Keseruan GPS #1

Saat ini, berbagai macam komunitas yang berangkat dari hobi semakin berkembang saja. Salah satunya adalah para pecinta motor trail.

Tak hanya tersebar di kota-kota besar saja namun kini merambah hingga ke pelosok pedesaan. Sebut saja kini di Kecamatan Punggelan-Banjarnegara akan diadakan even untuk pertama kalinya yang boleh dibilang level nasional.

Dari peserta yang ikut serta, ada yang berasal dari Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Timur, Jogjakarta dan tentu saja berbagai daerah di wilayah Jawa Tengah.

GPS #1

Apa sih GPS #1 itu? Jika dijabarkan, GPS #1 ini kepanjangan dari Gass Punggelan Seporete Batch 1 atau secara umum boleh dibilang bermotoran di Punggelan sampai sekencang mungkin.

umbrella girls

para peserta berfoto dengan cewek-cewek seksi

Minggu pagi yang cerah di penghujung bulan April tahun 2018, lapangan Desa Punggelan kini telah bersolek. Berbagai macam umbul-umbul dari sponsor-sponsor telah berjejer rapi di sepanjang jalan menuju arena utama perhelatan ini.

Beberapa macam stand yang berhubungan dengan motor trail ini pun bertebaran di pinggiran lapangan hingga yang berjualan aneka makanan-minuman.

Sebuah panggung besar berdiri megah di ujung barat lapangan ini. Sebaliknya di ujung timur sana terpasang panggung mini dengan latar belakang poster besar untuk ajang foto-foto para pemotor yang ikut ambil bagian even ini.

panggung musik

panggung utama saat pagi hari

Jalur yang harus ditempuh para peserta berawal di titik start Lapangan Desa Punggelan-Dusun Kepering-Dusun Tenggalar-Dusun Wanayasa dan finish di Lapangan Desa Punggelan kembali.

Let’s Start!

gadis berpayung

emak-emak pun ikutan

Berbekal kamera saku, topi, sandal gunung, kaca mata hitam, tas selempang, celana cargo dan t-shirt saya siap menyaksikan secara langsung even ini. Kali ini saya mengajak salah seorang teman blogger dan pegiat social media, Jujun Afiat.

titik start

di tengah kebun tebu

Lokasinya yang tak jauh dari rumah membuat kami santai tak terburu-buru berangkat. Tak berapa lama kami sudah berada di lapangan sekitar pukul setengah delapan pagi. Di luar bayangan, ternyata saat itu suasana sudah ramai. Beberapa peserta sudah mulai berangkat dari titik start.

Suara bising dari knalpot para pemotor yang digeber membuat riuh suasana pagi itu. Jalanan berlumpur dan becek di jalur keluar lapangan menjadi arena selamat datang.

Dari balik pinggiran perkebunan tebu yang tumbuh subur di sekitar lapangan, menjadi lokasi yang pas untuk sekedar mengabadikan momen menarik seperti ini.

Di titik start ini, para pemotor antre secara berkelompok mulai dari 5-10 motor dan dipandu oleh dua orang perempuan seksi yang memakai payung  (umbrella girls) dengan pakaian khas ala balapan Moto GP.

Kesempatan ini juga menjadi ajang untuk berselfie ria dengan kelompok mereka masing-masing sebelum bendera berkibar tanda pelepasan dimulai.

Rintangan Dimulai

Tak seru rasanya kalau menyaksikan even seperti ini tapi tak mengikutinya hingga titik-titik jalur ekstrem dimulai. Kami pun ikut mengiringi para peserta tadi menggunakan sepeda motor hingga ke titik awal rintangan dimulai.

Di Dusun Kepering, para peserta sudah terlihat kotor, basah oleh lumpur di kendaraan yang mereka tumpangi hingga ke sekujur tubuh.

Para penduduk dusun pun tak ingin ikut ketinggalan menyaksikan secara langsung para pemotor ini melintasi pekarangan rumah, jalan setapak menuju kebun hingga ke lahan kebun mereka.

Oh ya, tentu panitia sudah berkoordinasi dengan pemilik lahan dengan kompensasi berupa uang sebelum mereka benar-benar boleh “mengacak-acak” kebun mereka masing-masing.

rintangan

peserta senior

Kami mencoba menghindari kerumunan dan berjalan kaki menuju kebun yang jaraknya lumayan jauh ditambah jalanan yang becek. Kami pun harus hati-hati saat berjalan karena ini merupakan jalur para pemotor dan tetap waspada karena sewaktu-waktu mereka tiba-tiba lewat.

Arena Jumping Dadakan

Setelah bersusah payah mencari posisi yang aman dan strategis untuk memfoto para pemotor tadi, kami akhirnya bisa duduk santai sesaat.

Dalam posisi di tebing yang tidak terlalu tinggi, kami bisa menyaksikan secara langsung para pemotor lewat.

20180429_100415.jpg

melewati gundukan tanah

Rimbunan tanaman ketela pohon, jagung dan teduh pohon kelapa menjadi teman kami pagi itu. Tak jauh dari posisi kami, terdapat fotografer khusus yang bertugas mengabadikan para pemotor dengan berbagai macam angle.

