Jelajah Banjoemas: Melihat Gedung-Gedung Tua di Klampok

Sinar matahari makin terik, suara bising kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya Purwareja-Klampok menambah ramai perjalanan kami menjelajahi kota ini. Rombongan sepeda motor kini sudah meninggalkan gang-gang sempit dan sebentar saja sudah berada di pintu masuk sebuah area gudang dan beberapa bekas perumahan milik PERTANI yang kondisinya rusak dan rusak berat. Ya saat ini kami memang berada di dalam area tembok bekas Suikerfabriek, yang beberapa menit yang lalu kami telusuri pada bagian belakangnya.

Gudang PERTANI ini kini masih saja sibuk dengan aktivitas bongkar muat oleh para pekerjanya. Rata-rata bangunan tua di kawasan ini dibangun pada tahun enam puluhan atau setelah zaman kemerdekaan namun masih menyisakan arsitektur khas yang terpengaruh oleh bangunan-bangunan Kolonial Belanda. Tembok-tembok yang tinggi, jendela yang lebar, lubang angin berbentuk segi lima yang khas serta bentuk atap limas pun masih bisa disaksikan hingga sekarang walaupun beberapa bagian kondisinya sudah tidak terawat, seperti biasanya nasib bangunan tua.

Setelah puas berkeliling sebentar, perjalanan dilanjutkan dengan menyebarang jalan raya menuju Puskesmas Klampok 1 yang pada bagian baratnya dulunya merupakan Perumahan Milik Pegawai Suikerfabriek (Pabrik Gula) Klampok dan beberapa rumah masih terlihat utuh hingga kini.

Rumah pertama yang kami singgahi adalah rumah tua bergaya Indische Romantic, begitu menurut penjelasan Mas Lengkong (Arkeolog yang berkuliah di Jogjakarta). Bangunan ini seperti biasa berukuran tidak biasa pada rumah saat ini.

Tembok tebal, jendela lebar dan tinggi, bentuk atap yang khas serta ornamen untuk menghalangi tetesan air hujan yang berupa anak panah menghadap ke bawah serta ukiran khas yang menandakan gaya rumah pada satu komplek pembangunan atau pembuatnya.  Sayang…kami tidak bisa masuk karena rumah terkunci pada bagian pintu luar rumahnya.

Masih di sebelah rumah bergaya Indische Romantic, terdapat rumah tua lainnya yang sedikit berbeda modelnya, mungkin pernah direnovasi pada era setelah kemerdekaan namun masih menyisakan struktur atap yang khas serta pemisahan bangunan utama dengan bangunan penyokong pada area samping.

Menurut Mas Jatmiko dari Komunitas BHHC, pada zaman dahulu orang-orang Belanda memisahkan bangunan utama untuk kediaman mereka dengan para pembantunya, babu, jongosnya (maaf bukan bermaksud menghina, namun pada zaman dahulu memang penyebutannya demikian) untuk menjaga agar mereka tetap higienis.

Antara bangunan utama dengan bangunan untuk para pembantunya, dihubungkan dengan selasar. Biasanya bangunan di samping ini difungsikan untuk dapur, kamar babu, tempat menerima tamu dari kalangan pribumi serta untuk tempat kuda milik majikan.

Hal unik lainnya adalah dalam satu atap ini terdapat dua buah bangunan, sebelah bangunan untuk rumah di samping kanan dan satu bangunan untuk rumah samping kiri, keduanya dipisahkan tembok tinggi namun atapnya bersamaan dan fungsinya pun sama untuk tempat tinggal pembantu, babu, jongos dan semacamnya.

Rumah ini pun memiliki plang khusus yang menandakan nama pemilik rumah dari generasi ke generasi. Dari penjelasan Mas Jatmiko, plang ini biasanya digunakan pada erah setelah kemerdekaan dan saat ini jarang ditemukan.

Sisa perumahan di komplek ini kini berubah menjadi perumahan milik warga sekitar, masjid, lapangan serta dijadikan komplek gedung Balai Latihan Kerja Pertanian BLKP, Klampok. Pada gedung utama BLKP Klampok ini dulunya merupakan rumah Sang Administrateur Suiker Fabriek, yang membedakan tentu ukuran bangunan serta model bangunannya yang berbeda dengan perumahan para pegawainya. Ini menunjukan kelas sosial serta jabatan yang berbeda pada masanya.

