Sebuah Cerita Dari Tambi

Pagi itu, terlihat perempuan-perempuan yang menggendong keranjang berjalan melewati jalan masuk menuju komplek perkebunan teh Tambi. Salah satu perempuan tadi bernama Sarwiji (55), buruh perempuan pemetik teh di kawasan agro wisata Tambi-Wonosobo ini, telah menggeluti aktivitasnya ini selama lebih dari 30 tahun. Satu hal menarik adalah, beliau memetik daun-daun teh tadi menggunakan alat khusus hingga bisa mempercepat proses pemetikan.

sarwiji

Ibu Sarwiji tengah memetik daun teh menggunakan alat khusus

Selepas sholat subuh, beliau dengan perempuan-perempuan lainnya sesama buruh pemetik teh sudah akan memulai aktivitas hariannya di pagi buta.

Suasana daerah Tambi yang berada pada ketinggian 1400 mdpl ini tentu saja berhawa dingin dan itu tak menyurutkan langkah mereka. Beliau dan rekan-rekannya dalam beberapa jam bekerja memetik daun teh sejak pagi buta hingga sekiitar pukul 8, dapat menghasilkan 1 kuintal pucuk daun teh.

Upah yang ia terima adalah Rp 300 setiap 1 kg pucuk daun teh. Penghasilan yang tak seberapa memang dibanding dengan perjuangan setiap paginya menahan hawa dingin serta lembab dari tanaman teh yang berembun.

Saat saya bertanya-tanya mengenai aktivitasnya selama ini, beliau dengan sangat ramah melayani setiap detail pertanyaan yang saya ajukan.

Ibu Sarwiji ini merupakan sosok perempuan tangguh yang mengabdikan dirinya untuk memetik pucuk-pucuk daun teh yang sudah tak terhitung banyaknya dari jari jemarinya. Sudah sepatutnya kita bersyukur akan kenikmatan secangkir teh yang sudah tersaji di dalam cangkir-cangkir cantik, dari tangan seperti beliaulah, daun-daun teh tadi melewati proses.

Lokasi Tambi berada di Kabupaten Wonosobo yang tak jauh dari kampung halaman, Banjarnegara seakan menjadi destinasi wisata yang bukan hanya menampilkan keindahan alam namun juga pengetahuan tentang seluk beluk teh

***

Menjelang waktu maghrib, mobil yang membawa saya beserta rombongan lainnya akhirnya sampai juga di lokasi yang dituju. Wisata Agro Tambi-Wonosobo. Suasana sejuk dan sunyi langsung terasa saat mobil terparkir di depan Aula agro wisata ini.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menuju mushola tak jauh dari aula tadi untuk menunaikan sholat ashar yang sudah lewat. Dari mushola kecil inilah, sajian pemandangan barisan perbukitan di Dataran Tinggi Dieng jelas terlihat.

pegunungan

ngeteh ditemani pemandangan pegunungan Dieng

Akses menuju lokasi Wisata Agro Tambi ini cukup mudah ditemukan. Dari Alun-alun kota Wonosobo, kami berkendara menuju jalan utama ke Dieng. Setelah melewati Pasar Garung, jalanan berikutnya makin menanjak dan pada pertigaan jalan raya mendekati arah Dieng, mobil kami belokan ke kanan jalan. Perjalanan berikutnya kembali menanjak namun dengan kondisi jalan yang rusak. Setelah kurang lebih sepuluh menitan, akhirnya kami pun sampai juga di lokasi agro.

Karena hari yang makin gelap, setelah sholat ashar yang lumayan telat, kami pun bergegas menuju kamar masing-masing dan kebetulan saya mendapatkan jatah Kamar Camelia yang terdiri dari dua buah bed berukuran sedang  dan juga kamar mandi di dalam.

Kamar yang kami inapi sederhana memang namun masih mending karena ada fasilitas air panas. Andai saja minus fasilitas tadi, saya pasti akan absen untuk mandi beberapa jam ke depan saking dinginnya dan takut masuk angin.

Malam Pertama di Wisata Agro Tambi

Selepas sholat isya, saya dan rekan-rekan berjalan kaki menuju lokasi aula yang berada di ujung tanjakan. Karena kami menginap di kawasan perkebunan teh, tentu saja sajian minuman utama di sini adalah teh. Menurut saya, secangkir teh hangat tidaklah buruk apalagi diminum di tengah cuaca malam Tambi yang begitu dingin. Beberapa orang yang memang penggemar kopi, lebih memilih minuman hitam tadi untuk menemani malam sambil bersendau gurau.

camelia

bermalam di camelia

Setelah beberapa jam menikmati malam, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam lebih. Kami pun memutuskan untuk turun dan menuju kamar yang berada di bawah sana.  Dua buah bed yang tersedia dalam satu kamar masing-masing diisi oleh dua orang, jadi total di dalam kamar terdapat empat orang. Beberapa teman yang lain ada yang masih melanjutkan acara ngopi dan ngeteh di beranda kamar hingga, saya yang aslinya tidak terbiasa melek hingga larut malam, lebih memilih tidur saja, sudah tak sabar mengikuti kegiatan esok pagi yaitu tur keliling kebun teh.

