Sesaat di Pantai Burong Mandi

Senja sore itu begitu sepi dan damai. Tak terasa mobil yang kami tumpangi bersama Tim KitaINA sudah berhenti persis di depan sebuah patung burung yang berada persis di pintu masuk menuju pantai.

Suasana pantai sore itu begitu hening dan sepi. Tak banyak aktivitas berarti yang dilakukan oleh warga sekitar, kami pun tidak menemukan wisatawan lain, selain hanya kami berlima.

Pantai pasir putih yang ditumbuhi pohon kelapa serta pinus telah menyambut kami sesaat keluar dari dalam mobil.

Deretan kapal-kapal nelayan yang teronggok di pinggiran pantai dengan warna-warna cerah seakan menjadi pemandangan yang asing bagi saya. Sebagai seorang yang tinggal di daerah pegunungan, keberadaan pantai merupakan barang baru atau hal yang sangat menarik bagi saya.

Pantai Burong Mandi di Manggar, Belitong Timur ini sudah dikenal oleh bangsa Eropa sejak abad 17. Sejarah mencatat, dari pantai ini, Belanda dan perusahaan asal Eropa melakukan penambangan timah secara diam-diam sekitar tahun 1770-1780 – sebelum akhirnya menyatakan menemukan timah di Pulau Belitung pada 28 Juni 1851.

olie pier

salah satu pantai di Manggar yang dijadikan lokasi bersandarnya kapal pembawa minyak (http://baktisite.blogspot.co.id)

Orang-orang Belanda dahulu mengenal Pantai Burung Mandi dengan sebutan Borom Mandi atau Burum Mandi. Dahulu, daerah ini merupakan daerah penghasil timah. Bahkan, Belanda mendatangkan orang-orang Cina sebagai pekerjanya. Keberadaan para pekerja dari Cina ini dapat dilihat dari adanya Vihara Budhayana Dewi Kwan Im yang letaknya di atas puncak bukit tidak jauh dari pantai ini. Sementara, bangunan peninggalan Belanda  yang masih tersisa adalah dam atau bendungan.

Piche Tempo Doeloe

bendungan Pice di kec.Gantong (http://thebillitonian.blogspot.co.id)

Kapal-kapal nelayan yang saya lihat, bentuknya terbilang sangat unik. Pada bagian kanan-kirinya terdapat penyeimbang yang terbuat dari bambu yang dicat sedemikian rupa. Satu hal unik lagi adalah adanya simbol kepala burung atau naga pada bagian kemudi kanannya. Antara satu kapal dengan kapal lainnya berbeda-beda.

IMG_9823

simbol burung pada kapal


 

Pantai Burong Mandi ini suasananya begitu tenang dan jika berkunjung inginnya duduk-duduk sambil bermalas-malasan apalagi ditambah segelas jus jeruk hmmmm.

Pasir putih terhampar sepanjang pantai. Pada bagian kirinya terdapat dermaga yang dijadikan sandaran oleh para nelayan sehabis pergi melaut. Anak-anak terlihat sedang bermain air di pinggiran dermaga.

IMG_9827

pasir putih dan ombak yang sangat tenang

Bingung mau melakukan apa di sini, saya pun hanya duduk-duduk saja sambil sesekali tangan meraih bilah kayu yang teronggok di pinggiran pantai untuk iseng menulis sesuatu. Barulah saya ingat kalau teman-teman di Banjarnegara itu sangat suka pelesiran, maka saya langsung berinisiatif menuliskan sesuatu di atas pasir putih. Biasanya orang-orang menuliskan sesuatu di atas kertas untuk memotivasi seseorang datang ke tempat yang diinginkan dan biasanya dilakukan saat naik gunung, namun kali ini beda, saya menulisnya saat di pantai.

Sesaat kemudian, tulisan di atas pasir tadi saya unggah ke grup whatsapp dan tak berapa lama orang-orang langsung pada heboh, mulai dari bertanya ini di pantai mana hingga ingin ikutan mencoba pelesiran ke sini.

Waktu terasa begitu lambat saat di sini. Bagi anda yang lebih suka suasana pantai sepi dan tak terlalu banyak turis, Pantai Burong Mandi mungkin cocok dijadikan tempat pelarian melepas penat dengan catatan jangan saat akhir pekan atau hari libur, datanglah saat sore hari dan nikmati keagungan karya Tuhan yang indah ini.

