Pertemuan Kami Dengan Sang Dewi di Pulau Belitong

Mobil yang kami tumpangi terus melaju melewati jalanan Belitong yang lebar namun sepi kendaraan. Tujuan kami bersama Tim KitaINA adalah mengunjungi Vihara terbesar di Pulau Belitong yaitu Vihara Dewi Kwan Im yang berada di atas puncak bukit, Desa Burong Mandi, Damar, Belitong Timur.

Sebuah gerbang khas negeri Tirai Bambu dengan dominan warna merah yang mencolok, menyambut kami sore itu. Lokasi parkir menuju Vihara ini terbilang cukup luas bahkan untuk ukuran Bis.

Mobil yang terparkir kini makin bertambah dengan datangnya beberapa bis-bis besar yang membawa rombongan oma-oma dan opa-opa berlogat jawa timuran. Saya pun memperhatika tingkah polah mereka yang unik penuh semangat walaupun rata-rata usianya sudah tidak muda lagi.

Baru saja mereka turun dari bis, suasana riuh terus menyeruak saat rombongan berjumlah besar tadi langsung berfoto-foto dengan gayanya masing-masing. Tak berapa lama kemudian rombongan turis tadi pun diikuti dengan beberapa anjing-anjing di sekitar vihara yang sepertinya sudah mencium aroma makanan yang dibawa oleh para wisatawan tadi.

Sejurus kemudian suasana pun makin riuh karena satu persatu anjing-anjing tadi mendapatkan jatah makanan yang beberapa di antaranya diberikan langsung, sementara yang lainnya lagi dari hasil “merampok” saat para wisatawan tadi sedang lengah. Kami pun terhibur dengan tingkah polah mereka. Beberapa anjing-anjing ternyata doyan roti juga hehehe.

anjing-anjing yang doyan roti

Bangunan berundak-undak dengan warna hijau, merah, kuning menyambut kami dengan tenang. Terlihat bangunan-bangunan di sini sampai ke puncak bukit dengan puluhan anak tangga yang tersebar dan menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya.

salah satu tim KitaINA yang berada di belakang

Di atas puncak bukit ini, berdiri anggun sosok Dewi Kebajikan dan Welas  Asih, Dewi Kwan Im yang tengah berdiri di atas teratai raksasa dengan tangan kirinya sedang memegang vas dalam keadaan hendak menyiram serta tangan kanannya dalam posisi tertentu.

Rasa lelah karena masih berusaha beradaptasi dengan cuaca Belitong membuat langkah saya harus butuh tenaga ekstra untuk satu persatu menghabiskan anak tangga yang berakhir di puncak bukit.

Suasana begitu tenang, damai, khusyuk. Sesekali aroma dupa menyeruak terbawa hembusan angin. Lantunan doa dalam bahasa mandarin mengalun dari speaker yang terpasang di masing-masing pavilion. Hanya ada dua orang perempuan yang tengah saling mencari kutu di rambut masing-masing saat saya hendak masuk ke pelataran salah satu pavilion dengan lampion merah yang banyak tergantung pada langit-langit bangunan ini. Keduanya bergegas pergi menuju tempat lain yang dirasa lebih  nyaman saat saya hendak masuk.

altar-altar di dalam vihara

Semakin naik ke atas, akan terlihat sosok sang Dewi. Anak tangga kini berubah menjadi lebih lebar mirip di kota  terlarangnya Tiongkok sana namun masih dalam proses pembangunan yang tinggal tiga puluh persen lagi.

proses pembangunan yang hampir rampung

Bertemu Sesama Orang Berbahasa Ngapak di Belitong

Saat di sini, banyak berlalu lalang para pekerja yang dari logatnya kemungkinan berasal dari Banyumas Raya, saya dapat mengetahuinya dari logat ngapaknya yang begitu khas. Saya pun memberanikan diri menyapa mereka. Dari perbincangan singkat saya, mereka sudah setahunan ini merantau dari Purbalingga ke Belitong sini. Satu yang membuat mereka kaget adalah saat saya memperkenalkan diri juga kalau sama berasal dari Banjarnegara yang mana masih berbicara ngapak. Ah rasanya senang bisa ketemu orang yang berasal dari daerah yang hampir sama.

