Saat Manusia Ikan Berebut Ikan di Sungai Serayu

Suasana kota Banjarnegara, Minggu pagi ini begitu sepi. Beberapa jalan utama ditutup dan dialihkan ke jalan lain karena dijadikan ajang car free day. Saya yang berangkat dari Punggelan harus memutar lewat jalan pinggiran kota menuju Pinggir Sungai Serayu-Madukara. Ada apa gerangan di sana? Minggu ini adalah puncak dari gelaran Festival Serayu Banjarnegara Tahun 2017. Dari rangkaian acara yang diadakan hampir sebulan ini, saya hanya mengikutinya saat pembukaan dan penutupannya saja.

20170827_073218-01

jembatan yang menghubungkan Singamerta-Madukara

Festival Serayu Banjarnegara Tahun 2017 ini saya awali dengan ikut menyaksikan Dieng Culture Festival selama 2 hari 2 malam di Dataran Tinggi Dieng dan diakhiri dengan Festival Parak Iwak di Sungai Serayu, minggu tanggal 27 Agustus kemarin.

Sengaja saya berangkat lebih pagi yaitu jam setengah tujuh pagi menuju tepian Sungai Serayu di Madukara. Setelah lumayan tersendat lama di pinggiran kota karena ada acara lari yang beberapa ruas jalan harus ditutup untuk memberikan jalan bagi para runners melintas, akhirnya sampai juga di Desa Singomerto dan langsung bablas ke tepian Sungai Serayu.

Dari pengamatan acara serupa 2 tahun yang lalu, saya merasa festival tahun ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung, beda dengan sebelumnya yang sudah ditandai dengan macetnya jalan raya dari arah kota menuju Singomerto. Tapi untungnya adalah sepeda motor bisa diparkir dengan leluasa hingga di pinggiran Sungai Serayu.

Pergi seorang diri dan sudah terbiasa, saya langsung menuju area pinggir Sungai Serayu yang pagi itu masih lumayan lengang namun perahu-perahu karet sudah terlihat mengapung di aliran air bawah jembatan besi. Saya bergegas turun dan menunggu di pinggiran sungai menikmati aliran air sungai yang saat kemarau ini debitnya berkurang drastis.

20170827_080807-01

panitia dari unsur TNI, dinas perikanan dan pegiat rafting

Beberapa panitia yang terdiri dari TNI, Dinas Kelautan dan Perikanan serta tim SAR arung jeram PIKAS, sudah siap dengan pelampung dan helm menuju perahu karet masing-masing dan membawa beberapa bungkus ikan dalam plastik besar yang nantinya akan ditebar di sepanjang sungai. Sementara itu, para “manusia ikan” sebutan untuk para peserta yang hendak ikut menangkap (parak) ikan sudah mulai menyemut di pinggiran sungai dengan peralatan seser (alat tangkap ikan) di tangannya masing-masing. Sebenarnya panitia melarang para peserta menggunakan alat dan harus memakai tangan kosong tapi ya gitu, orang-orang susah sekali diatur.

20170827_101931-01

tak lama setelah ikan disebar ke sungai

Dua buah tenda di sisi kanan dan kiri pintu masuk menuju sungai mulai ramai dengan sajian Lengger Banyumasan yang suara kendangnya menghentak hingga beberapa pengunjung tak kuasa menahan pinggul untuk ikut ngibing.

Sementara itu tenda yang satunya dijadikan sebagai lokasi para pejabat dan Bupati untuk bersantap menikmati sajian sambil menyaksikan parak iwak nantinya. Tak salah memang, karena kendang khas Banyumasan memang sangat buket karena masih terpengaruh budaya Sunda dengan kendang Jaipongnya.

Dua orang lengger yang salah satunya masih terlihat sangat muda, dengan luwesnya memainkan pinggul serta selendangnya menyesuaikan dengan hentakan kendang yang begitu enerjik. Saya yang termasuk penikmat seni tradisional (terserah dibilang norak) sangat menikmati kesenian seperti ini hehehe.

Sang pembawa acara dengan pakaian serba hitam dan memakai ikat kepala, tak henti-hentinya mengingatkan para “manusia ikan” untuk sabar, jangan dulu masuk ke sungai. Tercatat lebih dari sepuluh kali sang pembawa acara terus woro-woro seperti ini dan sudah bisa ditebak, pengunjung sangat susah diatur.

Rombongan parade pembawa kendil ulam sari dari Gedung Kecamatan Madukara terlihat mulai memasuki pintu masuk sungai. Sebuah dermaga buatan dengan hamparan karpet merah hingga bibir sungai telah bersiap menyambut para tamu. Janur-janur kuning yang terpasang di sepanjang sungai juga ikut memeriahkan festival minggu pagi ini.