Tentu saja sang fotografer tadi jaraknya sangatlah dekat dengan lintasan, dengan resiko tertabrak dan yang wajib adalah baju kotor dan basah.

Tak jauh dari sana terdapat jalanan tanah licin menikung dengan gundukan tanah yang dibuat sedemikian rupa untuk arena jumping. Pada sisi lainnya terdapat jurang yang hanya dibatasi oleh pagar tanaman rambat, jadi para peserta harus ekstra hati-hati.

Beberapa peserta ada yang berhasil melewati rintangan, ada juga yang tiba-tiba saja motor mogok dan yang apes, terpeleset.

Cukup lama kami di sini sekedar melihat aksi mereka ini. Sebenarnya jalur lain masih banyak namun kami memilih yang mudah dijangkau saja.

Menikmati Pecel Kepering

Setelah puas, kami memilih pulang menuju lapangan, namun sebelumnya, kami mampir terlebih dahulu ke curug yang tak jauh dari lokasi rintangan tadi.

Curug ini pernah saya tulis di Blog NDAYENG, Curug Keramat. Tak seseram namanya, curug ini masih bisa disaksikan saat ini dengan alirannya yang tidak terlalu deras. Tak cantik memang namun cukuplah untuk pelepas lelah dan menjernihkan pikiran.

Setelahnya, saya mengajak Jujun untuk mampir mengisi perut ke warung pecel di Dusun Kepering. Sebagai pecinta pecel, rasanya tak boleh dilewatkan kesempatan ini.

Belum lama saya mengenal penjual pecel ini namun saya sudah jatuh cinta dan menjadi pelanggan baru. Banyak memang langganan pecel favorit dengan kekhasan masing-masing.

Seporsi pecel dengan sayur bayam, kubis dan juga sayur kenci ditambah potongan ketupat dan disiram dengan bumbu kacang kental membuat selera makan saya bertambah. Tak lupa sepiring bakwan dan mendoan hangat tersaji di meja.

Lahap kami saat memakannya hingga si Jujun pun mencoba membungkusnya untuk dibawa ke rumah.

Tak perlu banyak mengeluarkan uang saat makan di sini. Seporsi pecel dihargai Rp 3.000, sementara untuk ketupat Rp 1.000 dan gorengan Rp 500, benar-benar murah meriah dan bikin kenyang.

Senang rasanya jika makanan favorit saya ini harganya sangat terjangkau.

Aneka Hiburan dan Games

Siangnya, selepas sholat zuhur, berbagai macam acara pun masih berlangsung. Para peserta yang sudah kembali lagi ke titik start dan juga penonton dihibur dengan alunan eksotis penyanyi dangdut yang membuat mabuk kepayang.

Agak risih juga saat para penyanyi berpakaian seksi, bergoyang erotis di depan para penonton yang dari berbagai macam umur dan gender.

Suasanan siang itu makin ramai saja. Orang-orang tumplek-plek di lapangan Desa Punggelan. Stand-stand pun ramai oleh pengunjung dan juga arena foto-foto yang tak luput dari kerumunan.

lapangan punggelan

hiburan musik dangdut

Berbagai macam games yang berhadiah aneka macam pun diadakan. Tak lupa beberapa hadiah kejutan untuk peserta tertentu di antaranya: peserta termuda, peserta perempuan yang hingga finish, peserta emak-emak hingga peserta tertua.

Hadiah utama berupa dua buah motor trail dan sebuah mobil menjadi incaran utama para peserta hari itu. Namun siapa yang dapat? Saya tak menyaksikan hingga akhir.

Sampai Jumpa Lagi!

Acara berlangsung hingga sore hari dan sebelum benar-benar ditutup saya memutuskan untuk pulang. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya pribadi.

Kini Kecamatan Punggelan menjadi meriah dan mendatangkan pundi-pundi rupiah untuk warga sekitar yang ikut menikmati gelaran seperti ini.

Sepertinya tahun-tahun mendatang akan diadakan kembali di sini, kita tunggu saja seperti apa kemeriahan berikutnya, salam.

10 thoughts on “Keseruan GPS #1

  1. deadyrizky

    eniwei semua olahraga yang berhubungan dengan mesin selalu ada umbrella girlnya yaa
    wkwkwk
    baca postingan gini jadi makin pengen punya motor trail nih

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hmmm iya juga sih dan pakaiannya rata2 sexy. hayooo beli lah…

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Yang hijab justru yg nunggang motor…eh tp kmrn smpt lihat di tv ada kok umbrella girls yg berhijab

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hooh ini jarang banget kalau yang paling rombongan sih sering tapi ini benar2 banyak pesertanya

      Reply
  2. jelajahlangkah

    Saya termasuk penggemar motor trail, walau sudah cukup lama tak menaikinya. Terakhir nge-trail waktu naik ke Bukit Batas, Riam Kanan, Banjarmasin.

    Tanpa persiapan dan perlengkapan naik trail, tapi seru hehehe…

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      wahhh…sekarang memang hobi yang satu ini sedang ngehits banget, bahkan ke pelosok desa pun banyak peminatnya…

      Reply

Leave a Reply to alrisblog Cancel reply