Kami pun ngobrol ngalor ngidul lumayan lama, rasa-rasanya bertemu orang yang berasal dari daerah yang sama walau kami belum kenal tapi langsung nyambung apalagi bahasa yang digunakan sama. Mungkin di daerah lain, banyak orang-orang ngapak yang bisa ditemui karena banyak dari mereka yang pergi merantau ke luar pulau Jawa.

***

Semakin mendekat, sosok sang Dewi terlihat makin mempesona, apalagi dilihat dari jarak yang lebih dekat. Dari sinilah, pengunjung bisa menyaksikan langsung hamparan Pantai Burong Mandi di bawah sana dengan ombaknya yang begitu tenang.

terlihat pantai burong mandi dari bukit

Satu persatu dari kami turun dan kembali lagi ke tempat parkir. Suasana menjelang sore saat itu begitu sunyi. Untungnya rindangnya pepohonan di lokasi parkir bisa dijadikan tempat ngadem. Ternyata jalan-jalan juga bikin capek dan pegal kaki apalagi yang tak terbiasa berjalan kaki atau malah jarang olahraga.

Saya pun bergumam dalam hati, ini saja masih di Indonesia tapi suasananya sudah beragam dan lebih senangnya malah bertemu dengan sesama orang Banyumas. Membayangkan bagaimana suasana daerah-daerah lain dengan budaya yang beda lagi, ahhh Indonesia itu memang luas banget walau hanya singgah di pulau seberang ini sebentar saja.

Langit Desa Burong Mandi mulai meredup, kami bergegas masuk mobil kembali dan perjalanan berikutnya adalah menikmati keheningan pantai Burong Mandi.

14 thoughts on “Pertemuan Kami Dengan Sang Dewi di Pulau Belitong

  1. omnduut

    Aku belom ke sini. 2013 lalu ke Belitong “hanya” ke beberapa tempat saja. Dan menurut sepupu yang ada di sana, sekarang udah banyak pengembangan tempat wisata baru.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      ooo begitu, iya juga sih, karena kemarin lokasi vihara ini juga masih dalam proses pembangunan khususnya pada bagian puncak bukitnya, mungkin dulu vihara ini sudah ada tapi diperluas lagi dan ditambah patung dewi kwan im

      Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hahahaha dan sekilas langsung cubit pipi, apa bener aku di luar pulau atau malah masih di sekitaran Banyumas. Soale dari kejauhan terdengar samar2 orang sedang berbincang2 dan tak terdengar asing di telingaku

      Reply
  2. Lena Viyantimala

    Salah satu wishlist saia yg belum kesampean, mengunjungi Belitong dan Bangka nya juga.
    Btw, ngomongin soal orang Jawa yg ada di mana-mana, iya bener banget itu. Dulu saia pernah nyusur Sungai Mahakam di Kaltim hingga ke hulunya yg nyaris berbatasan d Malaysia, yg kesananya aja harus naik kapal dan melewati jeram-jeram yg tak mudah. Saia ketemu petugas yg lagi survei pembangunan jalan di sana, dia sama2 orang Jawa ternyata. Malah berasal dari tetangga desa saya bahkan ternyata kami satu alumni SMA. Jauh-jauh piknik ke luar pulau bahkan pedalaman, lha kok ketemunya tonggo dewe, haha!

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Semoga tahun ini bisa mengunjungi kedua pulau ini, aku pun termasuk beruntung karena menang kuis dan hadiahnya jalan2 ke pulau ini.
      hahahaha, ya kan rasanya antara girang dan ga nyangka aja pas bisa ketemu orang sekampung di luar pulau wkwkwk

      Reply
  3. Matius Teguh Nugroho

    Aku jadi ingat dengan Padepokan Puri Tri Agung di Bangka yang juga terletak di atas bukit tepi pantai. Dari kuilnya terlihat pemandangan laut lepas Bangka yang berwarna biru toska.

    Reply
        1. Hendi Setiyanto Post author

          mungkin, karena letak kedua pulau ini berdekatan, banyak kesamaan kali ya?

          Reply
  4. Fanny Fristhika Nila

    Td aku liat mirip banget ama kuil kwan in yg ada di penang 🙂 . Sayang pas ke belitung aku ga sempet ke kuil ini krn waktunya memang terbatas banget. Tp msh pgn lah ke belitung, kalo bisa sekalian ama bangka 🙂

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      oo gitu ya? mungkin di lain tempat banyak ya patung2 kek gini yang bentuknya juga mirip, katanya di pulau bangka juga ada

      Reply

Leave a Reply