Delapan Jam di Kotu

Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Suasana Kota Jakarta sudah begitu ramai saat itu. Selepas mandi saya pun bergegas menuju sebuah warung Tegal yang letaknya tak jauh dari tempat menginap.

Sekedar informasi, semalam saya bukan menginap di hotel melainkan di kos-kosan teman lama yang baru saja saling mengenal. Aditya Indi nama teman lama tadi. Ia merupakan teman satu sekolahan saat masih duduk di bangku SMK. Ia sebenarnya tidak kenal siapa saya namun sebaliknya, saya mengenalnya karena ia merupakan anggota OSIS.

Dan di Jakarta-lah akhirnya kami benar-benar mengenal satu sama lain dan rasanya lucu. Bagaimana tidak, bisa dihitung kami 3 tahun bersama satu sekolah namun benar-benar berteman setelah lulus lebih dari 5 tahun kemudian.

Seporsi nasi, sayur gudeg, jerohan ayam dan juga tempe goreng, telah habis saya lahap. Sementara itu, notifikasi whatsapp di gawai terlihat berbunyi.

“hmmm…ini pasti dari si Gara yang mengabarkan apa jadi ketemuan di Kota Tua”.

Semalam, memang saya chatting lumayan lama dengannya. Awalnya saya ingin menumpang tidur di kos-kosannya namun karena suatu hal menjadi gagal dan akhirnya kami memutuskan untuk janjian kopi darat. Sudah sekian lama kami hanya akrab di media sosial maupun saling berkomentar di blog masing-masing.

Singkat waktu, saya dan Adit sudah bergegas pergi menuju ke Stasiun Cawang yang tak jauh dari kos-kosan. Ini merupakan kali pertama saya akan mencoba menggunakan moda transportasi kereta komuter di ibukota.

Setelah memberi kartu harian berjaminan sebagai akses untuk bisa masuk dan naik KRL, kami pun sudah berada di pinggiran peron menunggu kereta datang.

menunggu kereta di stasiun cawang

Suasana KRL saat itu lumayan lengang oleh penumpang, maklum ini hari minggu. Sama seperti orang yang pertama kali berkunjung ke suatu tempat pasti saya penasaran dengan bangunan-bangunan yang terlihat di sepanjang jalur KRL.

Tapi kali ini saya lebih tertarik dengan gedung-gedung tua bersejarah yang masih bisa dilihat di ibukota ini. Dan Tentu saja yang membuat berdecak kagum adalah bangunan Stasiun Jakarta Kota yang menurut saya begitu unik.

suasana di dalam stasiun jakarta kota

Kami pun bergegas keluar stasiun menuju keramaian kota tua dan tak berapa lama kini kami sudah berada di halaman Museum Fatahilah. Saya berusaha mengecek gawai dan mencoba menghubungi si Gara. Tak lama kemudian ia pun muncul dan ini menjadi momen untuk pertama kalinya saya akhirnya bisa kopi darat dengannya. Oh ya, dulu si Gara masih terlihat besar hehehe namun sekarang sih katanya sudah langsing.

Sudah pasti ia akan menjadi guide paket lengkap karena paham sekali dengan seluk beluk sejarah. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan bertanya ini itu setiap kali melihat benda-benda atau bangunan sejarah.

Museum Wayang

Kunjungan pertama kami adalah Museum Wayang yang lokasinya persis di depan Museum Fatahilah. Berdasar cerita yang saya dengar, dulunya bangunan ini merupakan sebuah gereja sebelum kini menjadi museum yang berisi berbagai macam wayang dan juga boneka dari Nusantara dan Dunia.

museum wayang

tampak depan, museum wayang

 

IMG_0166

Adit dan Gara di museum wayang

penutup makam

penutup makam kuno dengan prasasti yang tertulis

Bukan wayang yang menjadi penarik perhatian saya, melainkan penutup-penutup makam kuno yang berhiasan ukiran menarik dan juga prasasti yang menandakan siapakah yang dimakamkan, kapan dan apa jabatannya. Penutup makam tadi dipasang di dinding-dinding lorong menuju lokasi utama museum wayang.

Museum Fatahilah

Setelah cukup puas di musem wayang, perjalanan kami lanjutkan menuju Museum Fatahilah, suasana Jakarta saat itu cukup panas hingga saat kami berada di dalam ruangan museum ini. Tak banyak hal yang bisa dilihat di sini. Beberapa diorama mengenai sejarah kota Batavia, terpampang di lantai pertama.

fatahilah

fasad depan museum Fatahilah

Oh ya, dulunya Museum Fatahilah ini digunakan sebagai kantor gubernur di Batavia, tempat sidang dan juga sebagai lokasi untuk menonton para “penjahat” saat dieksekusi.

di dalam museum fatahilah

suasana museum fatahilah

Beranjak ke lantai 2, pengunjung disuguhi beberapa perabot mulai dari ranjang, lemari, kursi dan juga lukisan-lukisan tokoh Batavia pada zamannya.

