Jelajah Banjoemas: Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok

Penjelajahan berikutnya adalah melihat bekas jembatan kereta yang melintas di atas aliran Sungai Serayu yang kini sudah tidak tersisa sama sekali apa-apa, hanya rimbunan semak belukar yang tumbuh subur di pinggir sungai dan belakang perumahan warga. Menurut penuturan mas Jatmiko, dulunya jembatan yang melintas di atas Sungai Serayu ini adalah jenis Jembatan Tambangan, saya pun masih kurang begitu mengerti bagaimana mekanisme dari jenis jembatan ini.

Tak jauh dari bekas jembatan tadi terdapat tembok-tembok tinggi nan tebal yang tersusun dari bata merah inilah dulunya letak Suikerfabriek Klampok (Pabrik Gula Klampok). Di sekitar tembok-tembok tinggi nan tebal ini sekarang telah dikepung oleh permukiman warga, namun saya masih bisa melihat rumah-rumah khas bergaya tahun enam puluhan yang masih gagah berdiri serta terawat. Tembok-tembok ini sekarang posisinya berada persis di jalan-jalan kecil melewati rumah-rumah. Pada bagian belakangnya kini sudah dirobohkan dan sudah ditumbuhi aneka semak belukar.

Baca cerita sebelumnya, Jelajah Banjoemas: Melihat Sisa-Sisa Proyek Irigasi Bandjar Tjahjana Werken (BTW)

”Ada acara apa ini, kok rame-rame begini?” tanya seorang kakek berusia lanjut yang tengah duduk di teras rumahnya, rumahnya persis menghadap tembok bata merah nan tebal dan tinggi.

“Permisi pak, kami dari komunitas sejarah yang tengah napak tilas menyusuri keberadaan suikerfabriek di Klampok ini”. Jawab mas Jatmiko, pemimpin rombongan.

Soewadi (80) nama kakek yang berusia lanjut ini. Dari cerita beliaulah, kami jadi tahu sedikit sejarah tentang keberadaan Suikerfabriek di Klampok, termasuk sejarah keberadaan tembok-tembok ini. Menurut penuturan beliau, di masa lalu, pabrik yang dipimpin oleh Administratur bernama Jacobus Fransiscus de Ruyter de Wildt pada tahun 1889 ini, wilayah perkebunan tebunya terbentang mulai dari Kec.Purwonegoro, Mandiraja, Klampok, Susukan, Somagede (Banyumas),  hingga beberapa wilayah di selatan Kabupaten Banyumas. Jaringan rel lori juga dibangun di wilayah Kec.Bukateja (tjahjana), Kemangkon dan Tidu.

Setelah masa kejayaan Suikerfabriek Klampok ini mulai memudar dan bangkrut, keberadaan bangunan bekas pabrik gula ini berpindah tangan atau disewakan kepada saudagar Tionghoa bernama Lie Hok Tjan dan adiknya Lie Hok Liang hingga akhirnya dikuasai sepenuhnya oleh mereka alias dibeli. Kedua tokoh Tionghoa tadi dikenal sebagai saudagar beras yang cukup berjaya pada masanya, mulai dari daerah Bodjong Purbalingga hingga ke Klampok Banjarnegara.

Setelah Indonesia merdeka, bekas pabrik gula ini pun pernah disewa oleh PERTANI kemudian dijual ke Balai Latihan Kerja (BLK) yang saat itu dipimpin oleh Amad Salyo Sujarwoto hingga kemudian disewa lagi oleh Pabrik Rokok Atoem dan berakhir dengan dimilikinya sebagian tanah kepada Yayasan Kristen Untuk Kesejahteraan Umum (YAKKUM) untuk dijadikan salah satu tanah di bawah naungan RS Emanuel Klampok.

“Jangan lupa bayar ya? Tiap informasi nggak gratis loh, apalagi saya saat ini sudah terkena stroke seperti ini dan tidak bisa mencari uang lagi” begitu saya menirukan perkataan beliau Kakek Soewadi. Seluruh rombongan yang sedari tadi duduk manis mendengarkan cerita si kakek pun tersenyum.

Setelah peserta rombongan berfoto dengan latar belakang tembok batu bata merah ini, perjalanan berikutnya pun dilanjutkan. Lagi-lagi dengan menggunakan sepeda motor yang kalau dinyalakan seperti sedang ada demo besar-besaran dan sontak membuat penduduk kampung menjadi merasa ingin tahu dan keluar rumah.

Melihat Kerkhof di Pinggir Pematang Sawah Klampok

Tak berapa lama kami mengendarai sepeda motor dan berhenti di jalanan setelah turunan, di depan kami ada jalan aspal yang membelah area persawahan hijau. Sepeda motor pun diparkir berurutan di pinggiran jalan yang tak terlalu lebar ini.

“Jangan lupa pakai lotion anti nyamuknya” begitu ucap mas Jatmiko kepada seluruh peserta rombongan.

