Sebelum Meninggalkan Pulau Belitong

Rasa mengantuk dan capek masih menghinggapi perasaan saya saat ini.

Perjalanan dari Pantai Laskar Pelangi beberapa jam yang lalu, harus berakhir buru-buru karena hujan menyergap.

Kami dan rombongan Trip Belitong KitaINA harus beranjak pergi meninggalkan jalanan di pinggiran pantai menuju Kota Tanjung Pandan.

Cukup jauh memang, walaupun pulai Belitong ini mungkin tidaklah terlalu luas dengan kondisi jalan yang sepi dan lebar memudahkan perjalanan namun waktu yang ditempuh tidaklah cepat.

Beberapa peserta trip terlihat mengantuk begitu pun dengan saya. Hanya si Pemandu yang merangkap sebagai sopir, wajib hukumnya untuk tetap terjaga. Tidak lucu kalau ia pun ikutan tidur.

Sepanjang perjalanan di Pulau Belitong ini rata-rata memang masih berupa hutan, rawa, perkebunan lada, danau buatan dan sesekali perumahan warga. Memang patut diakui, jalan di sini sangat lebar dan mulus.

Mampir sejenak di “Klapa”

Tak lengkap rasanya kalau berkunjung ke suatu tempat tak membeli buah tangan, namun bagi penganut “males beli oleh-oleh” seperti saya, cukup lihat-lihat saja.

Di sebuah toko pusat oleh-oleh “Klapa” kalian bisa membeli berbagai macam souvenir dll. Kalau yang bosan dengan aneka kaos dan souvenir lainnya, bisa mencoba membeli kopi manggar, aneka macam kerupuk ikan, terasi, asinan, lada, terasi dll. Kepikiran mau beli sesuatu tapi repot membawanya, sementara ini isi tas saja ada yang ditinggal di Jakarta.

Jadi saya memilih menyimpan kenangan, pengalaman dan foto-foto saja sebagai buah tangan sebagai tanda bukti bahwa saya pernah menginjakan kaki di Negeri Laskar Pelangi.

Langit kota Tanjung Pandan makin gelap saja, tinggal menunggu rintik hujan turun membasahi langit. Mobil kami bergegas masuk ke pusat kota dan tak berapa lama sudah memasuki sebuah gapura menuju Rumah Adat Belitong.

Gagal masuk ke rumah adat khas Belitong

Kondisi Rumah Adat saat itu begitu sepi, di sebelahnya terdapat gedung dinas pariwisata kota Tanjung Pandan. Dan ternyata hari ini tutup, ya jelas, selain ini hari sabtu, ini juga sudah lewat jam kerja.

rumah adat belitong

Kami bergegas turun walaupun dalam kondisi mengantuk. Foto-foto dan mengitari seluruh sudut bangunan Rumah Adat yang terbuat dari kayu dan bentuknya rumah panggung.

Tak berapa lama, kami mendapat kejutan dari panitia trip berupa sertipikat tanda kemenangan dalam rangka kompetisi menulis, foto dan juga video dengan tema “Ingat Kampung”.

Mumpung masih ada waktu, kami bergegas pergi menuju destinasi selanjutnya. Museum Belitong!!

Mengenal Belitong melalui museumnya

Di tengah perjalanan, langit sudah tak kuasa menampung butiran-butiran air hujan dan byurrr, hujan turun dengan derasnya.

museum tanjung pandan

Saat kami memasuki halaman museum, masih terlihat beberapa rombongan lain yang juga berkunjung ke sini. Rombongan tadi saling susul menyusul sejak di Pantai Tanjung Kelayang beberapa jam yang lalu.

Museum Belitong ini menempati gedung tua peninggalan Belanda dan lumayan masih terawat.

Di sana pengunjung disuguhi berbagai macam sejarah Pulau Belitong mulai dari hewan endemis, peninggalan barang-barang sehari-hari dari suku-suku yang menghuni Pulau Belitong (Melayu, China) dan juga sejarah pertambangan kaolin sejak era penjajahan Belanda.

Walaupun suasana di dalam begitu pengap dan panas, namun koleksi yang dipamerkan cukup menarik pengunjung. Apalagi yang ingin mengenal lebih dekat tentang Pulau Belitong secara singkat.

Awetan buaya berukuran besar, ikan dan beberapa reptil, menyambut pengunjung di ruangan depan.

Berikutnya, dipamerkan berbagai macam seluk beluk penambangan kaolin dari yang masih jadul hingga saat ini.

Bergeser lagi, pengunjung akan disuguhi koleksi pakaian adat suku tionghoa yang menghuni pulau ini. Mulai dari pakaian pengantin, uang, keramik-keramik, perabotan rumah tangga, lampu dll.

Di bagian belakang museum sebenarnya ada taman yang mempunyai koleksi binatang, namun saya tidak sempat ke sana dan asyik mengamati koleksi museum ini sembari menunggu hujan reda.