Komplek BLKP Klampok ini lumayan luas dengan bangunan utama dari bekas rumah Administrateur Suikerfabriek Klampok serta bangunan-bangunan pendukung lainnya mulai dari asrama, aula, bengkel praktek serta green house untuk tempat menyemaikan bibit-bibit tanaman.

Gedung utama di komplek ini kini berwarna hijau cerah dengan tulisan besar BLKP KLAMPOK di atas beranda utama.

Setelah beristirahat sebentar dan dijadikan rombongan untuk membuang hajat sedari tadi, kami semua pun pergi dari lokasi ini dan beranjak menuju bekas Stasiun Kereta Api, Klampok.

Bersambung…

41 thoughts on “Jelajah Banjoemas: Melihat Gedung-Gedung Tua di Klampok

  1. Alid Abdul

    Seru yak napak tilas pabrik gula. Praktik memisahkan bangunan “babu” dengan juragan masih terjadi sampai sekarang. Meski bangunannya gak terpisah tapi ada saja cara untuk membangun gap antara juragan dan jongosnya. Ya piye neh emang begitu laku dunia.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setuju…banyak rasisme zaman kolonial yang masih dilakukan dan jadi budaya di sekitar kita, kalau mau diteliti banyak..banyak..

      Reply
      1. Alid Abdul

        Bukan warisan rasisme kolonial sih ah. Hampir semua kebudayaan membeda-bedakan golongan, baik kasta dan lain sebagainya. Di tradisi Jawa saja ada.

        Reply
        1. Hendi Setiyanto Post author

          eh iya ding…banyak ditemui juga, dalam agama pun juga ada ya?

          Reply
  2. Johanes Anggoro

    Melihat rumah-rumah kayak gini it harus menepikan dulu pikiran bahwa rumah tersebut angker dan semacamnya.
    Kalo saya sendiri malah jelalatan matanya 😀
    Unsur estetiknya lah yg membedakan dg rumah-rumah modern yang cenderung kotak-kotak membosankan.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      untungnya aku orangnya boleh dibilang bukan penakut dengan hal2 mistis jadi oke2 saja malah seneng ngeliat bangunan tua masih berdiri walau ada yang rusak hahaha

      Reply
  3. Hendi Setiyanto Post author

    aku sih walau ga penakut tapi menjaga sopan santun kepada yang berwujud dan tidak ya tetap dijunjung dimanapun aku berada hehehe, minimal permisi lah, pun saat ke kuburan tua

    Reply
  4. Gara

    Wih, ornamennya keren. Beberapa jenis ornamen serupa pernah saya lihat di rumah-rumah tua di Jakarta. Mungkin mereka asalnya dari satu zaman, ya. Jika pelestariannya lebih maksimal, pasti bangunannya bisa lebih awet lagi. Minimal tidak ada kayu-kayu yang termakan usia dan jamur serta air hujan. Karena pasti diganti dengan kayu-kayu baru, hehe. Oh iya, papan nama itu juga terlihat familiar, ya. Betul, di rumah-rumah tua adanya, hehe. Beberapa masih pakai ejaan lama juga. Mungkin seru kali ya kalau di rumah nanti saya pasang papan nama juga. Hehe.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      ornamen di ujung atap itu memang menunjukan periode atau era arsitekturt tertentu yang sedang ngetrend, kata mas Lengkong,

      Reply
        1. Hendi Setiyanto Post author

          mungkin mirip zaman sekarang, gaya rumah yang cenderung mirip karena sedang ngetrend

          Reply
  5. bersapedahan

    keren .. saya suka rumah2 tua seperti ini … banyak detil dan ornamen2 yang masih bertahan … mudah2-an rumah2 tua ini tetap terjaga dan lestari ..