Maklum, kali ini kami akan mblusuk melewati area rimbunnya tanaman bambu di tengah kebun-kebun milik warga sekitar. Jalanan setapak yang lumayan licin harus kami lewati hingga berujung pada sebuah pemandian umum berupa “belik” mata air yang muncul dengan cara menggali tanah beberapa meter di pinggir area persawahan. Siang itu terlihat seorang ibu-ibu yang tengah mencuci pakaian seorang diri dan sesepi ini, sebelum rombongan kami membuat suasana siang itu menjadi ramai.

Persis di atas “belik” ini terdapat sejumlah tujuh buah Kerkhof yang kondisinya sangat tidak terawat dan ditumbuhi semak belukar. Kami pun langsung sigap melihat satu persatu Kerkhof-Kerkhof yang masih ditumbuhi semak belukar ini. Beberapa peserta berinisiatif membersihkannya hingga terlihat jelas bentuknya.

Mas Jatmiko dan Lengkong (mahasiswa arkeolog yang berkuliah di Jogjakarta) mulai menjelaskan sedikit tentang makam-makam ini yang kemungkinan merupakan para pegawai bekas Suikerfabriek yang tak jauh dari lokasi makam ini. Saya pun bertanya mengenai apakah ada aturan jika makam Belanda ini harus menghadap ke arah mana dan dijawab oleh beliau berdua bahwa tidak ada aturan baku harus menghadap kemana suatu makam dan hanya mementingkan estetika saja.

Dari Mas Jatmiko pun saya menjadi tahu jika salah satu motif batik Buketan khas Pesisiran, terinspirasi oleh rangkaian bunga atau bouquet dalam Bahasa Inggris maupun Belanda. Rangkaian bunga ini biasanya memang menjadi hiasan atau ornamen pada nisan-nisan makam Belanda, menunjukan si pemilik makam merupakan orang terpandang dan mempunyai jabatan.

“Yang sensitif terhadap kuburan atau makam, harap menjauh saja” Imbau Mas Jatmiko kepada rombongan yang sedari tadi asyik mengamati Kerkhof-Kerkhof di tempat ini. Peserta pun ada yang mengindahkan himbauan beliau, namun tak sedikit yang masih asyik dengan kameranya masing-masing.

Setelah kurang lebih lima belas menit kami di sini, peserta rombongan pun pergi meninggalkan komplek Kerkhof ini menuju destinasi selanjutnya.

Bersambung….

29 thoughts on “Jelajah Banjoemas: Yang Tersisa Dari Suikerfabriek Klampok

  1. Halim Santoso

    Duhh sisa kerkhof e bikin penasaran nih. Motif buketan dijabarin di Museum Batik Pekalongan, Hen. Di sana bisa belajar perbedaan antara buketan peranakan Eropa dan buketan peranakan Tionghoa. Selain simbol buketan, ada simbol yang lain nggak di nisan mereka? #kode
    Mendinh loh bekas suikerfabriek Klampok jatuh ke tangan swasta, bukan militer. Setidaknya ada rentetan sejarahnya yang tidak terputus begitu saja. Ditunggu cerita selanjutnya tentang rumah saudagar dan rumah pegawai di sekitar Klampok, Hen. 😉

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      simbol menarik justru saat berkunjung ke komplek pekuburan tionghoa yang salah satu nisannya itu ada yang lain daripada yang lain karena bentuknya saja plek njiplek kerkhof belanda tapi tetap ada aksara chinesenya, kami belum tau kuburan siapakah ini dan apa saat hidup punya jabatan penting dengan belanda.
      baru tau juga asal kata buketan dari kata itu hahaha

      Reply
  2. Deddy Huang

    mengenai kuburan betul, kuburan lama dan keramat memang bisa bikin sensitif.
    oh ya mas hendi ada foto motif batik Buketa yang dijumpai gak?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya saat itu sih aku kurang peka atau gimana jadi biasa saja, cuma tetap menghormati dimana pun tempatnya, jadi kemarin ya nyoba bersih2 kuburan semampunya saja.
      rata2 nisan di sini sudah dalam kondisi hancur jadi cuma terlihat bentuknya saja, bahkan nama yang dimakamkan pun kurang tau siapa saja

      Reply
  3. Hendi Setiyanto Post author

    iya setuju banget, belajar langsung ke lokasinya, duh jadi inget guru sejarah yang nyerocos terus sepanjang jam pelajaran dan muridnya pada sibuk ngobrol sendiri

    Reply
  4. rynari

    Trim Hendy suguhan oleh2 SF dan kerkhof di Klampok. Klampok emang kaya rasa ya…salak juga oke, keramik juga ciamik. Menunggu postingan destinasi berikutnya.

    Reply
  5. BaRTZap

    Tiba-tiba aku teringat, di sekitar tahun 65-69an banyak pabrik-pabrik gula macam ini yang ‘dialihfungsikan’ menjadi ladang pembantaian. Apakah ada info yang sama juga soal ini Hen?

    Reply
  6. bersapedahan

    saya suka susur sejarah seperti ini … terbayang langsung suasana masa lalunya.
    Mudah2-an benda2 historikal tersebut jadi lebih terawat … sayang kalau samai hancur dan hilang

    Reply

Leave a Reply to Fanny Fristhika Nila Cancel reply