IMG_9826

bersyukur bisa ke pantai ini

Tim KitaINA terlihat tengah bersantai di bawah pohon kelapa nan teduh, sementara itu, Khoerul dan Bastian masih asik sendiri dengan kegiatannya, mengamati pemandangan alam serta membuat video perjalanan.

Perjalanan di hari pertama trip Belitong hampir berakhir, tujuan akhir hari ini adalah menikmati matahari terbenam tapi bukan di pantai ini, kami akan kembali lagi ke Kota Tanjung Pandan yang butuh waktu satu setengah jam lebih dari sini. Di sana kami akan menikmati matahari tenggelam di pantai yang tak jauh dari kota.

Sampai jumpa lagi Panti Burong Mandi, walaupun kami tak melihat satu pun burong yang tengah mandi di pinggiran pantai, tapi keindahan pantainya membuat kami seakan rileks menikmati dan mensyukuri hidup. Mungkin burung-burung tadi sudah enggan mandi di sini karena malu kalau dilihat manusia, bisa saja…

26 thoughts on “Sesaat di Pantai Burong Mandi

  1. Gallant Tsany Abdillah

    Betuuull pantai yang sepi enak kalo buat melepas lelah. 😀
    Akupun lebih seneng pantai yang sepi, jadi mau ngapa-ngapain nggak ada yg ngeliatin. Hahaha.
    Bisa berendam atau main air nggak di sini? Apa gelombangnya berbahaya?

    Reply
  2. iyoskusuma

    Burongnya pake celana atuh, malu diliat di pantai *bicara apa ini*. Saya juga sebagai warga asli pegunungan (walau sekarang kerja di Jakarta), masih berasa asing sama pantai. Lebih milih buat liburan di gunung/dataran tinggi.
    Mas. Saya baru sadar, mungkin datengnya pekerja-pekerja tambang dari Tiongkok sana jadi penyebab banyak warga keturunan Tiongkok di Bangka Belitung ya?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya bisa jadi tuh kang, sebenarnya tinggal di gunung ya cuacanya adem tapi sesekali ke pantai boleh juga.
      sepertinya begitu, karena belanda butuh tenaga kerja asing dan kebanyakan dari china maka tak heran banyak orang tionghoa di pulau ini.

      Reply
  3. Halim Santoso

    Yang jadi kekhasan di pantai Burong Mandi justru kapal-kapal nelayannya. Unik difoto. Pasir putih dengan batu granit raksasa sudah jadi barang biasa di pantai-pantai Belitong. 🙂

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setuju sih…sebenarnya kalau boleh berlama2 mah mending ke pantai ini, ga turistik, yang ada malahan penduduk sekitar, terus ombaknya landai, duh kalau bikin tenda terus nyari insipirasi kayaknya cocok

      Reply
  4. Ella

    Kl aku main ke pantai blm pernah bingung mau ngapain. Cuma duduk ngadep view laut aja hati udah jingkrak2 ya salam.. Btw, air pantainya keliatan biru gitu ya. . Sayangnya jaauuuh nih

    Reply
  5. Gara

    Untuk ukuran sebuah pantai yang dulunya jadi pelabuhan Belanda dalam pengolahan timah di Pulau Belitung, pantai ini menurut saya lumayan bersih, lho. Bagus pula jadi tempat melamun (eh saya punya pengalaman melamun berjam-jam di sana, sih). Tidak disangka juga pantai ini menyimpan cerita sejarah eksploitasi yang tidak pendek (dan masih ada pula bekasnya sampai sekarang)! Terima kasih telah berbagi, Mas. Saya pun jadi kangen dengan Pantai Burong Mandi. Saya rasa Mas tidak perlu kecewa juga sebab sewaktu saya ke sana, tak ada burung sedang mandi yang saya jumpai.

    Reply
  6. Fanny f nila

    Pas kesana dulu aku ga bisa ke pantai ini. Wktnya mepeeet. Tp suamiku ama teamnya kesitu..sampe skr penasaran kenapa namanya pantai burung mandi :p

    Reply
  7. Hendi Setiyanto Post author

    karena pas ke sini sudah sore, sementara perjalan menuju hotel lumayan jauh, maka kami cuma duduk-duduk saja sambil menikmati semilir angin. memang sih sayang juga kalau nggak main2 air..

    Reply
  8. HAFIZ MUZAFFAR

    suasana pantai yang sepi memang lebih enak untuk bersantai dan merenung.
    ada gak tempat makan di dekatnya dan keamanannya juga kalo sepi terjamin gak buat wisatawan mas ?

    Reply

Leave a Reply