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      setuju, eksotisme bangunan tua apalagi yang masih terawat itu timeless dan priceless menurutku

      Reply
  6. Hastira

    akupaling suka nih lihat2 rumah2 tua loh, kesannya eksotis dan rasanya mau tahu adakah cerita tentang rumah itu

    Reply
  7. Halim Santoso

    PERTANI ki badan opo, Hen? Kirain kompleks bekas suikerfabriek Klampok dimiliki ama PTPN IX, ternyata bukan ya? Jadi pingin napak tilas langsung ke sana nih setelah baca tulisan iki hehehe.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      menurut cerita warga di belakang tembok, bukan milik PTPN (kayaknya sih) mas Jatmiko juga ga cerita kalau milik PTPN, beberapa tanah malah dimiliki oleh YAKKUM (kristen emanuel)…

      Reply
  8. Adie Riyanto

    Hal yang sama sepertinya pernah aku lihat di sekitar kawasan Mrican (Kediri) dan Cukir (Jombang). Kalau pemisahan lokasi rumah antara milik juragan dengan pembantu itu memang lumrah terjadi di zaman dulu. Menunjukkan status sosial. Tapi zaman sekarang kalau ada yang kayak gitu bakal dibully kali ya hehehe 😀

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      Wah namanya sama..di kotaku jg ada Mrican tp jd nama terminal.
      Setujuuuu…keterlaluan

      Reply
  9. Endah Kurnia Wirawati

    banyumas punya banyak bangunan tua yang bersejarah dan unik jugaa yaa
    paling suka lihat bangunan-bangunan lama apalagi yang terbengkalai begitu.. jadi mikir buat sesi pemotretan apalah gitu.. hehehe

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      hooh katanya gitu, tapi baru tau di sekitaran banjarnegara doang sih.
      asyik seneng kalau ada yang suka dengan hal beginian juga hehehe

      Reply
  10. BaRTZap

    Jadi ingat rumah kakek semasa aku kecil di Kudus. Gaya bangunannya pun hampir mirip seperti ini. Tinggi, dengan tembok berlabur kapur, memiliki ornamen di sekitar atapnya, dilengkapi kaca patri warna warni, dan yang paling khas adalah selalu ada tahun pembuatan rumahnya di fasad atas bagian depannya.
    Kalau aku perhatikan, sepertinya rumah-rumah ini masih banyak terdapat di kota-kota kecil ya dibandingkan di kota-kota besar.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      senangnya punya pengalaman punya rumah seperti itu. iya memang dulu di kampungku, rumah yang sudah gedong (berbatu bata) selalu menyertakan angka tahun pembuatan di bagian depan rumahnya, namun sekarang sudah jarang ditemui lagi. di kampungku tinggal tersisa satu rumah joglo berdinding batu bata yang masih asli sedari kecil dulu

      Reply
      1. BaRTZap

        Kayanya memang kebiasaan itu sudah berubah Hen. Padahal seru juga ya kalau masih diteruskan, jadi kita bisa tahun perkiraan usia sebuah rumah.
        Sayangnya rumah-rumah sekarang itu cepat sekali dibongkar pasangnya, gak seperti rumah-rumah jalan dulu. Dan ukurannya pun relatif lebih sempit 🙂

        Reply
        1. Hendi Setiyanto Post author

          iya juga sih, karena dipetak2 dengan macam2 ruangan yang membuat rumah menjadi sempit. rumahku agak beda, ruang tamunya masih kepengaruh zaman dulu jadinya lumayan luas dan bisa buat lari2

          Reply
  11. Matius Teguh Nugroho

    Aku menyimak pembicaraanmu dengan mas Alid di atas. Ibuku bekerja sebagai ART. Walaupun beliau nggak tinggal serumah dengan majikan (tetap pulang ke rumah kami setelah bekerja), namun aku nggak masalah dengan praktik pembedaan ruang antara tuan rumah dan ART-nya. Aku tidak memandangnya sebagai gap pemisah, namun sebagai profesionalisme kerja. Yang penting adalah sang tuan rumah tetap memperlakukan ART-nya juga dengan profesional dan dengan manusiawi.
    Lalu, bisa dicontohkan praktik pembedaan dalam agama? Iya, memang ada yang namanya pemuka agama, jemaah / jemaat, dan sebagainya, namun aku nggak melihat adanya perlakuan atau hak dan kewajiban yang berbeda (setidaknya di dalam agama yang kuanut).

    Reply
  12. Pingback: Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok | NDAYÉNG

  13. Pingback: Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok | NDAYENG

Leave a Reply