Pesona Sumba di Kota Perwira

Jalanan menurun dan berkelok-kelok ini telah kami lewati lebih dari setengah jam lamanya. Hamparan sawah yang bertingkat-tingkat menjadi pemandangan yang menyejukan mata bagi setiap pengendara yang melewati jalur ini. Kali ini kami hendak kembali menuju Banjarnegara setelah beberapa jam lalu mengunjungi Goa Lawa Purbalingga. Siang itu kami (dengan Wedwi) masih berada di Purbalingga dan niat awalnya hendak langsung pulang saja karena hari sudah siang.

Sebuah poster berukuran lumayan besar terpampang di pinggir jalan raya yang kami lewati. Dari sekilas pandangan mata, poster tersebut berisi lokasi wisata Curug Sumba yang lokasinya hanya 100 meter dari pinggir jalan raya. Sepeda motor yang kami tumpangi kebetulan sudah bablas lebih jauh dan terpaksa putar balik demi mengobati rasa penasaran kami tadi.

Processed with VSCO

Seratus meter dengan jalanan rusak berbatu

Sebuah jalan berbatu dan berdebu yang membelah luasnya area persawahan, kami lewati siang itu hingga berujung pada sebuah jembatan dengan aliran air sungainya yang lumayan jernih. Saat kami ke sini, sudah terlihat banyak sepeda motor yang terparkir begitu saja di ujung jembatan ini. Tidak ada karcis masuk ke tempat wisata ini, hanya sebuah kotak retribusi yang tergeletak di atas batu-berharap pengunjung ikhlas mengisinya dengan lembaran rupiah. Sisanya, kami hanya membayar jasa parkir sepeda motor seharga Rp 2,000 saja.

Jika dilihat dari jembatan, pengunjung tidak akan sadar bila di bawah jurang sana terdapat sebuah curug yang sangat cantik dengan alirannya yang begitu deras. Begitu pula sebaliknya, jika pengunjung sudah turun ke dasar sungai sana, barulah sadar karena Curug Sumba ini berada persis di bawah jembatan namun tertutup bebatuan yang cukup besar.

Salah satu hal yang menarik dari aliran sungai ini adalah dasar sungai beserta dinding-dinding di samping kanan kirinya ini mirip dengan aliran lava dari gunung yang entah berasal dari mana (saya mengira mungkin dari Gunung Slamet) sehingga membentuk lekukan-lekukan cantik nan alami dengan berbagai bentuk yang unik. Selain itu bebatuan sungai ini begitu halus bak diamplas dengan begitu rapinya. Sekilas malah mirip sebuah sungai buatan lengkap dengan bebatuannya.

20160717_1421111

Seratus meter dengan jalanan rusak berbatu

Setelah puas melihat sungai, kami pun langsung bergegas menuju lokasi utama Curug Sumba. Sebelumnya kami harus menuruni jalan setapak di pinggir sawah dengan bagian kiri kami berupa jurang dengan dasar sungai sebagai pemandangannya. Perlu tenaga ekstra hingga perjuangan untuk menuruni jalan setapak yang terkadang sangat licin ini.

Dari kejauhan titik-titik merah terlihat yang jika dilihat lebih jeli lagi adalah beberapa pengunjung yang sedang menikmati keindahan Curug Sumba ini. Di lokasi Curug Sumba ini sebenarnya terdapat dua buah curug namun yang satunya dipenuhi sampah karena sepertinya aliran airnya melintasi pemukiman warga di atas sana sehingga aneka sampah pun ikut terbawa.

20160717_1336221

Curug lainnya yang banyak sampahnya

Kesan pertama saat melihat Curug Sumba ini adalah hijau, ya aliran air di bawahnya berwarna hijau toska dan untungnya airnya begitu jernih sehingga beberapa pengunjung tergoda untuk berenang. Saya tidak bisa membayangkan jika kami berkunjung saat musim penghujan, mungkin kami hanya bisa melihat dari kejauhan karena aliran air curug ini langsung jatuh ke aliran sungai yang cukup lebar dan deras. Beruntunglah, saat ini masih masuk musim kemarau sehingga kami bisa lebih dekat melihat langsung sosok Curug Sumba ini.

Satu hal yang membuat saya suka dengan curug adalah rasa damai seiring suara aliran air yang jatuh dari ketinggian serta kesunyian alam. Pengunjung siang itu lumayan tidak terlalu ramai, selain lokasi wisata ini belum terlalu dikelola oleh pemkab setempat, alasan lain juga karena akses jalan yang masih rusak sehingga pengunjung enggan ke sini sepertinya.

Setelah puas beberapa kali berfoto, kami pun mengakhiri perjalanan minggu siang itu di kota Purbalingga Perwira.

19 thoughts on “Pesona Sumba di Kota Perwira

  1. iyoskusuma

    Jadi ga nyesel ya puter balil motor? Hehe. Nampak menenangkan duduk di pinggir sungai kecil yang pertama. Kol ga tergoda buat nyebur?

    Reply
    1. Hendi Setiyanto Post author

      itu ada di kabupaten Purbalingga, tapi ya masih lumayan terjangkau juga sih.
      tapi terkadang pengin gitu ke pantai karena terbiasa tinggal di gunung kayak gini jadi sering kangen pantai.
      iya itu sungai tercantik yang pernah aku lihat sih sampai detik ini.

      Reply
  2. Rifqy Faiza Rahman

    Kadang asyik gitu bisa nyempetin mampir ke tempat wisata yang tak terduga dan tak direncanakan sebelumnya, kadang memenuhi ekspektasi, kadang tidak hehehe. Suka banget sama bentuk bebatuannya yang tampak liat dan kinclong πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply to iyoskusuma Cancel reply