Si Kemantren, Riwayatmu Kini

Perlu sedikit perjuangan saat langkah kaki harus perlahan melewati pondasi bangunan rumah yang berdiri persis di bekas jalan tanah menuju sumber mata air di depan rumah. Entah percaya atau tidak, di seberang rumah dan di pinggir jalan raya terdapat sebuah mata air alami yang setahu saya tidak pernah kering walaupun dalam suasana kemarau panjang. Letaknya memang berada di jurang dan butuh berjalan kaki tidak lebih dari lima menit dan sudah sampai.

Dulu, saat penduduk masih mengandalkan kebutuhan air minum, MCK dan juga tempat memelihara ikan di kolam, mata air ini selalu ramai dikunjungi tiap pagi dan petang. Saya pun masih merasakan bagaimana rasanya menggembalakan domba dan memandikannya di kolam sekitar mata air.

Kini kondisinya sepi, rusak dan tak terawat. Kurang lebih seperti itulah kondisinya saat hari minggu, saya mengunjungi lokasi ini yang notabene tidak jauh dari rumah.

Setelah melewati jalanan menurun berupa anak tangga yang terbuat dari tanah, saya pun kini sampai di lokasi utama sumber mata air. Ada dua buah kolam berukuran besar yang pada pinggirnya dijadikan jalan masuk menuju pancuran mata air. Mata air Kemantren, begitulah penduduk sekitar menamainya. Mengenai mengapa dinamakan seperti itu, saya pun kurang paham apa sebabnya. Yang pasti, pada masanya, mata air ini menjadi salah satu urat nadi kebutuhan penduduk untuk MCK dan pertanian.

Di ujung kolam terdapat sebuah mushola semi terbuka yang setahu saya sejak zaman kecil dulu kondisinya tidak jauh berubah. Dulu saat bulan puasa biasanya anak-anak bermain di dalam musala sambil menunggu siang ataupun sore. Kini kondisinya pun sepi dan tak terawat.

Memasuki lokasi pancuran utama, pengunjung akan disuguhi berupa sebuah bangunan semi terbuka (hanya ada dinding tanpa atap) yang terbagi menjadi dua ruangan. Ruangan pertama dijadikan lokasi untuk perempuan dan yang kedua adalah untuk laki-laki.

Untuk ruangan perempuan, pancuran berjumlah tiga buah yang biasanya digunakan untuk mencuci pakaian dan mandi. Sedangkan untuk yang laki-laki berjumlah dua buah pancuran.

Saat saya ke sini, hanya ada dua orang laki-laki yang hendak mandi. Itu pun hanya sebentar saja dan kemudian pergi meninggalkan lokasi ini.

Jadi pada ujung lokasi ini terdapat tebing yang mengeluarkan mata air berukuran lumayan lebar. Dari mata air inilah oleh penduduk sekitar ditampung dalam bak kecil untuk kemudian dialirkan oleh dua buah pipa besar ke dalam bak penampungan utama. Dari bak penampungan utama yang berada pada ketinggian sekitar dua meter inilah diberi pancuran berjumlah lima yang terbagi atas pancuran untuk perempuan dan laki-laki. Keduanya dipisahkan oleh tembok setinggi satu setengah meter lebih.

Dulu mah tidak ada rasa sungkan saat perempuan dan laki-laki mandi bersama namun hanya dipisahkan oleh tembok. Sepengetahuan saya, tidak ada kejadian yang tidak diinginkan di tempat ini. Entahlah untuk saat ini bagaimana kondisinya jika masih digunakan untuk mandi dan mencuci.

Yang membuat mata air ini unik adalah, kondisi di atas tebing berupa jalan aspal, perumahan, perkantoran, mini market dan juga sekolah. Namun tebing-tebing ini ditumbuhi oleh banyak pohon sehingga keberlangsungan mata air tetap terjaga meskipun saat kemarau melanda.

Pernah beberapa kali tebing longsor saat beberapa tahun yang lalu pepohonan ditebang dan menjadi gundul namun berkat seorang Bapak Hadi, yang telaten menamam berbagai macam pohon, kondisinya berangsur membaik hingga kini dan mata air tetap lestari meskipun kondisinya kini tidak terawat karena jarang sekali orang menggunakannya.

