Tak lama kami di sini untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke dalam bekas pabrik gula klampok.

Sisa Pabrik Gula Klampok Kini

Cuaca klampok makin panas saja. Motor yang kami kendarai kini terparkir di pinggiran pintu masuk bekas pabrik gula klampok yang kini dijadikan sebagai gudang milik perusahaan swasta. Saat kami ke sini terlihat mobil truk berukuran besar hilir mudik mengangkut dan menurunkan muatan.

Kami pun berjalan menuju pos satpam untuk meminta izin masuk. Petugas yang berjaga siang itu pun menanyakan maksud tujuan kami, awalnya kami diminta mengisi identitas di buku tamu namun setelah berbicara lebih jelas mengenai tujuan kami ke sini, mereka mengizinkan kami masuk.

Bekas pabrik gula klampok saat ini tak menyisakan apapun selain tembok pada bagian belakang tadi dan juga Rumah Jengki khas tempo dulu. Jalanan di sini pun becek penuh dengan genangan air. Kami pun meneliti sampai ke tembok belakang dari bekas pabrik gula tadi namun dari sisi sebaliknya. Kini hanya ditanami beberapa pohon rambutan yang membuat rimbun area sekitar tembok.

Kami pun mencoba mengamati bekas-bekas pondasi yang masih tersisa di sekitar pohon rambutan tadi dan hanya itulah yang tersisa selain rumah era 80-an yang kondisinya semi rusak.

Rumah Tua di Samping Bekas Pabrik Gula Klampok

Ada sebuah rumah tua yang memilik halaman luas namun dipenuhi dengan semak belukar yang lokasinya persis di samping bekas pabrik gula klampok. Saat Ela dan Wedwi istirahat, saya dan Halim mencoba iseng masuk ke dalam rumah ini.

Siang itu hanya ada seorang kakek tua yang terlihat sedang menebang ranting-rantin pohon rambutan di halaman rumah tua ini. Setelah kami berbincang dan meminta izin kami pun masuk ke rumah tua ini dan mengeksplor lebih lanjut.

bersama kakek tua

berbincang bersama penjaga gedung l foto: halim santoso

Menurut bapak yang namanya saya lupa, kini rumah ini dimiliki oleh salah seorang keluarga yang tinggal di Bandung, kebetulan beliaulah yang bertugas menjaga rumah tua yang kondisinya memprihatinkan ini. Ada saja cerita mistis yang dialami si bapak tadi saat kami bertanya apakah pernah melihat makhluk halus di sini.

Menurut beliau, beberapa kali diberi penampakan pocong, kuntilanak dll, saya hanya mencoba mendengarkan dengan seksama cerita beliau. Oh ya rumah ini juga pernah dijadikan lokasi acara “Mister Tukul Jalan-Jalan” yang khas dengan sajian uji nyalinya.

Kami pun bergegas masuk ke dalam rumah yang begitu dingin, pengap, kotor oleh banyaknya kelelawar yang menghuni. Sebenarnya rumah ini temboknya masih dalam kondisi bagus, hanya saja sisanya tak terawat.

jendela

dari balik jendela l foto: halim santoso

Tak jauh dari rumah seperti biasa terdapat bangunan khusus untuk kamar mandi, gudang, dapur dan kamar pembantu. Kondisinya pun sama rusak tak terawat. Ada juga sebuah sumur tua serta menara tempat penampungan air.

dapur rumah tua

bangunan samping untuk gudang, dapur, kamar mandi l foto: halim santoso

Yang menarik perhatian kami tentu gudang lumayan besar di samping rumah. Ada pintu yang terikat tali dan kami mencoba masuk saja setelah sebelumnya izin “permisi”. Tentu tak afdol kalau tidak berfoto di dalamnya yang pengap ini.

gudang tua

di dalam gudang tua l foto: halim santoso

Foto-foto sudah, perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju komplek perumahan pegawai pabrik gula klampok yang tak jauh dari BLK Klampok.

Melihat Bekas Perumahan Pegawai Pabrik Gula Klampok

Setelah cukup puas di sini kami melanjutkan perjalanan menuju sekitar gedung BLK Klampok yang dulunya merupakan komplek rumah para administrator pegawai pabrik gula klampok. Saat kami ke sini hanya ada beberapa rumah tua yang sudah tidak asli lagi.

Rumah dengan dominan cat berwarna putih terlihat sepi saat kami mencoba melongok ke halaman rumahnya. Ada rumah tua yang pada bagian depannya sudah mengalami perombakan dan menyisakan bangunan samping yang masih asli. Bangunan samping berupa area untuk para jongos atau pembantu, dapur, kandang kuda dll pada masanya. Satu yang unik adalah bangunan yang dipisahkan oleh tembok ini memiliki satu atap dengan ruangan milik rumah sebelah.

Hari makin siang dan pertanda sholat zuhur sudah berkumandang. Kami pun istirahat untuk sholat di masjid yang berada di seberang rumah tadi.

Selama saya dan Wedwi menunaikan kewajiban, Halim dan Ela berada di luar. Setelahnya kami menikmati jajanan es thung-thung jadul yang kebetulan lewat, ah segar rasanya dan pas dengan tema penjelajah kami siang itu.

Ini merupakan akhir perjalanan kami di Klampok karena setelahnya langsung pulang kembali ke Punggelan. Kunjungan yang singkat memang namun saya senang karena akhirnya bisa menemani si Halim yang notabene sangat suka sekali dengan hal-hal yang berbau sejarah.

8 thoughts on “Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok

  1. deadyrizky

    welehh kalo bentuknya kayak gini ya wajar banyak jinnya
    coba direvitalisasi kayak bekas pabrik gula yang di solo itu
    disulap jadi kafe
    mungkin jin”nya jadi lebih bermartabat
    xixixi

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      yang bekas pabriknya sih tinggal meninggalkan tembok bagian belakangnya saja dan kini dijadikan gudang swasta, itu rumah tua di samping beka pabrik gulanya, tak terawat memang hihihi

      Reply
  2. Desfortin

    Oo.. jadi ceritanya ni jelajah tempat bersejarah gitu ya, Mas Hendi?

    Td di awal agak bingung, knp pilihannya pd bekas pabrik gula? 🙂 Trnyta ini rangkaian dari jelajah tempat bersejarah gitu.

    Reply

Jangan lupa tinggalkan komentar...