Seperti biasa, setiap saya tidur bukan di kasur rumah sendiri pasti akan terbangun lebih cepat, pun pagi ini. Sebelum azan subuh menggema saya sudah tidak bisa lagi memejamkan mata hingga akhirnya menuju toilet melaksanakan rutinitas wajib setiap pagi.

Entah mengapa, setiap menjelang pagi pasti udaranya makin bertambah dingin saja. Kali ini saya memilih untuk tidak mandi pagi walaupun sudah disediakan fasilitas air hangat. Saat teman-teman yang lain mandi, saya sebaliknya.

Mengenal Lebih Dekat, Sejarah Perkebunan Teh Tambi

Selepas sarapan pagi dan ngeteh, kami akhirnya memulai tur keliling kebun teh sekitar pukul delapan pagi. Dari kejauhan sudah terlihat sosok sang pemandu yang mengenakan atasan bercorak batik dan celana bahan hitam sambil menjinjing alat pengeras suara.  Namanya Mas Syafa, pemandu kami sekaligus salah satu anak buruh pemetik teh. “Selamat pagi bapak, ibu, selamat datang di Agro Wisata Kebun Teh Tambi, beberapa puluh menit ke depan, saya akan menjadi pemandu saat mengelilingi kebun teh”.

syafa

Mas Syafa, pemandu kami

Tak berapa lama, kami pun mulai mengerumuni sang pemandu dan mendengarkan penjelasan awal mengenai sejarah kebun teh ini.

Pada masa penjajahan Hindia Belanda sekitar tahun 1865 Perusahaan Perkebunan Tambi adalah salah satu perusahaan milik Belanda, dengan nama Bagelen Thee & Kina Maatschaappij yang berada di Netherland. Di Indonesia perusahaan tersebut dikelola oleh NV. John Peet yang berkantor di Jakarta. Ketika revolusi kemerdekaan meletus, perusahaan diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan para pekerjanya diangkat menjadi Pegawai Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).

Saat terjadi Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, perusahaan diserahkan kembali kepada pemilik semula yaitu Bagelen Thee & Kina Maatschappij. Karena keadaan perusahaan yang tidak menentu pada tahun 1954 perusahaan dijual kepada NV. Eks PPN Sindoro Sumbing, perusahaan yang didirikan oleh Eks Pegawai Perusahaan Perkebunan Negara.

Pada tahun 1957 NV. Eks PPN Sindoro Sumbing bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Wonosobo mendirikan sebuah perusahaan baru dengan nama NV. Tambi dan sekarang dengan nama PT. Perkebunan Tambi.

Tahun 2010 saham PT Perkebunan Sindoro Sumbing dibeli oleh PT Indo Global Galang Pamitra (IGP). PT. Perkebunan Tambi sekarang sedang mengembangkan potensi keindahan dan daya tarik alam perkebunan sebagai wisata agro dengan nama Wisata Agro Perkebunan Teh Tambi.

Menurut Mas Syafa, kebun teh Tambi ini selain tentu saja ada di daerah Tambi juga ada daerah Kretek arah Temanggung.  Total luas perkebunan teh di Tambi ini sekitar 830 hektare yang memproduksi teh hitam dan juga teh hijau. Dari total luas tadi, dalam sehari bisa menghasilkan hingga 20 ton daun teh yang dikerjakan oleh beberapa buruh pemetik.

Lokasi perkebunan teh Tambi ini selain dijadikan sebagai lokasi pemetikan daun teh juga dijadikan tempat pengolahan serta pelayuan hingga proses produksi siap jual.

Perkebunan teh Tambi ini menanam 2 jenis tanaman teh antara lain Jenis Camelia yang mempunyai ciri khas berdaun runcing dan berasal dari Tiongkok serta Sinensis yang berdaun kecil serta tumpul yang berasal dari daratan Eropa. Selain ditanami tanaman teh, di sekitarnya pun sengaja ditanam pepohonan untuk peneduh dan penghalau angin. Pohon-pohon tadi salah satunya adalah pohon kina yang bisa dijadikan sebagai bahan baku obat.

jalan teh

jalan berbatu membelah perkebunan teh

Sambil terus berjalan kaki menyusuri jalan setapak di antara hamparan tanaman teh, Mas Syafa pun masih melanjutkan penjelasannya, kali ini tentang sekilas proses pemupukan yang dilakukan setiap 2 kali dalam setahun. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang alami.