Beliau adalah salah seorang tuan tanah di kampung yang memiliki banyak lahan di desa ini, termasuk di sekitar mata air ini. Salah satu hobinya adalah menanam berbagai macam pohon mulai dari cengkeh, mahoni, afrika, albasia, kelapa dll. Tak heran jika lahan yang ia miliki terlihat sangat hijau dan juga rimbun

Dulu banyak terdapat kolam ikan di sekitar lokasi ini namun kini diubah menjadi kebun-kebun yang ditanami pepohonan.

Penduduk sekitar kini banyak yang menggali sumur di sekitar lokasi pemandian dan memasang mesin pompa untuk kemudian dialirkan ke rumah-rumah yang berada di atas. Sekali lagi ini masih dalam tahap wajar dan tidak mengganggu ketersediaan sumber mata air.

Beruntung, warga Desa Karangsari. Disaat daerah lain mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau melanda, desa ini dianugerahi mata air yang tak pernah kering sepanjang musim. Air sebagai salah satu sumber kehidupan memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup makhluk hidup dan ekosistem. Adanya banyak pepohonan di sekitarnya pun menjadi benteng yang kuat dari resiko tanah longsor yang banyak terjadi di Banjarnegara.

Kini meskipun sudah tidak dikunjungi banyak orang namun lokasi mata air, pemandian Kemantren ini masih mendingan kondisinya. Saya berharap penduduk sekitar memfungsikan kembali lokasi pemandian ini dan tidak menelantarkannya.

Jangan pernah menelantarkan sumber alam yang menghidupi makhluk hidup sekitar ini tanpa syarat, hanya kita sebagai manusia yang sudah sepantasnya menjaga keberlangsungan dan keseimbangan alam raya ini. Bolehlah sekali-kali bernostalgia kembali mengenang indah masa kecil, mandi di pemandian umum walaupun sudah jamak ditemukan penduduk sekitar yang memakai saluran air dari PDAM.

22 thoughts on “Si Kemantren, Riwayatmu Kini

  1. Halim Santoso

    Asal nama Kemantren dari kata Mantri kah? Seger banget bisa mandi langsung dari aliran air yang mengucur gitu. Kalo permandian seasri itu mulai diarahkan jd tempat mesum, bikin viral ttg cerita uka uka aja biar yang nakal diganggu beneran ama alam hehehe.

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      bisa jadi begitu…
      eh ga pernah ada berita2 miring tentang tempat mesum kok, cuma sekarang saat orang pda punya air baik dari PDAM maupun sumur bor, jadi trlupakan sih

      Reply
  2. lialathifa

    Mgkn masih banyak yg punya air itu ya mas, jadi penduduk sana krg merawat lokasi mata air, coba kalo pas musim kering, rasanya baru deh mereka ngeh utk memanfaatkan. Semoga muncul pak Hadi2 yg lain spy tergerak utk melestarikan alam

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya, dateng kalau lagi butuhnya doang, termasuk aku heheheh
      aamiin…

      Reply
  3. fauziqbal

    tempat seperti itu sepertinya banyak mas, terlupakan. dekat saya juga banyak mata air terbengkalai, tak termanfaatkan. jadi pengen nulis tentang itu juga.hehe. salam kenal

    Reply
  4. bersapedahan

    sayang ya .. mata air begini tidak terawat, padahal bisa dikemas jadi tempat wisata juga … hmmm mungkin supaya rame dikasih cerita2 mistis … mandi dipancuran bisa enteng jodoh .. hehe

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      iya sebagian besar pakai PDAM dan sumur-sumur di dekat mata air yang dialirkan ke rumah2

      Reply
  5. Shunda Plafon

    wah sayang sekali, tidak terawat. Jika terawat pasti banyak pengunjungnya itu…..
    apakah ini tugas dari Pemerintah?” atau segenap masyarakat sekitar yang ingin merawatnya?
    Saya hanya bisa mendoakan semoga tempat tersebut dapat kembali seperti dahulu. Amin.

    (Resti.H)

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      menurut saya sih masyarakat semuanya yang harus merawat, tapi kalau merawat ya harus mau menggunakannya, masalahnya orang2 sudah pada pakai PDAM dan sumur pompa, jadi ya gitu terlantar deh..

      Reply
  6. Himawan Sant

    Sayang banget mata air Kemantren terlihat kurang terawat begitu …
    Andaikan dibuat kolam besar malah bagus loh.

    Di Magelang ada sumber mata ait yang ngga pernah kering. Dibuat kolam besar dan juga dipisahkan untuk digunakan pria dan wanita.
    Bahkan ada beberapa sumbet mata air, ngga cuman 1.

    Reply

Leave a Reply to andreas Cancel reply