Jelajah Bandung: Selamat Pagi Lembang!!

Lokasi parkir yang persis berada di depan komplek resto dan one stop entertainment kini telah penuh sesak oleh bis-bis yang berplat nomor dari kota yang berbeda. Butuh waktu lama untuk bis yang kami tumpangi ini bisa menemukan posisi yang pas sebelum semua penumpang hendak turun untuk membersihkan diri sekaligus sarapan pagi.

Karena ini merupakan long weekend menjelang Hari Raya Imlek, tak bisa dihindarkan lagi jika semua lokasi wisata pasti akan penuh sesak oleh para pengunjung yang hendak mengisi liburan panjang mereka dengan berekreasi. Apalagi kawasan Lembang-Bandung ini sudah terkenal dengan kemacetannya pada saat weekend.


Baca cerita sebelumnya di sini


Kondisi jalan yang sempit, berkelok-kelok dan juga menanjak membuat kendaraan yang lewat tak terhindarkan dari terjebak kemacetan parah. Semuanya cukup beralasan karena di kawasan Lembang nan sejuk dan berada pada ketinggian ini membuat siapa saja hendak menyejukan diri di kota ini. Termasuk rombongan kami ini yang notabene berasal dari kawasan yang berada pada ketinggian dan berhawa sejuk (Banjarnegara) pun ikut latah berwisata ke Lembang.

Tiba di Resto Grafika, Lembang

Sambil menunggu restoran dan toilet yang masih penuh sesak oleh para pengunjung, saya memisahkan diri dari rombongan dan duduk di pinggir jalan sambil sesekali menikmati atmosfer Lembang yang tidak beda jauh dengan kawasan Dataran Tinggi Dieng di Kabupaten Banjarnegara.

Beberapa bis yang terparkir ada yang dari rombongan mahasiswa salah satu Universitas Negeri dari Kota Palembang yang sedang mengadakan non stop tour dimulai dari Palembang – Bali – Jogjakarta – Bandung – Jakarta – Palembang. Logat-logat khas Palembang pun seakan menambah semarak tempat ini selain tentu saja tidak ketinggalan logat khas Banyumasan, ngapak.

Tidak seperti rombongan lain yang perlu antre lama guna bersih-bersih dan berganti baju, saya lebih memilih cuek menikmati kesejukan udara khas Lembang. Acara bersih-bersih dan urusan belakang sudah saya gabung tadi saat sholat subuh di salah satu rest area sebelum memasuki kota Bandung.

Kompleks Resto Grafika sendiri terdiri atas Restoran, Penginapan, Area Outbond, Villa dan juga toko-toko serta arena bermain anak yang tergabung menjadi satu di tengah-tengah hamparan hijau pohon pinus yang tertanam pada daerah perbukitan. Kontur bangunan di area ini sejatinya mengikuti kontur tanah yang tidak rata, jadi tidak heran jika restoran dan penginapan ada yang berdiri pada bagian atas dan juga bawah.

Beberapa kali saya menemukan logat khas ngapak Banyumasan dari para pekerja yang pagi itu tengah membersihkan rumput-rumput liar di kawasan resto ini. Awalnya saya mengira mereka merupakan orang asli Banjarnegara, namun setelah berbicara lebih lanjut-belakangan saya baru tahu kalau mereka sebenarnya berasal dari Kabupaten Kebumen yang tentu saja masih berbahasa ngapak.

Mereka merupakan para perantau yang tinggal, menetap dan menikah dengan wanita Sunda. Boleh dibilang ini menjadi sebuah perpaduan budaya unik antara bahasa ngapak dengan bahasa sunda yang dikenal halus.

Gagal Outbond

Rencana awal kami saat singgah di sini adalah melakukan kegiatan outbond sekalian sarapan pagi, namun karena waktu yang mepet, semua rencana itu akhirnya batal, padahal panitia dan segala macam properti serta hadiah telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Apa mau dikata, rencana tinggal rencana.

Saya yang terlalu percaya diri karena beranggapan bahwa sarapan pagi mendapat jatah di resto paling bawah sana membuat saya dan beberapa teman lebih dahulu menuju ke sana. Padahal usut punya usut, resto yang sudah dipesan oleh panitia berada pada bagian atas. Kami menunggu hampir satu jam lebih di bawah sana dan tidak menemui tanda-tanda giliran kami makan.

Berikutnya sudah bisa ditebak karena kami datang paling buntut, jatah sarapan kami tinggal menyisakan nasi, sosis dan kerupuk. Nasib..nasib tapi yang namanya orang sudah lapar tentu apapun akan dimakan saja daripada perut kosong sama sekali padahal nantinya masih banyak kegiatan yang membutuhkan stamina dan tentunya perlu kondisi dimana perut terisi makanan.