Melihat Proses Pengolahan Daun Teh Langsung di Pabriknya

Selepas melihat langsung proses pemetikan daun teh langsung di kebunnya, kami pun melanjutkan perjalanan berikutnya menuju pabrik tempat pengolahan daun-daun teh yang baru saja dipetik.

Proses Pelayuan

Memasuki lokasi pabrik pengolahan daun teh, kami langsung disambut dengan sebuah ruangan besar yang penuh dengan hamparan daun teh yang sedang dalam proses pelayuan. Proses pelayuan ini bisa berlangsung 15 hingga 17 jam lamanya. Beberapa pekerja terlihat tengah menyapu daun-daun teh tadi untuk kemudian dimasukan ke dalam sebuah lubang penyedot menuju ke proses selanjutnya.

pelayuan

proses pelayuan daun teh

Proses Penggilingan

Berjalan beberapa langkah, berikutnya kami berada di ruang penggilingan. Dari sini terlihat mesin-mesin yang sedang bekerja menggiling daun-daun teh yang telah layu tadi. Aroma daun teh begitu tercium saat kami berada di sini. Untuk proses penggilingan ini bisa berlangsung hingga 45 menit lamanya.

penggilingan

ruangan penggilingan teh

Proses Oksidasi Enzimatis

Bergeser lagi, kami sudah berada di ruangan Oksidasi. Dari kejauhan kami melihat sekilas para pekerja yang tengah bekerja mengolah daun teh-teh tadi. Mas Syafa menjelaskan, di ruangan oksidasi ini, daun teh melewati proses oksidasi enzimatis yang dari penjelasan beliau, saya masih kurang paham seperti apa detailnya namun intinya bertujuan untuk menciptakan rasa dan aroma teh yang diinginkan pasar. Proses oksidasi enzimatis ini berlangsung selama 25 menit.

oksidasi

ruang oksidasi enzimatis

Proses Pengeringan

Setelah berada di ruang oksidasi enzimatis, kami pun melanjutkan tur ini menuju ruang pengeringan daun teh yang telah melewati beberapa proses sebelumnya. Saat kami melihat dari kejauhan, hawa panas dari oven-oven yang sedang mengeringkan teh begitu terasa. Para pekerja sepertinya sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Proses pengeringan sendiri berlangsung selama 25 menit untuk kemudian dilanjutkan ke proses selanjutnya.

pengeringan

ruang pengeringan teh

Proses Penjenisan

Pada tahap akhir, kami beralih lagi ke ruangan untuk memproses daun teh menuju proses penjenisan. Tujuannya adalah untuk menciptakan produk teh sesuai dengan keinginan pasar. Proses penjenisan ini berlangsung selama 6 jam.

penjenisan

berbagai jenis teh berdasar grade tertentu

Proses Uji Penyeduhan

Pada proses selanjutnya, teh-teh yang telah melewati proses penjenisan tadi, memasuki ruangan uji kualitas produk teh dan dicoba diseduh satu persatu untuk kemudian dicicipi oleh petugas yang bertugas khusus.

cangkir

secangkir teh NV.Tambi

Dalam proses uji kualitas teh ini, sebuah produk bisa dilihat kualitasnya dari proses warna seduhannya, masing-masing terdiri dari:

Light (air seduhan berwarna pucat, penyebabnya bisa saja karena kuncup daun belum tua atau kesalahan dalam pengolahan misal kurang layu, kurang giling atau fermentasi yang terlalu singkat.

Thin (air seduhan yang berwarna tipis)

Bright (air seduhan yang segar, ini didapat dari proses pengolahan yang baik serta fermentasi yang sempurna)

Coloury (air seduhan berwarna baik, bisa menjadi lebih tua/dark bila digiling terlalu kuat, pelayuan terlalu panjang dan fermentasi yang lama)

Cream (endapan yang timbul bila seduhan pekat didinginkan dan ditandai dengan warna air yang keruh, warna keruh ini pertanda bahwa teh tersebut diolah secara baik)

Dark (warna air seduhan berwarna gelap dan bisa disebabkan karena infeksi bakteri atau terlalu panas pada proses pelayuan dan bisa saja waktu fermentasi yang terlalu lama. Warna seduhan seperti ini tidak diinginkan atau dihindari)

Dull (warna air seduhan lebih gelap dari dark)

Dalam sebulan, pabrik teh Tambi ini bisa menghasilkan teh kering hingga 60 ton tergantung musim tentunya. Puncak produksi berlangsung selama musim penghujan. Untuk pendistribusiannya selain dipasarkan untuk permintaan lokal, hampir 80 % produk yang belum 100 % jadi diekspor ke Amerika Serikat, Rusia, Belanda, Uni Emirat Arab, India dan juga Jepang. Salah satu kekurangannya adalah teh-teh yang belum 100 % jadi ini setelah diekspor ke negara-negara tadi, mereka mengolahnya kembali dan memberi merek baru lagi untuk kemudian dipasarkan kembali ke negara lainnya. Sangat disayangkan tentunya.