Gagal menikmati danau kaolin karena hujan lebat

Lanjut lagi menuju destinasi wajib dan terakhir sebelum kami menuju Bandara Hananjoedin yaitu Danau Kaolin.

danau kaolin

Sebenarnya danau-danau yang berwarna hijau ini merupakan bekas pertambangan dan beberapa masih terlihat aktivitasnya.

Saat hendak mendarat di pulau ini, kita bisa melihat banyaknya lubang-lubang berisi air warna biru di sepanjang tanah pulau ini. Dari hasil tambang iniliah, dulunya kemakmuran itu berasal.

Hanya pagar dari kayu yang membatasi pengunjung di pinggiran danau. Pasir-pasir inilah yang mereka tambang dan saat menginjaknya pun akan terasa kalau pijakan ini begitu rapuh, jadi harus berhati-hati saat berdiri di pinggirannya.

Belum puas berfoto-foto di sini, hujan kembali datang dengan derasnya. Terpaksa, kami harus segera mengakhiri perjalan ini dan bergegas menuju rumah makan dekat Bandara sebelum benar-benar terbang kembali ke Jakarta.

Makan terakhir sebelum pergi meninggalkan Belitong

Rasa lapar makin menggila dan kami memesan nasi goreng, bakso, mie ayam dan juga kopi. Tak murah memang harga makanan di resto ini tapi demi memenuhi kewajiban perut yang harus segera diisi, tak apalah.

mie goreng

kong djie kopi

Saya harap-harap cemas. Semoga hujan cepat reda dan langit kembali cerah. Parno saja rasanya, naik pesawat dalam kondisi hujan dan juga sesekali ada petir, seram!!!.

Ya, kami mendapat jadwal penerbangan terakhir menuju Jakarta. Sepertinya juga mengalami penundaan penerbangan yang seharusnya pukul empat sore menjadi hampir jam setengah lima.

Syukurlah langit cerah dan pesawat yang akan kami tumpangi sudah terlihat mendarat untuk kemudian menurunkan penumpang dan gantian kami yang sedari menunggu di bandara beranjak.

foto bersama

Terima kasih, sang pemandu kami selama di Pulau Belitong, sampai jumpa lagi dan semoga aman saat naik pesawat hingga mendarat di Soetta.

15 thoughts on “Sebelum Meninggalkan Pulau Belitong

  1. Gallant Tsany Abdillah

    Danau kaolin ini sebenarnya memperlihatkan betapa buruknya eksploitasi. Aku nggak tau dulu eksploitasinya sudah berpikir ke arah post prosessing gitu apa belum. Ketika eksploitasi berlebihan dan sampai akhirnya nggak bisa “dihijaukan” tapi membawa manfaat lain, di bidang pariwisata contohnya.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setuju banget sih, kalau dari pesawat terlihat jelas lubang-lubang hampir di seluruh daratan belitong, ya…ini merupakan bekas galian tambang yang menyisakan lubang2 menganga tadi, agak ironi juga sih

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sepertinya iya, soalnya kami ga sampai ke pinggiran sih, cuma dari kejauhan saja

      Reply
  2. jelajahlangkah

    Kangen kopi Manggar… Hmmm. Belitong asyik memang buat diteroka. Bakal balik lagi deh kesini kapan-kapan; mau ke Indonesia bagian Timur dulu 🙂

    Salam.

    Reply
  3. Fanny Fristhika Nila

    Waktu ke belitung dulu, aku lbh seneng beli oleh2 kopi, sirup jeruk kunci, dan makanan yg dr kepiting, kecil2 tinggal di hap itu.. Lupa namanya wkwkwkw.. Tp enak bangettt. Trus ada otak2 jugaaa. Parah sih kalo kuliner sana jempolan semua.. Tp pas nyari kaos utk anak2, aku ga suka bahannya. Udh tipis, kasar, terlalu mahal uk kualitas jelek pula. Akhirnya ga ada beli souvenir yg brupa barang. Makanan semua 😀

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      memang cocoknya beli oleh2 makanan, sayangnya aku mikir bawanya yang repot sementara tas terbatas belum lagi masih mampir2 lagi pulangnya

      Reply
  4. omnduut

    Aku familiar dengan foto paling atas. Kayaknya dulu belanja souvenir di sana juga haha. Beli magnet dan botol kaca yang dalamnya ada miniatur kapal.

    Reply
  5. nunoorange

    Jadi inget nonton film AHOK kalo liat danau Kaolin. By the way sayang juga ya nggak bisa masuk ke rumah adatnya Belitong. Next time Hend! Semoga berjodoh. By the way lagi, sudah TLD yaaa blognyaaaa..hahaha…selamaaat

    Reply

Leave a Reply to Fanny Fristhika Nila Cancel reply