Hari makin siang dan satu persatu rombongan dari berbagai daerah hilir mudik meninggalkan area ini. Begitu juga kami yang akan terus naik menuju Kawasan Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu.

Satu persatu para rombongan memasuki kembali bis yang sudah terparkir dan tinggal menunggu aba-aba saja pergi meninggalkan tempat ini.

Bismillah, perjalanan selanjutnya segera dimulai pagi menjelang siang ini. Bersambung……

80 thoughts on “Jelajah Bandung: Selamat Pagi Lembang!!

  1. Halim Santoso

    Cuma mampir makan pagi aja ya di Lembang? Wah sayang banget sbentar dan pas libur nasional ke sananya. Padahal kalo ditelusuri lagi, bisa cicipi Lembang punya produksi susu sapi perah yang hits sedari dulu. Ditunggu cerita Takuban Perahu-nya yah. 🙂

    Reply
        1. Hendi Setiyanto Post author

          iya cocoknya ya pas hari2 biasa, bayangin kalau libur, dari kota terdekat saja misal Jakarta dah tumplek-plek, ditambah lagi dari daerah lainnya, jalannya sempit dan berkelok2 jadi ya gitu deh…

          Reply
  2. Matius Teguh Nugroho

    Aku malah belum pernah ke Grafika, wkwkwk. Baru tau kalo ternyata Kebumen itu juga ngapak. Sunda itu ada tingkatan-tingkatannya juga sih, kecuali anak-anak SMP SMA yang tingkatannya cuma 1. Tingkatan “anyiiinggg” hahaha

    Reply
  3. deli

    sbenernya tasik juga masuk kategori antara ngapak dan sunda, karena sedikit di perbatasan sunda sama banyumas.

    Reply
  4. Hendi Setiyanto Post author

    ga pelesiran terus kok,,cuma diirit nulisnya saja jadi kelihatan sring jalan-jalan, padahal ya nggak…
    saya doakan semoga menginjakan kaki di pulau Jawa…lebih khusus bisa mampir ke Dieng-Banjarnegara,,,aamiin…

    Reply
  5. Eko Nurhuda

    Aaaah, Lembang. Aku selalu penasaran sama seberapa dinginnya tempat ini. Dinginan mana sama Dieng ya? Dulu pernah ke Bandung, tapi Bandung kota di daerah Gegerkalong Girang. Udah lama sekali, tahun 2002. Jaman segitu udaranya masih sejuk banget. Terakhir ke Bandung akhir 2013 udah kerasa panas dan macetnya itu lho.

    Reply
  6. abesagara

    Yaelah mas, arep ngadem ndadak ming lembang koh, gari ming wanayasa apa kalibening koh ya, hahaha.mampir teropong boscha ngga mas?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      nyong juga mikir pas tekan kene, lah,,,kie nang banjar lewih akeh, tur apik2…tapi ya mau gimana lagi, dunia serba kebalik, kek judul sinetron lol…

      Reply
  7. rynari

    Nunggu cerita outbond di terminal grafika ooh ternyata wurung.
    Kami sempat nyicip nasi tutug oncom di salah satu saung resto ini.
    Setia menunggu kisah Tangkuban Perahu.

    Reply
  8. Putut Rismawan

    Bayarnya sama tapi sarapannya cuma dapet sisa ya mas 😀
    Oiya, di daerah lembang yang saya tau ada d’range (taman koboi) atau apa gitu namanya. Kesitu juga gak?? kayaknya sih keren. Kayaknya lho.. 😀

    Reply
  9. omnduut

    2 Tahun lalu saat ke Lembang aku cuma sempat ke Boscha sama Begonia aja. Padahal masih banyak tempat seru ya di sini. Mau balik lagi deh kapan-kapan 🙂

    Reply
  10. SITI FATIMAH AHMAD

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Hendi…

    Saya suka melihat tumbuhan pokok paku pakis yang besar itu. Apa di sana namanya pohon pinus. Pokok itu jarang di dapati di Malaysia. Saya pernah melihanya di kawasan bawah Gunung Kinabalu. Jembatan naganya sangat menakutkan ya, tapi tampak unik sekali.

    Salam sejahtera dari Sarkei, Sarawak.

    Reply
  11. bersapedahan

    di grafika cikole sebenernya seru juga tuh untuk camping2 nyaman .. ala2 glamping gitu, api unggun, jagung bakar .. seru deh .. sayang ya ga sempet outbond disana

    Reply
  12. Pingback: Jelajah Bandung: Tiba di Gunung Tangkuban Perahu | NDAYENG

Leave a Reply to Mydaypack Cancel reply