 

Hal yang saya sukai dari bangunan tua seperti ini adalah banyaknya jendela-jendela besar yang berlapis. Jendela luar bisa digunakan saat musim panas karena ada aliran anginnya sementara jendela kaca di dalamnya bisa dipakai saat cuaca hujan. Benar-benar menyesuaikan dengan iklim tropis Nusantara.

IMG_0136

penjara di bawah museum

Saat ke Fatahilah, jangan lewatkan bekas penjara bawah tanahnya yang banyak terdapat bola-bola besi berukuran besar dan juga suasanan pengap tentunya. Tak jauh dari penjara bawah tanah tadi, jangan juga lewatkan patung Dewa Hermes pada bagian belakang Museum Fatahilah.

Beranjak lagi, terdapat prasasti mengenai cara menghukum pembangkang saat itu dengan cara menarik kedua tangan dan kaki dengan kuda secara bersamaan. Ngeri saat saya mendengar cerita dari Si Gara.

Museum Seni dan Keramik

Lanjut lagi ke tempat untuk menghindari terik sinar matahari. Kami berkunjung ke Museum  Seni dan Keramik yang letaknya tak jauh dari Museum Fatahilah. Saat kami ke sini, suasana halaman penuh dengan stand-stand pameran dari beberapa daerah di Indonesia.

museum seni keramik

kegiatan di depan museum seni dan keramik

Bangunan dengan cat dominan putih, hijau dan juga pilar-pilar khas Romawi ini, menyambut kami bertiga. Setelah membeli tiket masuk beberapa ribu rupiah, kami bergegas saja menyusuri sudut-sudut museum ini.

Sesuai namanya di sini dipamerkan berbagai macam karya seni nusantara mulai dari patung, lukisan dll. Beberapa merupakan karya legendaris semisal Antonio Blanco.

IMG_0150

lukisan karya Antonio Blanco

Pada bagian tengah bangunan, berupa halaman lumayan cukup luas dan sangat cocok untuk menghindari terik matahari.

Walaupun sedikit pengap saat menyusuri ruangan demi ruangan, namun saya cukup puas melihat sendiri bangunan tua yang masih terjaga hingga detik ini.

IMG_0151

lantai 2 tempat memamerkan lukisan

Waktu sholat zuhur tiba, saya pun tak menyiakan untuk menunaikan ibadah di musala yang berada di salah satu ruangan pada bangunan museum ini.

Tak terasa kaki ini sudah lecet-lecet, terlihat sekali kalau saya ini jarang sekali jalan kaki dalam waktu lumayan lama.

“Bagaimana, masih mau lanjut?” Tanya Adit dan Gara.

“Lanjut lah, mumpung lagi di Jakarta, kapan lagi…”

Tak mempedulikan kaki lecet, saya terus melangkah menuju ramainya lalu lintas di jalanan Kota tua yang ternyata sama macetnya seperti jalan-jalan lain di Jakarta.

Museum Bank Indonesia dan Bank Mandiri

Tak lengkap kalau ke Kota Tua tapi tak singgah ke Museum Bank Indonesia dan Bank Mandiri. Keduanya berdekatan walaupun secara fasad bangunan, saling bertolak belakang. Yang satu terlihat gaya klasik dan yang satunya gaya minimalis pada eranya.

musem bank indonesia

museum bank indonesia

Tentu saja Museum Bank Indonesia ini sangat terawat sekali. Pun saat masuk ke dalam, harus melewati beberapa prosedur keamanan dan tas atau barang bawaan harus ditinggal di tempat penitipan.

Saya saat itu dengan ceroboh harus bolak-balik ke lokasi penitipan barang bawaan. Mulai dari lupa bawa kamera, lupa bawa botol minum (yang ini dilarang dibawa masuk) dan terakhir lupa ambil tiket masuk yang kelupaan dimasukan ke dalam tas.

