Mengunjungi Tanah Para Dewa Bersemayam

Jalan menanjak dan berkelok tidak menjadi penghalang ketika tujuan perjalanan jelas…ya kami menuju tanah para dewa yang berada di atas awan dan deretan pegunungan yang mengelilinginya. Dieng, sebuah tempat yang berhawa sejuk dengan pemandangan alam yang luar biasa. Rasanya saya berada di sisi lain negeri ini, padahal ini masih masuk wilayah kabupaten Banjarnegara tempat saya dilahirkan dan dibesarkan.

Sebuah penggalan lagu anak–anak di atas rasanya pas untuk menggambarkan perjalanan yang kami lewati siang itu. Walaupun sepanjang jalan kami jarang menemukan pohon cemara yang berjejer rapi  di kanan kiri. Yang ada hanyalah tanaman sayur mayur berupa kentang, kubis, wortel, daun bawang serta tanaman tembakau yang sengaja ditanam penduduk sekitar.

Cuaca siang itu tidak terlalu dingin untuk ukuran saya yang terbiasa tinggal diwilayah yang berbukit–bukit. Karena saat ini masih musim kemarau, banyak penduduk sekitar yang terlihat sedang membawa selang air untuk menyalurkan air dari sumur ke lahan pertanian mereka.

Pemberhentian pertama kami adalah di gardu pandang desa Tieng yang berada pada ketinggian +/- 1789 meter di atas permukaan laut. Motor kami parkir persis di bawah sebuah bangunan gardu pandang. Di samping kiri dan bawah bangunan terdapat beberapa  kios yang menjual aneka macam baju hangat, syal dan makanan ringan khas Dieng yaitu tempe kemul dengan teman gorengan kentang yang empuk.

Selangkah dua langkah kaki ini menaiki anak tangga gardu pandang yang sedikit melingkar. Di depan kami terlihat beberapa remaja yang sedang asyik bercengkrama dengan temannya. Dengan menenteng sebungkus tempe kemul dan gorengan kentang, temanku naik ke atas gardu pandang sambil menawarakan bungkusan tadi.

Hmmm…sejauh mata memandang terlihat rumah–rumah penduduk yang terlihat kecil jika dilihat dari atas. Selain itu lahan pertanian di punggung dan lereng bukit bak permadani yang menutupi sebagian besar dataran tinggi. Hawa sejuk udara pegunungan serta semilir angin yang berhembus membuat suasana yang cerah siang itu bagaikan harmoni melodi yang indah. Satu kata untuk menggambarkan keadaan siang itu…”pas banget”..tidak panas tidak juga dingin.

Setelah menghabiskan tempe kemul dan gorengan kentang sambil mengabadikan pemandangan yang luar biasa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Sebelum kami pergi, jangan lupa bayar parkir kendaraan. Ya… cuma Rp 2,000,- saja, padahal saya pikir tidak ada tarikan parkir di sini hehehe.

Medan di depan kami terus menanjak dengan jalan yang masih berkelok–kelok hingga kami sampai di depan sebuah gapura selamat datang di kawasan wisata Dieng. Ahh…berarti tujuan kami sudah semakin dekat di depan sana. Tidak lupa saya  berhenti sejenak dan turun dari motor untuk berfoto dengan latar belakang gapura tadi.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah kawasan wisata candi Dieng yang terdiri dari beberapa candi dan sisa pondasi bangunan asrama untuk menuntut ilmu agama pada jaman dahulu ya namanya Dharmasala. Untuk bangunan candi sendiri ada beberapa yang masih utuh berdiri di sekitar komplek candi Arjuna.

Untuk memasuki kawasan komplek candi Arjuna, pengunjung harus membayar tiket masuk terusan [masuk candi arjuna dan pintu masuk telaga warna] sekitar Rp 10,000,-/orang. Hmm…dan lagi..lagi jangan lupa bayar parkir, bila dihitung total untuk biaya parkir selama sehari berkeliling sekitar Rp 20,000,- . Begitulah resiko membawa kendaraan sendiri ketika pergi ke tempat wisata yang banyak pengunjungnya.

Karena siang itu komplek candi Arjuna penuh sesak oleh pengunjung yang sedang berekreasi, kami memilih jalan kaki beberapa ratus meter menuju ke museum Dieng Kaliasa dan Dieng Volcanic Theater. Tiket masuk menuju ke dua lokasi wisata tadi adalah Rp 5,000,-/orang.

Untuk bangunan dibawah Dieng Volcanic Theater dijadikan tempat penyimpanan berbagai macam arca serta patung dari komplek candi Arjuna. Sementara itu di Dieng Volcanic Theater sendiri terdiri dari museum mengenai sejarah dieng dari sejak awal ditemukan hingga sekarang.

Menurut saya cara penyajian dan tata letak museum ini unik, dengan dibuat melingkar mengikuti bentuk bangunan serta bertingkat–tingkat. Di bagian atas dan tengah bangunan utama sendiri dijadikan sebagai ruangan tempat memutar video dokumenter tentang sejarah Dieng.

Ekspektasi awal saya, pemutaran film dokumenter tentang Dieng akan berlangsung lama dan banyak yang menonton. Akan tetapi ternyata kebalikannya, siang itu cuma ada empat orang pengunjung termasuk kami berdua yang menonton film dokumenter. Mungkin orang pada tidak tertarik dengan yang namanya museum..hmmm..padahal menurutku museum itu sangat menarik untuk dilihat.

Setelah puas [cukup] melihat film dokumenter, kami baru mengunjungi komplek candi Arjuna. Lumayanlah siang itu pengunjung sudah sedikit berkurang jadi ketika ingin memfoto obyek candi tidak terganggu dengan banyaknya pengunjung. O ya..hampir disetiap obyek wisata di kawasan Dieng ini pasti selalu saja ada boneka Teletubbies yang menjadi pusat perhatian para keluarga dan anak–anak untuk berfoto bersama. Tentunya harus bayar terlebih dahulu ketika ingin berfoto bersama mereka hehehehe lucu juga tapi saya tidak ikutan berfoto.

Sekitar pukul 14.00 siang, kami melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu ke telaga warna. Di tengah perjalanan kami mampir sejenak di candi Bima sambil menikmati rumput hijau yang terhampar di sisi belakang bangunan candi. Adem rasanya tiduran di atas rumput sambil beratapkan awan biru yang cerah. Untungnya kami masih punya rasa malu dan tidak bergaya seperti video Syahrini ketika liburan diEropa dengan taglinenya I feel free hahaha. Lagi …lagi dan lagi motor kami yang terparkir di pinggir jalan harus kena biaya parkir huhuhu.

5 thoughts on “Mengunjungi Tanah Para Dewa Bersemayam

  1. Pingback: Pecel Punya Cerita | NDAYENG

    1. Hendi Setiyanto Post author

      tapi bikin ngeri-ngeri sedap saat kabut pekat mengganggu jarak pandang hmmm…mengendarai dengan posisi jurang yang tertutup kabut itu ngeriiiii

      Reply

Leave a Reply