Ada 7 tokoh Bima dan Arimbi yang masing-masing membawa payung serta kendi yang berisi air yang berasal dari tuk (mata air) Bima Lukar dari Dataran Tinggi Dieng. Sebelumnya mata air tadi diarak menggunakan kendaraan dari Dieng dan disemayamkan semalam di Gedung Kecamatan Madukara untuk kemudian diarak ke Sungai Serayu.

20170827_093252-01

7 bima dan 7 arimbi membawa ulam sari

Bima dan Arimbi tadi dikawal oleh prajurit serta Kakang-Mbekayu Banjarnegara menuju bibir sungai dan juga dipimpin langsung oleh Bupati Budhi Sarwono. Upacara penyambutan dipimpin oleh Wabup Syamsudin untuk kemudian dilanjutkan dengan pelepasan ribuan (katanya, soalnya tidak menghitung) ekor ikan, menandai Parak Iwak dimulai.

Dari kejauhan sudah terlihat para manusia ikan sudah nyebur ke tengah sungai, suasana makin kacau dan tak terkendali. Panitia mungkin sudah pasrah menghimbau untuk sabar..sabar dan sabar tapi apa daya, belum juga ikan dilepas ke sungai, para manusia ikan sudah menyerbu perahu karet dan berharap ikan-ikan tadi langsung masuk ke dalam kantong plastik mereka. Ini sih namanya bukan parak iwak tapi memindahkan ikan dari satu tempat ke tempat lainnya hahahaha.

Saya malah ngeri lihat orang-orang beringas dan memilih menepi dari sungai daripada tertubruk atau kecipratan air, padahal sudah bawa baju ganti hahaha. Saya belum melihat orang-orang dapat ikan banyak, boro-boro…seekor pun banyak yang nihil, jadi ini beneran ikannya berkilo-kilogram? Ah saya pun males mikirnya.

Katanya sih ada sepasang ikan yang memiliki tanda khusus dan barang siapa yang bisa menangkapnya akan dapat doorprize berupa uang atau barang elektronik. Saya langsung mikir, jika saja para manusia ikan ini mau mengikuti aturan main pasti bakalan ramai dan tertib, proses menangkap ikan akan lama dan orang-orang bisa menikmatinya, tidak seperti ini yang rakus dan inginnya dapat banyak hahaha.

20170827_102006-01

melihat dari atas jembatan

Lagi-lagi saya melongo karena belum melihat orang  yang bawa berekor-ekor ikan di keranjangnya, mana…mana? Apesnya malah melihat seseorang yang kakinya berdarah karena terkena benda tajam atau bebatuan saat di dalam Sungai Serayu. Daripada bingung saya memilih mendekat ke mbok-mbok penjual lontong, tahu, tempe kemul dan bakwan untuk mengganjal perut yang perih. Dengan uang lima ribu rupiah, saya pun puas bukan makan ikan tapi makan lontong dan gorengan di Parak Iwak tahun ini.

Waktu menunjukan pukul sebelas siang dan sudah saatnya pulang, bingung mau menunggu apa di sini lha sudah mulai pada bubar hahaha.  Niat awal siapa tau dapat ikan eh pulang-pulang malah jadinya beli masker doang , hehehe. Sampai jumpa lagi di Pesta Parak Iwak, 2 tahun ke depan, semoga aturan main acaranya diperbaiki agar semuanya senang, tertib dan bahagia.

15 thoughts on “Saat Manusia Ikan Berebut Ikan di Sungai Serayu

  1. Halim Santoso

    Meriah banget festival tahunannya. Dan Sungai Serayu juga nggak butek, jadi pingin rafting di sana lagi deh hehehe. Tahun depan sebar infonya donk, Hen. 😀

    Reply
  2. andinormas

    Tipikal orang Indonesia yak.. susah diatur.. hehehe..
    Kadang2 kesel sendiri sama org2 kayak gtu, tapi kadang2 malah jadi kebawa juga..

    Reply
  3. bersapedahan

    kalau kata ahli perilaku yg muncul di TV … kita2 ini memang butuh dikerasin .. tidak bisa dihimbau atau dikasih tahu … karena kita memang sudah tahu .. tapi tidak punya rasa malu .. rasa tanggung jawab dan rasa2 lainnya deh … hehe

    Reply
  4. Fanny Fristhika Nila

    Wiiih siapa yg bilang penyuka seni tradisional itu norak??? Yg bilang pasti blm tau kalo seni daerahlah yg membuat negara ini punya identitas sendiri..
    Sayang acaranya ga teratur ya mas.. Kebiasaan org kita banget, ga mau mematuhi aturan 🙁 .. Mbok ya tertib gitu, jd kalo sampe ada turis asing yg melihat jg ga bikin malu

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      mungkin kudu didata juga peserta yang punya tiket buat ikutan nyebur kali ya…biar ga pada seenaknya sendiri kan dilihat jadi sayang gitu kurang sreg

      Reply

Leave a Reply