Tak terasa sudah beberapa jam, kami dengan seksama mendengarkan penjelasan Mas Syafa, sang pemandu melewati perkebunan teh hingga berakhir ke pabriknya. Begitu banyak pengalaman serta informasi baru yang kami dapat dan bisa diceritakan kepada orang lain bahwa dibalik secangkir teh yang dinikmati setiap harinya, ada begitu banyak proses panjang serta campur tangan orang-orang yang mengabdikan dirinya pada daun-daun teh tadi.

teh tambi

sesi foto bersama di akhir tur

Selepas makan siang, bersih-bersih diri dan berkemas, kami pun akhirnya pulang menuju rumah masing-masing di Banjarnegara. Sungguh pengalaman yang menarik, tak sekedar menikmati hawa sejuk serta fasilitas penginapan, kami pun menjadi sedikit tau tentang teh di Agro Wisata Tambi ini, jadi kapan kalian ke sini?

23 thoughts on “Sebuah Cerita Dari Tambi

  1. Halim Santoso

    Kasian banget ya upahnya cuma 300 rupiah perkilo daun teh. Padahal daun kan nggak seberapa berat. Dulu pernah melipir ke kebun teh Tambi dan ikut turnya juga, tapi saking antusiasnya sampai nggak nyatet dan lupa penjelasan guide-nya. Bisa dicontek nih hahaha.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      saat itu, entah mengapa aku kepo banget pengin tanya ini itu sama si pemandunya jadi ya lumayan banyak info yang didapat. tapi mrka yang metik bisa betah gitu di sini…

      Reply
  2. Eko Nurhuda

    Ya ampun, upah buruh petik teh masih saja di bawah kelayakan ya? Btw, dari dulu penasaran apakah kita bisa menyeduh daun teh yang baru dipetik dari pohon, alias masih dalam kondisi hijau, atau memang harus dikeringkan terlebih dahulu? Kayanya kudu main ke Tambi ini bisa bisa tanya langsung hehehe.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, kemarin pas tanya2 sih begitu infonya.
      eh yang ini malah aku lupa tanya, bisa apa nggak? tapi kayaknya bisa deh bagi yang suka, mungkin rasa sepetnya kerasa malahan

      Reply
  3. Hendi Setiyanto Post author

    awalnya sih, pemandunya cum ngejelasin mengenai hal2 umum saja tapi aku banyak nanya ini itu dan jadi tau berapa upah buruhnya. mungkin sekarang masih mending, karena metiknya pakai alat semacam gunting yang ada penampungnya gitu jadi bisa dapat banyak…

    Reply
  4. Gallant Tsany Abdillah

    Waktu kemaren main ke Dieng sempet ngelewati tulisan penunjuk arah kebun teh tambi. Waktu itu karena nggak ada jadwal ke sana, di dalam bis cuma “oh ini toh arah ke kebun teh tambi.” sayang belum ke sana.
    Ceritanya detil banget, Om Hendi. Mantap.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya kalau kamu baru mau naik ke dieng, nah persis di pertigaan yang belok kanan tuh menuju agro wisata tambi…
      kebetulan waktu itu banyak nanya2 sama pemandunya jadi materi ceritanya lengkap

      Reply
  5. Gara

    Kalau mau ikut tur ini apa bisa langsung datang ke sana, Mas? Panjang sejarah dan proses pembuatan tehnya. Miris juga bahwa kondisinya tak beda dengan kebun-kebun teh yang lain. Teh-teh terbaik diekspor sementara si bangsa pemilik menikmati teh yang secara literal adalah sisa. Padahal masa kolonial sudah berlalu hampir tujuh setengah dekade.
    Sekarang perusahaan ini milik swastakah, Mas? Atau masih jadi milik daerah? Mudah-mudahan bisa ke sana euy, untuk menjawab rasa penasaran.
    Oh iya Mas, mohon izin menambahkan sedikit informasi, penyerahan kedaulatan pada Konferensi Meja Bundar itu ada di tanggal 27 Desember 1949, hehe. Jika saya tak salah, tadi di dalam naskah terbaca 1950. Mohon abaikan saja apabila infonya sudah sesuai. Terima kasih.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      bisa datang langsung ke sini, milih penginapan terus paket tournya sekaligus di tempatnya.
      iya kata pemandunya sih begitu, sayang sekali kita cuma dapat ampasnya yang jelek dan itu pun sangat laku di sini.
      kalau ga salah, kemarin sih gabungan antara pemda dengan swasta.
      eh salah ya? baiklah akan kuperbaiki heheh

      Reply

Leave a Reply