Total harus 3 kali bolak-balik ke sini dan saya sudah ditinggal oleh Adit dan Gara yang sudah masuk terlebih dahulu.

kubah

langit-langit yang indah setelah di ujung tangga pintu masuk

Tentu saja di sini banyak sekali dipamerkan sejarah dari Bank Indonesia yang dulunya bernama Javasche Bank saat Belanda menguasai Nusantara. Namun dari semua isi koleksi koin dll, tetap bangunan megah yang sangat terawat ini menjadi daya tarik utama bagi saya.

gubernur javaneshe bank

gubernur javasche bank zaman dulu

Dari penjelasan si Gara, bagian tengah bangunan bisa digunakan untuk umum yang mampu menyewanya dengan harga yang tak murah tentunya.

Bergeser ke Museum Bank Mandiri, suasana riuh terdengar. Saat kami ke sini, sedang ada pameran foto dari suku Batak.

 

Berbagai macam foto-foto keindahan Suku Batak, Danau Toba dll dipamerkan dari para fotografer.

Kalau tidak salah, dulunya Museum Bank Mandiri ini merupakan Bank Ekspor Impor. Tentu saja peralatan perbankan pada masanya dipamerkan mulai dari mesin tik, pembukuan, uang kuno dll.

Akan tetapi lagi-lagi si bangunan utama lah yang menjadi daya tarik. Ruangan-ruangan besar dengan langit-langit yang tinggi menjadi hal yang menarik bagi saya.

Setelah tak bertahan lama karena suara berisik di Museum ini, kami pun berlanjut menyusuri jalan-jalan di sekitar kota tua.

kota tua

gedung-gedung tua di pinggiran kali besar

Mulai dari sekitar Kali Besar yang saat itu dalam proses revitalisasi (kini kabarnya sudah cantik dan rapi), Toko Merah yang legendaris hingga kembali lagi ke halaman Museum Fatahilah.

Ini menjadi akhir perjalanan selama seharian dengan si Gara yang dengan baik hati mau menjadi tour guide kami selama seharian ini.

Sampai jumpa lagi, Gara dan kota Tua.

 

 

 

 

20 thoughts on “Delapan Jam di Kotu

  1. Gallant Tsany Abdillah

    dulu pas masih kuliah, beberapa kali ke jakarta dan stasiun jakarta kota nggak pernah bikin aku bosen. gilak gede dan keren banget. cuma sayang dulu di luar stasiunnya masih kumuh, toiletnya juga kotor banget. kayaknya sekarang udah enggak ya, mas?
    soal museum, jadi inget tweet salah seorang temen yang pengen mengunjungi semua museum di jakarta. menarik idenya

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      kayaknya sudah bersih soalnya ga sempat ke toiliet, memang sih di luar stasiun masih semrawut jalannya dengan banyaknya kendaraan.
      boleh banget kalau mengunjungi museum sekaligus apalagi jaraknya dekat-dekat

      Reply
  2. alrisblog

    Asik ya jalan-jalan menikmati bangunan tua Jakarta. Saya belum menikmati itu semua. Hanya stasiun Kota yang sering saya singgahi karena memang kebutuhan.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya pak, mumpung beberapa hari lagi di jakarta, tahun lalu sih jalan2nya tapi belum mampir ke monas malahan

      Reply
  3. jelajahlangkah

    Kota Tua memang banyak cerita, mas. Kadang kalau saya suntuk dan perlu refresh otak, seringkali cuma ke sini dan mencet shutter kamera…. Hehehe

    Salam.

    Reply
  4. bersapedahan

    kalau penyuka bangunana tua memang pas .. cucok banget deh main ke kota tua .. bisa puas disana. . ehh .. kenapa ngga sekalian mampir ke sungai kali besar-nya ..

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      saat itu masih dalam proses pengerjaan..masih dipagar, ini kunjungan tahun lalu

      Reply
  5. BaRTZap

    Kapan-kapan mainlah ke Bogor Hen, nanti aku temani jalan-jalan lihat-lihat Bogor.
    Ngomong-ngomong Gara emang keliatan jadi lebih langsing, daripada terakhir kali aku ketemu beberapa tahun lalu 😀

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      aduh..pengin banget ke depan istana bogor, kebun raya dan tempat tua2 lainnya..

      Reply
  6. Fanny Fristhika Nila

    Kok aki jd tertarik dtg yaaa hahahaha. Selama ini mikirnya kota tua ga menarik dan ngebosenin. Tp baca ceritamu seru jg. Penutup makam, cara hukuman utk pembangkang itu bikin merinding. Bayangin apa bdnnya putus gitu :O?

    Btw baca dewa hermes, aku lgs ingetnya tas super mahal itu wkwkwkwk

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      sebeneranya kaki sih sampai lecet2 maklum jrang banget jalan kaki tapi mumpung ada yang mau nemenin jadi ya sudah lah lanjut saja

      Reply

Leave a Reply